Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck; Novel Cinta yang Penuh Derita

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah sebuah novel yang mengangkat cerita tentang dua anak muda yang saling merindu tetapi tidak bisa menyatukan cinta mereka.

Tersebutlah seorang pria muda bernasib malang bernama Zainuddin. Lahir dari seorang ayah, mantan pembunuh bergelar Pandekar Sutan yang harus menjalani hukuman jauh dari kampung halaman, di tanah Jawa. Ibunya seorang perempuan berdarah Mengkasar (Makassar). Semenjak kecil, setelah ditinggal kedua orang tuanya, Zai—demikian saya memanggilnya, ketimbang Udin—ia diasuh oleh Mak Base. Meski ayah Zai punya masa lalu kelam, tetapi begitu menikah, tabiatnya berubah kembali ke awal, sangat lunak hati, dilupakannya sudah sifat kasarnya akibat berkawan dengan para kriminal.

Begitu mendengar asal usulnya, tergeraklah Zai untuk kembali ke tanah kelahiran sang ayah, karena ia pun sulit menjadikan dirinya sebagai pria Mengkasar.

“Sempit rasanya alam saya, Mak Base, jika saya masih tetap juga di Mengkasar ini. Ilmu apakah yang akan saya dapat di sini, negeri begini sempit, dunia terbang, akhirat pergi. Biarlah kita sempurnakan juga cita-cita ayah bundaku. Lepaslah saya berangkat ke Padang. Kabarnya konon, di sana hari ini telah ada sekolah-sekolah agama.” (hlm. 22)

Kembali ke akar, itulah tujuan utama Zai berlayar sekian jauh kembali ke tanah Sumatra. Malang lagi dan lagi menimpa dirinya. Darah campuran yang ada di dalam dirinya membuat Zai dipandang sebelah mata. Konon, saat itu (setting cerita sekitar tahun 1920-an), orang-orang minang di daerah pedesaan, masih belum mengakui adanya pernikahan berbeda suku setara dengan berbedaan sesama suku Minang.

Untungnya, kesedihan Zai terobati dengan kehadiran Hayati (jika ketika memvisualkan sosok Zai, saya langsung teringat dengan Herjunot Ali, untuk tokoh Hayati, saya kok malah membayangkan Adinia Wirasti ya?). Keduanya mulai sama-sama terkesan ketika suatu malam, hujan turun dengan lebatnya, lalu sebagai pria sejati, si Zai ini meminjamkan payungnya pada Yati.

Atuan adat yang ketat, membuat Zai dan Yati hanya bisa kirim-kiriman surat, mana boleh berdua-duaan seperti zaman sekarang. Zai adalah seorang pria yang lembut hatinya, terlihat dari surat-surat yang ia kirimkan pada Yati.

Sahabatku Hayati

Gemetar, Encik! Gemetar tanganku ketika mula-mula menulis surat ini. Hatiku memaksaku menulis, banyak yang terasa, tetapi setelah kucecahkan penaku ke dawat, hilang akalku, tak tentu dari mana harus kumulai. (hlm. 40).

Yang memulai surat-suratan itu adalah Hayati (oh rupanya zaman dahulu, perempuan pun berani mengambil langkah lebih dulu), dititipkan kepada adik Hayati yang hendak mengembalikan payung. Bahasanya memang manis, dan menyenangkan. Maka wajar jika kemudian si Zai pun untuk membalas surat pun sampai gemetar tangannya.

Lama hubungan mereka berjalan, restu orang tua tak juga didapat, malah menjadi pemicu munculnya fitnah, Zai memutuskan pergi mengadu nasib ke Padang Panjang. Namun, untuk menjadi “orang”, caranya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ketika keduanya bertemu di suatu acara pacuan kuda, masihlah pakaian Zai sederhana, dengan khas Bugis. Padahal kala itu, Padang Panjang-adalah tempat yang mulai tersentuh dengan gaya Belanda. Busana-busananya berkelas. Para perempuan mulai bangga dengan mengenakan busana dengan dada setengah terbuka, bahkan Hayati pun demikian. Namun Zai tidak menyukai jika gadis yang dicintainya mengenakan pakaian terlalu seksi, di dalam surat untuk Yati, dia mengatakan begini:

Hayati! Apa yang saya lihat kemarin? Mengapa telah berobah pakaianmu, telah berobah gayamu? Mana baju kurungmu? Bukankah Adinda orang dusun! Kemaren, Adinda pakai baju yang sejarang-jarangnya, hampir separoh dada Adinda kelihatan, sempit pula gunting lengannya.

Jangan marah, Hayati. Kau hanya buat aku seorang, bukan buat orang lain. (hlm. 88).

Yati di satu sisi, tidak nyaman dengan busana ala orang kota yang begitu terbuka, tapi di sisi lain, ia ingin tampil beda. Terlalu mudah Khadijah mengubah cara berpikirnya, termasuk bahwa untuk memilih pasangan hidup pun harus dilihat seberapa banyak hartanya.

Zai ingin sekali menikahi Yati, tapi terlalu banyak pertentangan yang siap menahan langkahnya. Soal garis keturunan, kekayaan, masa depan. Sementara hatinya sedemikian menggebu-gebu ingin memiliki Yati.

Apa mau dikata, saat itu, melawan tradisi adalah misi besar yang sangat sulit untuk dimenangkan. Pihak keluarga Yati lebih cenderung menikahkan Yati dengan pria kaya dan keturunannya jelas. Zai terlalu banyak berharap hingga berpengaruh pada kesehatannya. Jatuh sakitlah ia, tapi dahulu belum dikenal istilah depresi. Dua bulan lebih ia terbaring di tempat tidur, memanggil-manggil Yati, tapi Yati sudah jadi milik orang.

Kandas percintaan, Zai mencari pelarian. Jika tidak bisa ia mencintai Yati di dunia nyata, maka di dalam hikayat-hikayat yang ditulisnyalah ia bisa menuntaskan rasa ingin berkasih-kasihan. Cintanya hanya untuk Yati seorang. Tidak sedikit pun Zai berharap pernikahan Yati bakal bubar di tengah jalan. Zaman dulu, kan belum ada kata bijak: kutunggu jandamu.

Hikayat-hikayat Zai sangat digemari, jadilah ia penulis terkenal, sukses, kaya raya, tapi jomblo (ups!). Demi usaha untuk move on karena sakitnya tuh di sini melupakan Yati, pindahlah ia ke Surabaya. Dan terus mengeluarkan karya-karyanya yang sangat menarik Yati, diungkapkannya pada Khadijah:

Saya baca cerita itu sampai habis, sehingga dengan tidak saya rasai, buku itu telah basah oleh air mata. (hlm. 161)

Zai dan Yati kemudian bertemu lagi di Surabaya. Sori agak intermezzo, ketika membaca bagian ini, saya semacam teringat dengan film Great Gatsby, di mana si Jay yang awalnya berpacaran dengan Daisy harus terpisah karena Jay dikirim untuk perang. Lama tak memberi kabar, Daisy pun dilamar seorang pria kaya hingga mereka punya anak. Jay kembali dengan kekayaan melimpah ruah, ia tinggal di seberang rumah keluarga Daisy yang di tengah-tengahnya ada danau.

Pertemuan tak terduga antara Zai dan Yati, melah diberi angin segar oleh suami Yati. Si suami yang tengah berada di ambang kepailitan, malah dengan besar hati mengizinkan istrinya kembali pada mantan pacarnya.

Di luar dugaan, Zai ternyata menolak Yati dengan alasan bahwa ia sudah menganggap Yati mengkhianati cinta mereka entah juga karena Yati udah pernah nikah sebelumnya menjadi alasan yang tidak diungkapkan Zai secara terus terang.

Saya hanya menuruti kata-katamu. Bukankah engkau minta di dalam suratmu supaya cinta kita itu dihilangkan dan dilupakan saja, diganti dengan persahabatan yang kekal? (hlm. 197)

Sikap Zai membuat saya gemas setengah mati. Jelas sekali ia menderita kehilangan Hayati, bahkan saking dalamnya perasaan, ketika nelangsanya dituangkan ke dalam cerita, pembaca pun dalam merasakan kesan yang sama. Tapi itulah Zai, sikapnya sulit ditebak.

Karakter Zai sangat berperan pada jalannya cerita. Sisi romantismenya, kemuraman yang tidak ada habisnya, namun tetap mempunyai semangat untuk bangkit beradu padu mengantarkan alur cerita dan konflik. Gaya bahasa novel ini kental dengan logat Minang, beberapa kosakatanya bahkan jujur saya tidak paham, tapi bukan masalah besar, mengingat Hamka adalah seorang sastrawan pujangga baru.

Jika konon katanya novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck pernah tersandung kasus plagiasi, saya tidak begitu ambil pusing. Terlalu banyak karya sastra yang memiliki kemiripan premis, namun ternyata pengambilan eksekusinya berbeda sama sekali. Dan semakin banyaknya karya sastra maka semakin besar kemungkinan memiliki kesamaan antara satu dengan lainnya.

 

Jogja, 26 Oktober 2014

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response