The Bold Type (2017-); Kisah 3 Perempuan di Kantor Majalah Scarlet

The Bold Type (2017-); Kisah 3 Perempuan di Kantor Majalah Scarlet
The Bold Type (2017-). Sumber gambar: IMDB.

Saya dapat rekomendasi serial ini dari teman yang pengin nonton tapi apa daya The Bold Type tidak siar di Netflix, tapi menjadi hak siar Hulu, notabene tidak eh belum sebegitu terobsesi melebarkan sayap. Buat yang suka dengan serial TV seputar dunia majalah untuk konsumsi kaum perempuan sejenis Cosmopolitan, boleh jadi akan suka, boleh jadi juga tidak suka.

Scarlet adalah sebuah majalah legendaris di New York, sudah ada sejak 60 tahun lalu, mempertemukan 3 perempuan penuh semangat; Kat Edison, Sutton Brady, Jane Sloan hingga menjadi sahabat banget sejak mereka pertama bekerja di sana. Tidak penting siapa yang lebih dulu masuk. Jauh lebih penting adalah apa pengaruh mereka pada Scarlet yang dipimpin oleh seorang perempuan separuh baya bernama Jacqueline Carlyle. Kalau nonton serial Supergirl, kurang lebih tipenya sama, perempuan tangguh seperti Cat Grant, tidak banyak disorot kehidupan pribadinya. Sampai episode 4, saya nonton sampai situ saja deh, Jacquelin belum kelihatan suka laki apa perempuan. Hey itu penting. Love is big matter, you know.

Saya singgung sedikit tentang 3 tokoh dominan dalam The Bold Type. Barangkali ada satu yang membuatmu jadi tertarik nonton, karena saya sendiri tidak begitu memfavoritkan. Saya sudah terlalu tua untuk serial anak muda macam ini.

Jane Sloan

Jane mendapat promosi sebagai penulis di Scarlet karena sang atasan menilai, dia memang pantas mendapatkan kenaikan level. Kehidupan percintaannya tidak terlalu menarik untuk diumbar. Dia putus dari pacar di stasiun kereta dan belum pernah merasakan orgasme. Sebagai awal, Jacqueline memintanya menulis hal-hal remeh yang mengekspos hal memalukan tadi. Walaupun perempuan tidak merasakan orgasme bukan salah perempuan juga kali. Salahkan juga dong pasangan yang mainnya cuma bentar. Untuk membuktikan bahwa dirinya seorang penulis yang baik, Jane berusaha bagaimana caranya agar bisa menyerahkan artikel yang baik. Menjadi jujur adalah hal sulit. Tapi berhasil jujur adalah sebuah kehebatan. Buktinya, Jacqueline menyukai tulisan Jane.

Sutton Brady

Lebih beruntung soal percintaan karena dari episode pertama sudah dapat adegan mesra. Eh, maksudnya soal hubungan begituan, dia tidak ada masalah. Hanya saja, dia menjalin hubungan dengan seorang petinggi Scarlet bernama Richard Hunter sehingga harus rapat-rapat menyembunyikan kemesraan. Di Scarlet, dia menjabat asisten fashion editor bernama Laureen, sebenarnya orang menyenangkan, kecuali mood-nya sedang jelek. Saya mengira Sutton adalah nama belakang, ternyata nama depan. Dia ini punya passion kuat pada fashion dan mencoba menaikkan levelnya ketimbang mandek hanya jadi asisten yang disuruh-suruh bikin jus hijau oleh Laureen dan menjawab telepon masuk.

Kat Edison

Seorang keturunan Afro-Amerika yang berjiwa feminis, atraktif, dan menguasai media sosialnya Scarlet. Adakalanya, kekalutan yang dirasakannya ingin ditumpahkan pada twitter, tapi adakalanya dia harus menahan diri dan memaksakan pemakluman. Sebab, cuitannya merepresentasikan brand perusahaan. Termasuk ketika dia mengkritik tentang kacamata VR yang seksis. Komentar yang kontra berdatangan menyerangnya dan cukup membuatnya tersudut.

Bukan itu kisah Kat yang menarik (saya), melainkan kedekatannya dengan seorang perancang lesbian dan muslim dari Timur Tengah bernama Adena El-Amin. Muslim lesbian atau lesbian muslim, barangkali ini akan jadi hal yang akan sering diangkat dalam serial-serial TV ke depannya. Saya nggak paham kenapa tidak lesbiannya saja yang disebut atau muslimnya saja yang disorot. Kenapa kalau tokohnya lesbian beragama lain, tidak menjadi perkara? Apa bedanya lesbian muslim dengan lesbian Yahudi dengan lesbian Kristen atau lesbian kejawen atau lesbian ateis sekalipun? Oke, oke, terserahlah.

Kat mengakui dirinya straight sampai dia mengenal sosok Adena. Oh ya, si Adena ini pernah main di film Iran bertema lesbian Circumtance. Sambil nonton saya mencari tahu di IMBD siapa pemeran Adena. Barulah saya melihat filmografinya dan ternyata hanya itu film dia yang pernah saya tonton.

Untuk merepresentasikan keislaman Adena, maka tokohnya dipakaikan hijab. Yah walaupun bukan yang umum menutupi seluruh aurat ya. Yang tahu agama pasti ngerti ya maksud saya. Dan sebenarnya seorang muslim pun tidak berhijab juga tetap muslim. Nggak shalat dan nggak puasa aja juga masih muslim tho? Ya, masih, lah! Eh, kok nyolot ya?

Tapi buat saya, karakter Adena ini memang hanya untuk mengisi slot “wajib keberagaman” dalam sebuah serial TV Amerika. Tidak begitu kuat dan nggak ada juga nggak masalah. Kurang gay kalau menurut saya. Tonton sendirilah kalau tidak percaya. Di satu sisi dia pengin mengesankan liberal, di satu sisi dia pengecut. Sorry not sorry. Masih bagusan juga aktingnya Adinia Wirasti kalau jadi lesbian. Total. All out.

Masih ada tokoh-tokoh lain yang juga ikut meramaikan The Bold Type. Ada cameo-cameo selebriti papan atas juga yang muncul ketika hari perayaan ulang tahun Scarlet ke-60.

Jogja, 13 Agustus 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response