The Bourne Legacy (2012); Film Agen CIA yang Pembunuh Bayaran

The Bourne Legacy (2012). Sumber gambar: IMDB

Kemunculan Jeremy Wenner (Hansel & Gretel Witch Hunters, The Avengers, Arrival) sebagai pengganti Matt Damon dalam The Bourne Legacy buat gue tidak mengecewakan. Selain dia kurang lebih memiliki kematangan dalam berakting, tampangnya juga tidak kalah ganteng dengan Damon. Gue nggak begitu inget apakah gue udah pernah nonton 3 film Bourne yang sebelumnya apa belum, yang pasti ini jadi alasan kenapa gue nggak begitu ngeh sama jalan cerita The Bourne Legacy.

The Bourne Legacy secara garis besar berkisah tentang agen mata-mata CIA yang diprogram sebagai pembunuh dengan skill luar biasa. Nah, skill itu didapatkan dengan adanya obat-obatan khusus yang disuntikkan ke dalam tubuh si agen plus diminum secara rutin sehingga menjadi ketergantungan. Kalau nggak minum obat itu, si agen bakal seperti orang-orang kebanyakan yang mengenal rasa sakit dan empati. Gambaran itulah yang diperlihatkan pada bagian awal film di mana seorang agen bernama Cross bisa bertahan hidup di Alaska dengan hanya mengonsumsi 2 jenis obat, berwana biru dan hijau.

Tetapi kemudian, Cross kehabisan cadangan obat-obatannya dan mau tidak mau ia harus mencari orang yang bisa menyuplai sumber energinya itu. Ia akhirnya bertemu dengan sesama rekan dari Project Outcome yang sangat pelit informasi. Tapi sedikit banyak ia tahu bahwa semua proyek ilegal yang berhubungan dengan para agen pembunuh berdarah dingin akan ditutup.

Cross kemudian mencari tahu ada apa sebenarnya dan mulai curiga dengan berita kematian para agen yang tragis hingga pembunuhan para ilmuwan di laboratorium rahasia milik CIA hingga menyisakan Dokter Marta Shearing (si Rachel Weisz). Cross kemudian berusaha melindungi sang dokter dari kejaran orang-orang CIA. FYI, 30 menit pertama, penonton sudah dimanjakan dengan berbagai warna adegan laga yang bikin gue deg-degan sendiri. Teknik sinematografinya emang hebat dan terlihat nyata plus suara yang menggelegar. Nggak cuma itu, bagi yang tahu parkour, akan sangat senang dengan film ini., salah satunya diperagakan ketika Cross memanjar rumah Shearing dengan mudah.

Bagian laga yang juga menurut gue perlu diacungi jempol adalah adegan kejar-kejaran motor antara Cross yang memboncengkan Shearing dan dikejar oleh musuhnya yang agen dari Thailand. Itu wow banget dan salut sama stuntman yang melakukannya. Iyalah, Rachel Weisz mana bakal berani melakukan adegan keseret mobil sendirian, atau paling enggak pas jatuh dari motor. Itu pasti sakit banget hahaha.

Film ini, dari bebrapa artikel yang gue baca, menghabiskan dana sampai jutaan dolar alias milyaran rupiah. Menurut tebakan gue, salah satunya habis untuk syuting di beberapa negara, seperti Alaska, Korea, Pakistan, Filipina, dan beberapa negara bagian di AS. Tapi bisa juga tebakan gue salah dan ternyata mereka hanya menggunakan setting studio di mana Holliwood sangat jago dalam hal itu. Apa pun itu, totalitas dalam film ini gue acungi jempol dan membuat gue jadi pingin nonton 3 seri Bourne sebelumnya.

Yogyakarta, 2 September 2012