The Chinese Botanist’s Daughters (2006); Film Tentang Romantisme Herbalis

The Chinese Botanist’s Daughters (2006); Film Tentang Romantisme HerbalisThe Chinese Botanist’s Daughters (2006). Sumber gambar: IMDBThe Chinese Botanist’s Daughters (berjudul asli Les filles du botaniste), sudah cukup lama tahu film LGBT ini dan baru sekarang bisa nonton secara keseluruhan. Rating penonton IMDB 6,6. Tertinggal 1 poin dari Saving Face yang 7,6. TCBD bisa dibilang tidak begitu populer meskipun dari segi kemasan ceritanya lebih unggul. Endingnya tidak terduga dan keren, menurut saya.

Kalau pernah nonton Spider Lilies, akan menemukan benang merah yaitu tokohnya korban gempa bumi. Di Spider Lilies, tokohnya adalah seorang tatois, di film ini adalah seorang putri seorang profesor pakar tumbuhan. Min Li adalah seorang gadis dari sebuah panti asuhan yang dikirim untuk memperdalam pengetahuannya tentang tumbuh-tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat, selama satu setengah bulan kepada seorang profesor arogan dan sok disiplin bernama Chen.

Perkenalannya dengan profesor dengan dua anak itu tidak baik karena Min Li menghubunginya malam-malam dan datang terlambat. Kepada putrinya pun, profesor yang punya penyakit jantung ini sama galaknya. Ia tidak mau sarapan kalau sudah lewat jam 07.30 dan minum teh harus dengan air hujan. Pokoknya manja dan menyebalkan. Min Li juga pernah dipermalukan di depan murid-murid si profesor karena salah mengambilkan tanaman yang diminta sang profesor. Untung saja putri sang profesor baik hati. Cantik pula. Namanya An Chen. Ia pun tahu banyak tentang seluk beluk tanaman obat karena didikan sang ayah. An seorang gadis yang lembut dan ramah. Sama sekali tidak memiliki karakter sang ayah. Ia pula yang membesarkan hati Min Li agar tidak terlalu memikirkan ucapan ayahnya yang keras.

Kebersamaan An dan Min Li yang harus pergi ke sebuah kuil untuk mengambil ginseng adalah salah satu episode yang mengantarkan rasa ketertarikan antara keduanya. Min Li mengagumi kecantikan An secara terang-terangan. Diam-diam keduanya pun menjalin hubungan tanpa sepengetahuan ayah An. Tidak ada yang mencurigai, termasuk kakak An yang pulang kampung dan jatuh cinta pada pandangan pertama pada Min Li. Ia pun bermaksud memperistri sahabat adiknya itu. Awalnya Min Li menolak karena ia tidak mungkin mengkhianati An. Tapi An malah mendorongnya untuk menerima lamaran itu agar mereka selalu dekat. Sampai di sini, saya teringat dengan novel Koella di mana tokohnya punya affair dengan sang adik lalu menikah dengan sang kakak. An memang merelakan kekasihnya menikah dengan sang kakak dengan berbagai pertimbangan, tapi tetap soal keperawanan milik mereka berdua.

Hilangnya keperawanan Min Li dipertanyakan oleh Dan. Sang prajurit melakukan tindak kekerasan demi mengetahui siapa yang sudah lebih dulu meniduri istrinya, tapi Min Li tidak sedikit pun mau bicara. Tentu saja hubungan seperti itu bukan sesuatu yang wajar di kalangan pedesaan. Menyerah karena Min Li bungkam, Dan meninggalkan istrinya dengan keadaan babak belur. Tidak diceritakan bagaimana Min Li bisa melarikan kembali ke rumah Chen, yang pasti kepulangannya dengan muka lebam membuat An sedih. Sementara ayahnya merasa itu bukan tindakan yang salah. Tampaknya sang ayah ini sudah mencium ada yang tidak beres antara anak gadisnya dengan si gadis magang, tapi belum menemukan bukti.

Ada satu scene yang saya suka dari The Chinese Botanist’s Daughters, yaitu ketika Min Li menanyakan tentang apa manfaat dari burung merpati yang ada di kuil. Lalu dijelaskan oleh biksu kalau merpati akan mengantarkan harapan seseorang. Lalu Min Li bertanya, berapa banyak merpati yang harus dilepaskan untuk mewujudkan harapan bagi dua orang yang saling cinta.

Saya menyukai settingnya, sebuah pedesaan yang harus ditempuh dengan naik sampan terlebih dahulu. Si profesor memiliki rumah khas pedesaan dengan kebun yang sangat luas. Ada pula ruangan khusus menyimpan bibit tanaman. Ada pula ruangan yang dipakai An untuk berhalusinasi ria yang kemudian menjadi tempat keduanya memadu kasih.

The Chinese Botanist’s Daughters tidak memperlihatkan adegan di ranjang yang menggebu dan penuh peluh layaknya film-film Hollywood. Tapi beberapa adegan memang dibuat begitu seksi, mulai dari An yang menginjak-nginjak adonan yang beruap lalu bajunya basah oleh keringat, lalu Min Li menyirami kakinya dengan air. Ada pula adegan An sedang tertidur dengan kepala bertelekan siku dengan hanya sehelai kain menutupi daerah pinggang. Kemudian menjelang keduanya kegep oleh sang profesor juga adegan yang cukup panas tanpa busana. Mimik wajah An yang begitu cemburu pun menjadi nilai seksi tersendiri terlebih ia tidak sampai berakting layaknya bintang sinetron yang alay kalau lagi cemburu.

Trailer The Chinese Botanist’s Daughters:

Jogja, 18 April 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response