The Dark Tower (2017); Perjuangan Mempertahankan Menara Hitam

The Dark Tower (2017); Perjuangan Mempertahankan Menara Hitam
The Dark Tower (2017). Sumber gambar: IMDB.

Sebuah menara berdiri di pusat alam semesta melindungi kita dari kegelapan. Dikatakan bahwa pikiran seorang anak bisa meruntuhkannya.

 

Dirilis sudah dari Agustus lalu, The Dark Tower akhirnya masuk daftar film yang mau saya tonton juga berhubung film bajakan terbaru lainnya nggak banyak yang menarik bahkan melihat iklannya saja belum pernah.

Diangkat dari novel The Dark Tower karya Stephen King, saya sempat melihat iklannya di bioskop. Genrenya adventure-fantasy, tidak seperti IT dan beberapa karya beliau lainnya yang bergenre horor. Durasinya cukup pendek, hanya 95 menit saja. Memasang sejumlah aktor papan atas seperti Matthew McConaughey (The Wolf of Wall Street)  sebagai Walter dan Idris Elba (Star Trek: Beyond) sebagai Roland alias gunslinger, penembak jitu yang berusaha menghentikan langkah Walter merubuhkan The Dark Tower. Sementara untuk tokoh cenayang cilik Jake Chamber diperankan oleh Tom Taylor. Saya suka gaya rambut anak ini. Mengundang untuk dijambak. Sori, bercanda.

Meruntuhkan The Dark Tower yang berdiri kokoh akan membuka pintu kejahatan. Setiap usaha peruntuhan itu akan berdampak pada Keystone Earth alias bumi yang dihuni Jake Chamber, bumi manusia eh kok kayak judul novel, yaitu gempa bumi dahsyat. Dibutuhkan anak-anak dengan kelebihan khusus untuk menyukseskan ambisi Walter yang jelas dalam isi kepalanya adalah kejahatan belaka. Termasuk Jake Chamber sangat berpotensi sehingga dia diincar untuk dimanfaatkan kemampuannya.

Dari mimpi-mimpinya, Jake melihat banyak hal lalu digambarkannya dan ditempelkannya di dinding kamar. Tidak ada yang memahami dirinya, bahkan kedua orang tuanya. Dia bahkan akan dibawa ke sebuah klinik untuk menjalani pemeriksaan. Dalam mimpinya dia melihat Men in Black alias Walter, anak-anak yang disiksa, The Dark Tower, orang-orang berkulit palsu, dan tentu saja sosok pahlawan gunslinger yang makin lama makin habis dibantai Walter yang sangat mudah membunuh.

Naskah hasil adaptasi Akiva Goldsman, Jeff Pinkner, Anders Thomas Jensen, dan Nikolaj Arcel (merangkap sutradara) rupanya tidak menjadi semegah yang saya bayangkan, yang seharusnya penuh dengan efek-efek gambar menakjubkan, adegan pertarungan yang mengagumkan dan sebagainya. Malahan pace yang begitu lambat membuat saya menonton dengan menyambi nonton IG stories. Boleh jadi mengadaptasi novel setebal seribu halaman memang bukan perkara mudah, memilihi adegan-adegan yang akan dipakai dengan adegan yang dibuang butuh konsentrasi penuh. Belum lagi, berhubung saya suka banget sama rambutnya Jake Chamber, saya memperhatikan dan ujung-ujungnya menemukan masalah dengan kontinuitas. Pertama rambutnya kelihatan berantakan, kemudian jadi rapi jali.

Tapi di luar itu semua, film ini ingin memperlihatkan bahwa kemampuan melihat dunia lain di luar akal sehat bukan sesuatu yang pantas dianggap sebagai kegilaan. Mereka tidak sepatutnya dihadapkan pada psikiater yang memandang berpegang pada rasionalitas lalu meresapkan obat agar itu hilang. Anak seperti Jake Chamber tentu saja ada, mereka terkurung dalam pikiran mereka, sulit mencari orang-orang biasa yang memahami mereka, tanpa berniat memanfaatkan kemampuan mereka untuk hal-hal yang salah.

 

Jogja, 30 Oktober 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response