The Dressmaker (2015); Film Pembalasan Dendam Seorang Anak yang Malang

The Dressmaker (2015); Film Pembalasan Dendam Seorang Anak yang Malang
The Dressmaker (2015). Sumber gambar: IMDB

Kate Winslet didapuk menjadi pemeran utama di film The Dressmaker. Seorang pembuat baju sukses yang memiliki masa lalu sangat menyedihkan. Sebuah tuduhan pembunuhan dituduhkan kepadanya. Dia menjalani tahun-tahun berat jauh dari sosok sang ibu. Myrtle Dunnage kembali sebagai seorang pembuat baju dengan karya-karyanya yang menakjubkan bagi para tetangganya yang tinggal di sebuah daerah gersang di Australia. Gayanya pun layaknya keanggunan seorang perempuan Prancis. Tubuh sintalnya membuat kaum lelaki hilang konsentrasi saat bertanding rugby.

 

Kali ini, Kate harus menekan logat British-nya demi peran. Ia punya pelatih dialek Australia yang membuatnya berhasil membawakan logat Australia semaksimal mungkin. Sebenarnya saya pun tidak bisa membedakan keduanya logat tersebut. Namun di IMDB, tidak ada yang mempermasalahkan logat Kate.

Pembalasan dendam Myrtle berawal dari kejadian sekian tahun silam. Kematian seorang bocah teman sekolahnya langsung berujung pahit. Anak itu dibunuh oleh Myrtle, tanpa ada bukti yang benar-benar pasti. Tudingan anak yang terkutuk pun terarah padanya. Dia kemudian dijauhkan dari orang tuanya, dibawa dari satu negara ke negara lainnya. Begitu kembali, penduduk desa itu memandangnya dengan penuh curiga. Mereka sengaja menjaga jarak. Myrtle tak peduli. Dia datang ke rumah sang ibu yang dianggap sudah gila. Hidupnya diurus beberapa orang baik. Rumahnya berantakan. Anak yang berbakti itulah yang berusaha membuat ibunya mengingat dirinya. Sambil terus mendesak agar membantunya ingat akan peristiwa sekian tahun silam. Myrtle tidak bisa mengingatnya.

Sambil menemani sang ibu, Myrtle membuat baju-baju yang membuat orang tercengang. Orang-orang pun mulai datang karena ada maunya. Kecuali Teddy McSwiney (Liam Hemsworth). Pemuda sebaya Myrtle yang datang karena urusan hati.

Cukup lama saya menunggu kepastian bahwa Myrtle tidak bersalah. Dia adalah korban dari pihak-pihak yang sengaja ingin menyingkirkannya. Tapi apa pula alasannya. Dia bukanlah anak yang menonjol. Dia malah sering dikerjai teman-temannya. Terlebih dia sama sekali tidak bisa mengingat apa yang menimpanya. Film yang diangkat dari novel karya Rosalie Ham dan disutradarai oleh Jocelyn Moorhouse ini ibarat solar yang panasnya cukup lama. Myrtle tidak mampu menjadi tokoh kuat dan membalikkan keadaan dalam waktu singkat. Saya nyaris berhenti menonton film ini karena menunggu kejutannya.

Perlahan-lahan jawaban pun dikuakkan. Maka menguak pula puluhan rahasia lain yang berkaitan dengan tokoh-tokoh lain. Mulailah kita bisa memilah mana tokoh baik dan tokoh jahat yang menjadi target pembalasan dendam si pembuat baju. Kejutan demi kejutan datang beruntun dan tidak tanggung-tanggung. Kematian menjadi kesedihan yang mendalam. Cinta yang harus padam ketika masih berkobar-kobar. Kesal juga. Sepertinya si penulis cerita tidak sayang pada Myrtle. Bukan hanya satu kematian, tapi dua kematian beruntun.

Tapi rupanya itulah yang justru membuat Myrtle ingin segera menuntaskan pembalasan dendamnya. Baru setelah itu dia pergi jauh, meninggalkan segala kepahitan di belakang. Haru dan kesedihan mewarnai jelang akhir film ini. Tidak ada manusia yang ingin menanggung dosa yang tidak dilakukannya. Tangannya kotor meski tidak melakukan sesuatu yang salah. Namanya tercoreng tanpa bisa dibersihkannya. Seluruh cemooh tertuju kepadanya. Sampai keadaan itu berbalik, barulah keadilan benar-benar ada.

Trailer The Dressmaker:

Jogja, 22 Mei 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response