The Fate of the Furious (2017); Film Tentang Pembelotan Dominic Toretto

The Fate of the Furious (2017); Film Tentang Pembelotan Dominic Toretto
The Fate of the Furious (2017). Sumber gambar: IMDB

Di tengah-tengah keasyikan membuat postingan bahasan-bahasan cerpen #KFE2017 yang harus tayang maraton selama 16 hari, godaan duniawi memang begitu banyak. Serial-serial kesayangan saya bermunculan musim terbarunya. Mulai dari Bates Motel season 5 alias final season, Broadchurch season 3, Prison Break season 5, Wentworth season 5, dan serial baru yang bintangnya 3 aktris aduhai dan seharusnya tidak dilewatkan: Big Little Lies season 1. Penderitaan itu masih ditambah lagi dengan rilisnya The Fate of the Furious hari ini.

Apalah daya, soal menahan godaan memang gampang-gampang susah. Okelah serial bisa saya tonton di jam istirahat kantor, itu pun harus memastikan tidak ada adegan uhuk-ehemnya karena saya kapok pas lagi nonton Zero Motivation, eh ujuk-ujuk ada adegan demikian dan teman saya heboh sendiri lalu konsentrasi saya pun buyar.

Tapi untuk film baru, hanya perlu waktu 2 jam dan setelah itu rasa penasaran pun terjawab. Trailer The Fate of the Furious agak bikin heboh dengan munculnya Charlize Theron (Cipher) demi menjaga magnetismenya dari para penonton pria, setelah Jordana Brewster (Mia) tidak akan muncul dan Gal Gadot sudah berubah wujud menjadi Wonder Woman. Maka tinggallah Michelle Rodriguez (Letty) dan Nathalie Emmanuel (Ramsey).

Seperti 7 franchise Fast & Furious sebelumnya, film ini dibuka dengan balapan di mana begitu banyak perempuan berpakaian mini di sekitarnya sebagai penonton. Sebab cukup yang lelaki-lelaki saja yang kebut-kebutan. Kisah dimulai dari Havana, Kuba. Balapan yang mudah ditebak dengan teknologi CGI yang menguasai 90% film sehingga pada akhirnya itu menjadi poin yang membosankan. Sama seperti kala saya mendengarkan musik-musik EDM racikan Martin Garrix, The Chainsmokers, dan Skrillex. Pada awalnya terasa keren, lama-lama bosan juga kecuali itu konser-konser dengan massa yang begitu penuh di depan panggung dan tata lampu yang megah.

Saat berada di Havana, Dom bertemu Cipher dan cukup dengan memperlihatkan sesuatu di ponsel, Dom berubah menjadi orang lain yang sama sekali berbeda. Di Berlin, dia menyabotase misi untuk mengambil sebuah pengacau daya listrik dan menggulingkan mobil yang dikendarai Hobbs.

Setelah ditinggalkan Dom, masuklah Deckard (Jason Statham) yang direkrut oleh Nobody (Kurt Russel). Salah satu anak buahnya disebut Little Nobody. Sayang sekali Scott Eastwood hanya diberikan peran kecil dan sering kena bully. Dengan formasi baru, mereka memiliki satu tujuan, menghentikan Cipher dan Dom yang berada di bawah pengaruh perempuan itu.

Dom adalah seorang pria yang mementingkan keluarga di atas segalanya. Maka kelemahannya pun juga ada di sana. Cipher memanfaatkan itu sebagai kartu truf untuk memerintahkan Dom merebut kode nuklir milik Rusia. Siapa yang dijadikan sasaran jika bukan Letty orangnya. Penonton akan tahu nanti. Serunya di mana film ini jika saya buka semua.

Boleh saya bilang, setelah ketiadaan Paul Walker, Fast & Furious memang menjadi begitu berbeda. Humor-humor—terkadang sarkas—terlontar dari satu tokoh lainnya tapi saya merasa ada sesuatu yang hilang. Hadirnya Charlize Theron memang membuat layar tidak hanya melulu menyoroti lengan-lengan pria berotot, mobil-mobil mewah dengan kecepatan ribuan tenaga kuda, dan sinematografi yang selalu asyik di tiap negara yang dijadikan tempat pengambilan gambar; Islandia, Amerika Serikat, dan Berlin. Kuba yang terik matahari sampai ke daratan Islandia yang berlapis es yang menyerupai potret sebuah area di Rusia. Kurangnya satu, Charlize tidak sekalipun mendapat jatah berada di belakang kemudi mobil. Dia hanya mengutus orang kepercayaannya untuk menangani kala ada masalah di lapangan.

Satu hal yang tetap selalu saya nikmati dari tiap seri Fast & Furious adalah musik-musik score yang tidak jauh-jauh dari RnB dan Hiphop. Wiz Khalifa, G-Eazy, Pitbull, Camila Cabello, dan sejumlah musisi lainnya digandeng untuk membawa penonton bisa goyang-goyang kepala. Hobbs sempat menyebut nama Taylor Swift—disebutnya Tay Tay, kalau mengikuti Lip Sync Battle season 1 pasti ngeh—namun yang bersangkutan seperti lebih memilih Zayn Malik untuk mengiringi film Fifty Shades Darker.

Trailer The Fate of the Furious (2017):

Jogja, 12 April 2017

Leave a Response