The Handmaiden (2016); Film Adaptasi Fingersmith ala Korea

The Handmaiden (2016); Film Adaptasi Fingersmith ala Korea
The Handmaiden (2016). Sumber gambar: IMDB

The Handmaiden, film LGBT fenomenal ini mencoba peruntungannya di Cannes Film Festival 2016 bersama dengan It’s Only the End of The World (Lea Seydoux-The Lobster) dan Personal Shopper (Kristen Stewart-Camp X-ray). Sayangnya, ketiganya harus mengalah pada I, Daniel Blake.

Penggarapan The Handmaiden di tangan sutradara Korea Selatan laki-laki, Chan-wook Park, memberikan warna yang saya bisa bilang dengan gamblang, sangat berbeda dengan mini seri Fingersmith di bawah penggarapan sutradara Inggris perempuan, Aisling Walsh. Saya sampai menyebutkan jenis kelamin, sebab di sanalah tendensi itu menjadi pembedanya. Plot yang diangkat dari novel karangan Sarah Waters tidak menyimpang terlalu jauh. Tentang seorang tukang copet yang diutus untuk menjadi pelayan seorang bangsawan demi harta. Lalu ada cinta tumbuh di antara keduanya.

Saya lebih dulu menonton Fingersmith, baru the Handmaiden, sehingga sejumlah kejutan dalam cerita tidak berdampak maksimal. Sebaiknya tidak saya ceritakan di sini, daripada Anda semakin tidak penasaran dengan kisahnya. Saya rasa, Chan-wook Park juga memikirkan hal itu. Jika dia mengambil secara utuh Fingersmith, meski menyulapnya menjadi Korea, akan menjadi sangat garing.

Dia memakai strategi, pertama, meningkatkan kadar erotisme antara dua tokoh perempuan. Banyak scene di mana anggota tubuh perempuan terekspos dengan jelas dan sengaja. Fingersmith tidak bermain dengan erotisme. Termasuk adegan seks yang mungkin ingin melampaui keganasan adegan ranjang antara Emma dan Adele dalam Blue is the Warmest Color, tapi buat saya, sangat jauh dari itu. Saya tidak merasakan chemistry yang sama kuatnya seperti yang dipancarkan Lea dan Adele ketika memerankan tokoh masing-masing. Ekspresi wajah Hideko dan Sook-Hee seperti ekspresi gadis-gadis dalam film porno Asia. Masih lebih menarik melihat adegan intim antara Cornelia Agatha dan Sausan di Detik Terakhir, menurut saya.

Sumber gambar: hitfix.com

Oke, sori kalau terlalu panjang mengomentari erotisme. Tadi yang pertama. Kedua, saya kok tiba-tiba lupa ya apa ending di Fingersmith. Ending di The Handmaiden membuat saya mual. Dalam arti sebenarnya. Saya bukan pencinta film penyiksaan dan sejenisnya. Benci setengah mati. Tapi, setelah menonton Edge of Tomorrow, dugaan saya, jangan-jangan ini hanya mimpi belaka, lamunan belaka, dan seterusnya. Ternyata tidak. Saya tidak akan menceritakan adegan penyiksaan seperti apa di The Handmaiden. Mungkin Anda malah menyukainya. Selera boleh beda, kan?

Ketiga, di ekstra Fingersmith, ada semacam behind the scene. Sarah Waters, si penulis novel, hadir di lokasi syuting dan terlibat selama proses pengambilan gambar. Saya rasa semua adegan yang muncul di layar kaca, mendapat “restu” sepenuhnya. Saya tidak yakin dengan The Handmaiden. Dengan berpindahnya setting, dari era Victoria ke zaman pendudukan Jepang di Korea, semuanya berbeda. Terutama budaya, kesusasteraan, kebiasaan, dan berbagai hal yang terkait dengan Korea. Film ini bagi saya menjadi lebih kompleks, terlebih subtitle yang tidak bagus. Saya tidak mengerti bahasa Korea dan Jepang. Dan asal tahu saja, subtitle-nya bercampur dengan bahasa Indonesia. Intinya, banyak hal yang luput dari perhatian saya. Apa bahasa Korea-nya “Paman”?

Keempat, The Handmaiden, didominasi dengan cerita tentang 3 tokoh. Si lelaki tukang tipu, si pelayan yang jatuh cinta, dan si anak bangsawan yang menderita gangguan jiwa. Fingersmith punya area penceritaan yang saat luas sebagai penguat cerita. Bahwa Sue Tinder memiliki keluarga yang semuanya kriminal. Lily adalah anak yang banyak berkurung di dalam rumah bersama sang paman yang sibuk dengan buku-bukunya. Dan Richard Rivers adalah lelaki matrealistis yang punya rasa percaya diri tinggi. Kita bisa melihat dunia kelas bawah dan kelas atas secara utuh. The Handmaiden tidak. Sebagian besar didominasi dengan penceritaan tentang dunia kebangsawanan. Apakah orang-orang Korea Selatan ini memang tidak mengakui adanya dunia kelas bawah?

Kelima, The Handmaiden tidak lepas dari intervensi komedi di sana-sini. Kontras dengan ending yang berdarah-darah seperti poin kedua. Komedi yang dimunculkan dari menabrak dinding, mimik wajah, dan ucapan semakin menjauhkan kesan dramatis total yang ditumbuhkan Fingersmith sepanjang cerita. Sebagai fans Fingersmith, selipan komedi yang kurang dewasa The Handmaiden, merusak selera saya. Barangkali para pencinta drama Korea justru akan suka dengan hal itu.

Sebenarnya ada poin keenam, tapi rasanya tidak perlulah. Itu akan semakin membuat saya membanding-bandingkan betapa mengenanya Fingersmith di hati saya dan betapa tidak mengertinya saya dengan performa The Handmaiden.

Trailer The Handmaiden:

 

Jogja, 11 September 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response