The Hero (2017); Kisah Masa Tua Seorang Aktor Terkenal

The Hero (2017); Kisah Masa Tua Seorang Aktor Terkenal
The Hero (2017). Sumber gambar: IMDB.

Pernah berjaya menjadi aktor di masa muda, adalah bayang-bayang yang selalu menghantui kehidupan Lee Hayden(Sam Elliott-Up in the Air). Di usianya yang sudah mencapai 71 tahun, dia tidak lebih dari seorang lelaki tua pengisap ganja yang menyedihkan. Tinggal sendirian setelah bercerai dari Valarie (Katharine Ross), putri tunggalnya, Lucy (Krysten Ritter-Jessica Jones) selalu menjaga jarak dengannya, dan kanker pankreas cepat atau lambat akan merenggut nyawanya. Tidak semua aktor mampu mempertahankan karier cemerlang hingga masa tua. Yang, ada hanyalah legenda yang dikenang oleh para penggemarnya, terlupakan. Ganja adalah satu-satunya cara yang dipilih Lee Hayden untuk menghibur diri. Salah seorang rekannya yang dulu pernah membintangi sebuah serial TV, Jeremy Frost (Nick Offerman) adalah penyedia ganja terbaiknya. Asal tahu saja, tidak seperti di negara kita, ganja di sejumlah negara adalah barang legal, bisa dibeli di apotek.

Sisa-sisa karisma seorang Lee Hayden hanya membuatnya mendapat tawaran untuk mengisi suara iklan dan itu pun tidak berjalan dengan mulus. Dalam tidurnya, dia sering bermimpi akan kariernya, cukup mendorongnya untuk ingin membuat film. Ah, tapi apalah dayanya? Membuat film itu tidak mudah. Lagi-lagi, ganjalah yang menjadi pelarian.

Sampai pada suatu waktu, dia bertemu dengan Charlotte Dylan (Laura Prepon-Orange is the New Black). Seorang gadis seusia putrinya yang datang ke rumah Jeremy untuk membeli ganja. Charlotte yang cantik, muda, penuh gairah. Lee merasa tertarik padanya, dan perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Peran Laura Prepon di sini, membuat saya teringat dengan perannya sebagai Alex Vause yang bitchy. Bedanya, dia menggoda pria tua, bukan lagi perempuan. Laura hanya memegang peran sampingan, meskipun dialah yang membuat Lee menemukan semangat hidup kembali.

Ada adegan ranjang antara Lee dan Charlotte ketika keduanya telah menemukan kecocokan satu sama lain. Tapi jangan berharap akan terlihat menggebu dan gimana gitu. Dan jahatnya, Charlotte menjadikan percintaan mereka sebagai bahannya untuk di atas panggung sebagai stand-up comedy. Coba bayangkan, hal privasi demikian diumbar ke publik sebagai bahan tertawaan. Lee jelas tersinggung, tapi Charlotte mengakui kesalahannya. DanĀ Charlotte sama sekali tidak punya motif apa pun. Dia beneran perhatian pada Lee.

Sembari menunggu kapan nyawanya akan diambil karena penyakit yang kecil kemungkinan untuk disembuhkan, Lee mencoba untuk mengabarkan mantan istri dan putrinya, namun itu tidak mudah. Terlebih putrinya sulit untuk bisa hangat pada dirinya. Tapi dipendam pun tidak enak rasanya. Charlotte terus mendorongnya untuk bisa mengatakan itu sebelum terlambat.

The Hero adalah sebuah drama dengan konflik sederhana. Saya langsung teringat dengan film I, Daniel Blake. Bedanya, The Hero memasang sejumlah aktor ternama untuk menghidupkan karakter-karakter yang ada. Sayangnya, saya malah merasa I, Daniel Blake jauh lebih menyenangkan untuk diikuti karena kompleksitas cerita dan kejutan-kejutannya. Krysten Ritter tampil hanya di beberapa scene dengan dialog-dialog singkat. Kehadiran Cameron Esposito juga hanya numpang lewat.

The Hero mendapat nominasi Grand Jury Prize di Sundance Film Festival 2017 untuk sang sutradara Brett Haley.

Jogja, 17 September 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response