The Hobbit An Unexpected Journey (2012); Film Tentang Para Hobbit

The Hobbit An Unexpected Journey (2012); Film Tentang Para Hobbit
The Hobbit An Unexpected Journey (2012). Sumber gambar: IMDB

The Hobbit An Unexpected Journey, sebuah film tentang petualangan seru Bilbo (Martin Freeman-Fargo, Sherlock Holmes) kakek Frodo di Lord of the Ring yang dituliskannya pada lembaran-lembaran kertas.

Tahu atau bahkan mengikuti film dan novel Lord of The Ring (LOTR)? Nah The Hobbit An Unexpected Journey semacam ekstensi dari LOTR karangan J.R.R Tolkien dan juga diangkat ke layar lebar. The Hobbit An Unexpected Journey merupakan bagian pertama, dan akan diikuti sekuelnya The Desolation of Smaug dan There and Back Again, demikian bocoran yang gue baca dari Wikipedia. Kenapa gue bilang ekstensi, karena memang ada tokoh penghubungnya di sini, salah satunya Frodo (Elijah Wood). Dalam film The Hobbit, Frodo muncul cuma di bagian awal dan seterusnya memang menjadi milik si Bilbo, kakeknya Frodo yang ternyata punya pengalaman masa lalu nggak kalah keren dari Frodo.

Oh ya Hobbit adalah semacam bangsa kurcaci bertelinga lebar dan berkaki panjang. Katanya sih kurcaci, tapi nggak mini-mini amat ukurannya. Mereka tinggal di pohon dan hidup dengan damai. Mereka bukan tipe petualang, tapi Bilbo dan Frodo ini berbeda.

Penceritaan Bilbo tentang petualangan masa mudanya dipicu karena ia ingin mewariskan pengalaman serunya pada sang cucu. Dia pun menuliskannya dalam lembaran-lembaran kertas. Alurnya pun kemudian mundur 60 tahun ke belakang. Ketika itu, Bilbo diajak bertualang oleh seorang penyihir bernama Gandalf dan bergabung dengan sejumlah kurcaci lain untuk membantu Thorin, seorang cucu dari raja di Erebor, merebut kerajaan yang akhirnya hancur karena serangan naga. Awalnya Bilbo nggak mau karena ia lebih cinta rumahnya sendiri ketimbang harus jauh dari rumah, Gandalf yang nggak berhasil mengajak Bilbo pun pergi. Dikira Bilbo, Gandalf beneran pergi, eh ternyata enggak. Di malam harinya, datang deh kurcaci-kurcaci ke rumahnya, bikin pesta seenaknya. Lalu Gandalf datang lagi dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Bilbo pun mulai kepikiran untuk ikut dan Membantu Thorin merebut istana Erebor kembali.

Keputusan Bilbo memang nggak salah. Perjalanannya bener-bener seru meski jauh dan harus berkuda sekian ratus kilo. Nggak cuma itu, karena musuh bebuyutan si Thorin muncul dengan pasukannya yang superkuat dan sulit dikalahkan. Berkali-kali mereka diserang oleh Orc dan mereka susah payah melarikan diri dengan berbagai ide cerdik. Si Orc yang tangan kirinya buntung karena ditebas pedang oleh Thorin memang bernafsu sekali membinasakan Thorin dan kawan-kawan seperjalanannya. Keseruan pertarungan antara Orc dan pasukannya melawan Thorin dan para kurcaci terjaga banget sampai bagian akhir dengan efek audiovisual yang nggak tanggung-tanggung. Gue bisa bilang, jauh puluhan kali lebih bagus dari semua film Twilight. Mungkin karena nama Warner Bros juga yang membuat gue yakin 100%, soal efek pastinya akan sempurna. Wajar jika pas gue nonton meski baru mulai jam 11 malam, ¾ tempat duduk penuh, untungnya barisan paling atas, dan paling pojok ada yang kosong. Di situlah gue duduk manis selama 3 jam.

Oh, tadi kan gue bilang, The Hobbit An Unexpected Journey adalah film adaptasi novel. Tapi, buat yang belum baca novelnya, don’t worry, nggak bakal bingung kok. Ceritanya nggak terlalu sulit dipahami dan nggak membosankan sama sekali. Okelah nggak bisa ngapalin semua tokoh, tapi tahu tiap tokoh punya karakter yang unik. Bilbo seperti apa, Thorin seperti apa, Gandalf, dan lainnya.

The Hobbit An Unexpected Journey boleh banget ditonton anak di bawah umur karena memang meski tokohnya dewasa tapi cukup ringan untuk dipahami anak-anak. Dan gue rasa, kalau di jam reguler, bakal banyak anak-anak yang memenuhi studio.

Trailer The Hobbit An Unexpected Journey (2012):

My, room, Yogyakarta, 16 Desember 2012: 10:41 AM

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response