The Imitation Game (2014); Film Tentang Alan Turing dan Penemuan Komputer

The Imitation Game (2014); Film Tentang Alan Turing dan Penemuan Komputer
The Imitation Game (2014). Sumber gambar: IMDB

The Imitation Game adalah salah satu film yang sukses mendulang kemenangan besar Golden Globe tahun 2015┬ádengan membawa pulang 5 award bergengsi, Best Motion Picture – Drama, Best Performance by an Actor in a Motion Picture – Drama: Benedict Cumberbatch (Sherlock Holmes, Doctor Srange, August Osage County), Best Performance by an Actress in a Supporting Role in a Motion Picture: Keira Knightley (Jack Ryan, Anna Karenina, A Village Affair), Best Screenplay – Motion Picture: Graham Moore, dan Best Original Score – Motion Picture: Alexandre Desplat. (Sumber: IMDB.com).

The Imitation Game mengambil setting 3 periode masa, yaitu di saat Alan Turing masih sekolah, ketika dia direkrut untuk memecahkan kode Enigma, dan setelah menyelesaikan tugasnya. Alan Turing, sosok paling berjasa besar memecahkan mesin kode Enigma yang dimiliki Jerman ketika berada di bawah kekuasaan Hitler. Enigma digunakan Jerman untuk mengirimkan kode berisi pesan-pesan penyerangan ke berbagai negara, termasuk Inggris. Pihak intelijen di berbagai negara jungkir balik untuk bisa memecahkan kode tersebut, termasuk Soviet. Melumpuhkan Enigma bukan pekerjaan mudah dan sebentar. Maka dikumpulkanlah sejumlah profesor dan ahli untuk mencari solusinya. Alan Turing adalah seorang ahli matematika yang ikut direkrut untuk tugas besar tersebut. Dia termasuk orang yang tidak banyak bicara dan kaku. Lebih suka bekerja sendiri hingga tidak terjalin komunikasi baik dengan teman-teman satu timnya.

Enigma adalah mesin monster yang demikian sulit ditaklukkan. Alan kemudian memiliki gagasan untuk membuat mesin peniru seperti halnya Enigma. Benda yang sekarang disebut sebagai komputer. Alan adalah penemu komputer yang konsep awalnya adalah membuat tiruan dari otak manusia yang rumit. Komputer raksasa buatan Alan diberi nama Christopher. Tingginya mencapai dua meter dengan kabel-kabel yang tersambung dari satu mesin ke mesin lainnya. Mesin buatan Alan sudah berjalan, tapi belum juga sampai ke titik terang. Kode itu belum terpecahkan.

Tapi di suatu kesempatan, Alan mendapatkan pencerahan bagaimana kode itu sesungguhnya bekerja. Sebuah kerja keras yang sangat panjang dan melelahkan. Dengan begitu, semua rencana penyerangan bisa dicegah. Dan tahu sendiri kan bagaimana nasib Nazi kemudian.

Sisi pribadi dari Alan Turing tak terlalu disorot secara dominan, dibandingkan sisi profesionalnya. Alan dekat dengan seorang perempuan bernama Joan Clarke, juga ahli dalam matematika. Keduanya merasa saling cocok dan melengkapi. Tapi bukan sesuatu yang romantis. Ya, sebagai sahabat. Meskipun akhirnya Alan melamar Joan, tapi ada satu sisi dalam dirinya yang merasa cemas. Sesuatu yang membuatnya gelisah hingga ia ceritakan pada orang yang salah. Rahasia besarnya yang menjadi bumerang ke dirinya sendiri.

Alan mengakui dirinya homoseksual sementara di masa itu ada aturan negara yang sangat keras diberlakukan kepada para pria pencinta sesama jenis. Ia dipaksa untuk mengikuti terapi hormon, membuat tubuhnya memberi reaksi yang menyedihkan. Itu dipilihnya ketimbang komputer kesayangannya dimusnahkan oleh pihak pemerintah. Sebegitu besar pengorbanan yang dilakukan Alan dalan hidupnya hingga ia memutuskan bunuh diri di usia 41 tahun.

Dosen dari King University ini sudah genius semenjak kecil dan tertarik dengan kriptologi. Dianggap aneh oleh teman-teman sekolahnya, hadirlah Christopher yang menjadi teman akrabnya. Film ini sama sekali tidak menghadirkan kisah percintaan antara keduanya, dan ironisnya Alan belum sempat menyatakan cinta pada Christopher yang keburu meninggal dunia.

The Imitation Game penuh dengan kesedihan, keseriusan, tokoh-tokoh antagonis yang menyebalkan, menyeimbangkan sosok pahlawan yang tak gampang menyerah.

Trailer The Imitation Game:

Jogja, 15 Januari 2015

Leave a Response