The Kind Words (2015): Kisah Tiga Bersaudara Menguak Misteri si Ayah Biologis

The Kind Words (2015) Kisah Tiga Bersaudara Menguak Misteri si Ayah Biologis
The Kind Words (2015). Sumber gambar: IMDB

Dari sekian panjang list film Israel yang saya buat, The Kind Words adalah satu-satunya yang berhasil saya dapatkan. Maklum, saya baru nonton 3 judul dan suka semuanya. Coba cek tulisan saya untuk film Zero Motivation, Yossi & Jagger, dan A Borrowed Identity. Tidak tahu mengapa orang-orang seperti kurang menggemari produksi dari negara ini sehingga tidak banyak yang mau membagikannya secara cuma-cuma. Oke, ada konflik yang sensitif dan berkepanjangan, tapi film kan soal hal lain. Film dari sudut pandang Israel memang lazim mendiskreditkan Arab. Apa bedanya memang dengan rasisme di Amerika? Rasisme di Eropa sana. Saya tidak membahas tentang Islam. Tapi Arab. Ingat, tidak semua orang Arab itu Islam. Sudah sejak dulu Israel punya warisan kebencian terhadap Arab. Kayak kamu aja nggak.

The Kind Words merupakan film bergenre drama berbumbu komedi sederhana hasil kerja sama dua negara, Israel dan Kanada. Menggunakan 2 bahasa pula, Ibrani dan Prancis. Ujung-ujungnya saya bergantung pada subtitle berbahasa Inggris yang beberapa meleset dari konteks sehingga saya tidak memahami maksudnya. Itulah ruginya tidak menguasai banyak bahasa asing. Lokasi pengambilan gambarnya ada di dua kota besar, Yerusalem (Israel) dan Paris (Prancis).

Selama 118 menit, Shemi Zarhin (The World Is Funny) membawa kita dalam scene demi scene berdurasi pendek tanpa kisah yang bertele-tele, tidak melupakan celetukan ringan beraroma sinis khas orang Israel. Tiga tokoh utama Dorona, Netanel, dan Shai menjadi nyawa untuk menyampaikan pesan-pesan kepada penonton dengan cara masing-masing. Netanel adalah si sulung yang religius. Kippah selalu melekat di kepalanya, dia hanya makan makanan kosher alias yang diperbolehkan dalam Taurat. Aturan dalam Taurat boleh dibilang sama ketatnya dengan al-Qur’an. Netanel tidak bersalaman dengan lawan jenis. Tidak mandi ketika masa berkabung. Sikapnya pun paling tenang. Pernikahannya memang tidak mulus dengan tiga anak yang masih kecil-kecil dan tinggal terpisah dengan sang istri, tapi itu masih lebih baik ketimbang kedua adiknya.

Dorona mengalami fase krisis pernikahan dengan sang suami yang berdarah Arab, Ricky, setelah mengalami keguguran beberapa kali. Dorona bersikeras berpisah sementara Ricky tidak sepakat dengannya.

Shai si bungsu adalah seorang biseksual. Dia pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan dan memiliki seorang anak yang masih balita. Juga baru putus dari pacar lelakinya. Netanel tidak suka dengan kehidupan Shai ketika bersama lelaki, tapi Dorona selalu menengahi.

Tiga bersaudara ini mendapatkan dua pukulan berat dalam satu waktu. Duka setelah kepergian ibu mereka, dan fakta bahwa mereka punya ayah kandung yang entah siapa. Buah dari hasil hubungan sang ibu di masa lalu di Paris. Setelah masa berkabung selesai, alias 7 hari, Shai yang paling kuat keinginannya untuk mencari tahu identitas sang ayah, mengajak kedua kakaknya ke Paris. Di sana ada saudara ibu mereka yang pasti tahu dengan sosok lelaki itu.

Bertolaklah mereka bertiga, bukan, berempat. Shai menghubungi Ricky sebab lelaki itu fasih berbahasa Prancis. Dialah yang bisa menjadi penghubung komunikasi selama di Paris. Dorona tidak berkenan dengan hal itu tapi mau apa coba? Toh mereka tinggal di kamar yang terpisah.

Suami ibu mereka rupanya menyusul ke Paris. Tapi percayalah kita akan dibuat kagum dengan kesabarannya akan kenyataan yang sangat pahit. Tidak meledak-ledak demi membuat drama agar emosi penonton naik ke ubun-ubun. Dia memang sepenuhnya tidak punya dosa terhadap keluarga. Meninggalkan keluarga tidak dengan baik-baik adalah sesuatu yang pengecut. Dialah yang paling pertama tahu bahwa 3 anaknya bukanlah darah dagingnya sendiri. Dengan istri barunya, dia tidak dikaruniai anak karena permasalahan sperma.

Menguak rahasia yang disimpan rapat-rapat makin menyulitkan. Mengapa sosok ayah mereka begitu disembunyikan? Kisah dua orang ini terjadi di Algeria tahun 1960-an. Bak Romeo dan Juliet yang dipisahkan karena perbedaan di saat cinta itu masih menggebu-gebu. Namun keduanya mencari jalan untuk kembali bertemu diam-diam hingga berbuah keturunan.

Tiga bersaudara ini gamang. Antara siap dengan tidak untuk tahu sosok ayah kandung mereka. Terlebih ayah mereka ini Arab. Bahkan ibu mereka mungkin sebenarnya terhitung Arab juga karena logat bicaranya dan tinggal di negara yang mayoritas Arab. Mereka ini merasa Yahudi karena tinggal di Israel dan membanggakan keyahudian mereka.

Saya menyukai sudut-sudut pengambilan gambar dalam The Kind Words ini. Hampir menyerupai film-film drama buatan Prancis yang elegan. Perkotaan Yerusalem, Paris tapi bukan yang penuh hiruk-pikuk kemacetan tapi jalanan yang naik turun dan bertangga-tangga. Di dalam rumah. Ketika kelereng-kelereng berjatuhan adalah salah satu favorit saya. Montase-montase ketika mereka melahap begitu banyak makanan dalam satu malam ketika masih berkabung. Kekhasan mereka adalah efek warna gambar “kering kerontang” seperti di gurun pasir. Tidak kalem ibarat musim dingin atau musim semi khas produk Eropa. Film-film Indonesia banyak mengadaptasi dari Eropa. Sangat jelas.

Trailer The Kind Words (2015):

 

Jogja, 12 Juli 2017

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response