The Lobster (2015); Film Absurd Nasib Lajang-Lajang di Suatu Masa

The Lobster (2015); Film Absurd Nasib Lajang-Lajang di Suatu Masa
The Lobster (2015). Sumber gambar: IMDB

The Lobster adalah salah satu film yang harus mengalah dari Deephan, selain juga film Carol, untuk memperebutkan Palme d’Or di  Cannes tahun 2015. Sangat disayangkan seperti halnya saya menyayangkan kekalahan Carol meski berhasil membawa pulang Jury Prize, Palm Dog – Jury Prize, dan Queer Palm – Special Mention.

Jika ingin menikmati film-film keren jebolan Cannes, memang harus siap dengan karya-karya absurd semenjak awal dari akhir. Tentu saja ada alur cerita yang dibawakan oleh tokoh-tokohnya, namun banyak hal yang kemudian menjadi tugas penonton untuk menafsirkannya.

The Lobster ini absurd. Ya, sejak menit pertama, tanda tanya langsung bercokol dalam kepala saya. Karena satu pertanyaan bukannya terjawab di scene-scene sebelumnya. Rupanya film ini memang tidak perlu terlalu dicari logika cerita yang sesuai dengan logika dalam kepala kita. Membentuk dunianya sendiri. Dibawa oleh seorang tokoh bernama David. Dia adalah satu dari dua tokoh yang bernama. Satunya adalah Bob, seekor anjing, peliharaan David.

Suatu masa yang tidak disebutkan, David mendaftarkan dirinya ke sebuah hotel bagi para lajang. Selama rentang waktu tertentu, si penghuni hotel diberi kesempatan untuk melihat ke sekitar, siapa tahu bertemu jodoh. Jika mereka bertemu jodoh, hidup mereka akan nyaman dan mendapat tempat enak. Kalau tidak kunjung bertemu jodoh sampai jangka waktu yang ditentukan, mereka akan dilepas ke hutan.

Maka, dalam proses menjadi teman hidup yang memiliki kesamaan, mereka pun diwajibkan berburu. Buruan mereka adalah para Loner, yang pemimpinnya seorang perempuan tegas berkebangsaan Prancis diperankan Lea Seydoux. Dia adalah perempuan keras dan tegas. Semua Loner tunduk kepadanya. Ketika David melarikan diri dari hotel, dia pun juga harus tunduk pada sang pemimpin.

Selama hidup di hutan, David harus melatih dirinya hidup seberani binatang buas. Prinsip yang berlaku adalah jika tidak memburu ya diburu. Banyak orang yang menjadi berani dan berpura-pura menemukan pasangan jiwanya karena nyalinya ciut dengan tantangan di luar sana. Misalnya si pasangan mimisan.

David yang rabun dekat, bertemu dengan pasangan jiwanya, si cewek rabun dekat. Jangan tanya siapa namanya, pokoknya julukannya si rabun dekat. Hubungan keduanya berjalan dengan baik. Kesamaan di antara mereka memang cukup jadi alasan sebagai pengusir kesepian selama berada di hutan. Tapi jangan salah, godaan pun juga bisa datang dari musuh yang tidak diduga dan ujung-ujungnya si pemimpin Loner mengambil keputusan sendiri tanpa minta pertimbangan David.

Karakter demi karakter dalam The Lobster ini punya tugas besar untuk mengantarkan cerita absurd agar tetap menyenangkan ditonton hingga ending yang tidak perlu ditanya, absurd juga. Dan jika di dalam film-film lainnya, para bintang sekelas Collin Farrell (Fantastic Beasts and Where to Find Them ), Lea Seydoux (Blue is the Warmest Color, Beauty and the Beast), Rachel Weisz (Denial), dan John C. Reilly (Kong: Skull Island) namanya akan diletakkan paling atas di IMDB, kali ini mereka berada di urutan bawah. Nah serbaabsurd kan?

Trailer The Lobster:

Jogja, 29 Januari 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response