The Mountain Between Us (2017); Bertahan Hidup di Pegunungan Bersalju

in Film by
The Mountain Between Us (2017); Bertahan Hidup Pegunungan Bersalju
The Mountain Between Us (2017). Sumber gambar: IMDB.

The Mountain Between Us dibintangi oleh aktor pemenang Golden Globe, Idris Elba (The Dark Tower) dan aktris peraih piala Oscar, Kate Winslet (The Dressmaker). Keduanya menggantikan Michael Fassbender dan Margot Robbie (I, Tonya) untuk film yang diadaptasi dari novel karya Charles Martin ini.

Untuk versi film, nama kedua tokoh kemudian diubah menjadi Ben Bass dan Alex Martin dari Ben Payne dan Ashley Knox. Ben adalah seorang dokter bedah sementara Alex Martin adalah seorang jurnalis foto. Wajah keduanya mendominasi layar, sisanya pegunungan berlapis salju dan anjing yang menemani mereka sedari awal penerbangan.

Oh ya, sutradara untuk The Mountain Between Us adalah sutradara berdarah Israel, Hany Abu-Assad. Saya baru menonton satu film dia yang berjudul Omar. Judul-judul lainnya sampai sekarang belum berhasil saya dapatkan. Kalau ada, yang punya, kasih kode di kolom komentar ya.

Sering kali saya garis bawahi bahwa menonton film hasil dari adaptasi novel tanpa membaca bukunya terlebih dahulu ada plus dan minusnya. Plusnya, saya tidak akan menemui fase “kena spoiler”. Minusnya, dalam kepala saya akan muncul banyak pertanyaan mengapa begini dan begitu jika naskah skenarionya tidak sempurna.

Berbeda dengan setelah menonton Call Me by Your Name yang dipuji-puji di acara-acara TV yang dibawakan oleh Ellen DeGeneres, Jimmy Fallon, atau lainnya, saya merasa ganjil pada The Mountain Between Us perkara logika demi logika. Sedari awal cerita bergulir, dua orang ini yang punya urusan penting ke Denver namun penerbangan mereka dibatalkan karena badai salju. Lalu atas inisiatif Alex, mereka menyewa pesawat kecil yang dengan pilot seorang pria tua lalu kena serangan jantung di tengah perjalanan. Pesawat oleng, lalu jatuh di atas gunung berlapis salju. Badai salju? Oh badainya sudah berlalu kok. Keduanya selamat, anjing si pilot selamat, pilotnya tidak. Kedua tokoh tidak digambarkan berdarah-darah setelah benturan yang sebegitu keras dan dramatis. Ben yang sadar lebih dulu dia mengalami retak tulang rusuk dan memar-memar. Alex mengalami patah kaki kalau tidak salah dan sedikit luka di wajah. Dan ajaibnya, si anjing selamat tanpa luka suatu apa.

Mereka bertahan berkat bekal makanan dan salju yang dicairkan. Makanan yang mereka bawa lumayan banyak, mungkin itu yang bawa si pilot karena buat apa Ben dan Alex bawa sebegitu banyak perbekalan toh mereka bukan mau kemping, ya kan? Ben harus segera menangani pasien, dan Alex akan menikah di keesokan harinya. Selama tiga hari mereka bertahan di titik itu. Dengan api unggun kecil di dalam pesawat untuk menghangatkan ketiganya. Dengan luka-luka yang tidak ringan, mereka kemudian sanggup menuruni gunung selama hampir tinggal minggu hingga menemukan sebuah pondok tak berpenghuni. Mereka sementara berada di sana sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Bisa ditebak, hubungan keduanya yang awalnya merasa asing, karena selalu bersama, akhirnya saling membutuhkan dan ujungnya kurang baik karena Alex berstatus calon istri orang. Sementara Ben sangat tertutup tentang pernikahan dia.

Saya bukan penyuka film tipe survival seperti ini karena temponya lambat dan karena keadaan kejepit, orang bisa melakukan apa pun juga. Satu yang tidak terlupakan oleh saya adalah 127 hours. Lupakan film James Franco dan kembali ke The Mountain Between Us, ya. Bertahan di gunung dengan suhu minus sekian derajat adalah sebuah tantangan berat, terlebih keduanya tidak diceritakan punya latar belakang suka naik gunung hanya saja latar medis menjadi satu poin penolong dalam kondisi darurat. Karena permukaan tanah tertutupi salju, maka wajar ketika kita akan melihat bagaimana Ben tergelincir hingga hampir masuk jurang atau Alex yang kejeblos ke delam sungai es, atau si anjing yang luka-luka karena serangan puma. Di sepertiga film ini, kita tidak akan melihat Kate Winslet dengan rambut pirang indahnya. Hanya bagian awal dan akhir saja. Sisanya dia berbalut jaket tebal dan kaki terbebat.

Karena fokus pada hubungan di antara Ben dan Alex, sudah tentu sosok calon suami Alex terkesampingkan. Memang tidak penting sih. Lagi pula calon istri hilang sampai 3 minggu lalu tidak ada usaha mencari itu maksudnya gimana coba? Calon istri berminggu-minggu bersama dengan pria lain tidak ada curiga apa-apa gitu ketika Ben mengunjungi Alex di kamar rumah sakit? Dasar laki-laki tidak peka!

Buat fans Kate Winslet, termasuk saya pastinya, ini memang bukan film yang menampilkan akting terbaik dia tapi tidak terlalu buruk hingga harus dilewatkan.

Trailer:

Jogja, 30 Desember 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

Latest from Film

Partners Section:

best thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appfree iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8
error: All contents protected, please contact email below to copy
Go to Top

Powered by themekiller.com sewamobilbus.com caratercepat.com bemp3r.co