The Reader (Elex, 2012); Novel Tentang si Juru Baca dari Jerman

The Reader (Elex, 2012); Novel Tentang si Juru Baca dari Jerman
The Reader (Elex, 2012)

The Reader (Sang Juru Baca) karya Bernhard Schlink. Konon merupakan karya sastra pertama Jerman yang pernah berhasil menduduki posisi puncak daftar buku laris New York Times, telah diterjemahkan ke dalam 39 bahasa, tentunya ke dalam bahasa Indonesia. Sebuah prestasi yang mengagumkan dan apresiasi yang sangat pantas diberikan untuk Schlink yang berhasil membuat saya sempat mengira ini adalah buku mesum dan sebaiknya tidak dibaca sampai habis karena isinya ya tentang begituan.

Tapi ketika saya memaksa diri untuk meneruskan pembacaan, Schlink memang mengubah alur kemesuman menjadi nuansa suram pengadilan Nazi yang panjang di mana Michael Berg bertemu kembali dengan kekasih yang usianya jauh lebih tua darinya, di mana mereka pernah menikmati masa-masa indah percintaan yang hangat hingga Hanna Schmitz meninggalkannya tanpa perpisahan selayaknya sepasang kekasih. Mereka bertemu di pengadilan yang membawa sejumlah terdakwa dari masa Nazi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Michael sebagai salah satu peserta seminar dari sekolah hukum, dan Hanna duduk di kursi pesakitan bersama para terdakwa lain yang dibela pengacara. Hanna-setelah sekian tahun-tak mengacuhkan keberadaan Michael di ruang persidangan. Meskipun ada di suatu adegan, Hanna melirik ke arahnya.

Persidangan yang cukup panjang, semakin lama semakin menyudutkan Hanna dan keterlibatannya sebagai petugas jaga di salah satu kamp konsentrasi Nazi. Nazi adalah musuh Jerman, tapi orang-orang Jerman terkesan memang tidak mau membuka luka lama. Karena bagaimanapun juga, mereka yang pernah bekerja untuk Nazi tidak lain adalah orang tua generasi muda Jerman sekarang. Bagaimana rasanya berada di posisi tidak mengenakkan itu. Maka Nazi menjadi sebuah pemakluman, kecuali bagi mereka yang berdarah Yahudi. Itu adalah luka dalam yang sampai generasi sekian akan sulit dilupakan, sejarah yang sangat menyakitkan.

Hanna adalah kambing hitam yang memilih tutup mulut. Michael tahu Hanna tidaklah pantas menerima jerat hukuman seumur hidup, tapi ia pun tahu keterlibatan itu adalah sebuah kesalahan juga. Di satu sisi, ia masih mencintai Hanna, perempuan yang telah menjadi partner tidurnya di saat usianya masih sangat belia, 15 tahun dan Hanna 36 tahun. Hanna meninggalkan kesan begitu dalam di benak Michael, walaupun hubungan diam-diam mereka sering diwarnai pertengkaran dan sikap kasar Hanna kepadanya. Belakangan, Michael menyadari jika semua tingkah laku Hanna adalah jawaban dari semua kemisteriusan perempuan itu. Termasuk menghilang begitu saja dari kehidupan Michael yang haus dengan kehadirannya.

Persidangan Nazi itu membawa Michael untuk mengunjungi kamp konsentrasi Nazi, membayangkan bagaimana Hanna di sana bersama para petugas perempuan lainnya, mengawasi para tahanan perempuan sampai suatu peristiwa tragis yaitu terbakarnya sebuah gereja dan membakar hidup-hidup para tahanan di dalamnya. Tragedi kemanusiaan yang membuat semakin peliknya persidangan itu. Catatan-catatan sejarah tidak semuanya dapat diakses oleh para ahli hukum. Tapi sebuah catatan sejarah dari dua tahanan yang berhasil melarikan diri kemudian menuliskan kisahnya, membuat Hanna dan beberapa orang lainnya pasrah. Hukum tidak bisa tinggal diam.

Rasa cinta Michael terhadap Hanna sudah tidak semenggebu-gebu dulu ketika ia masih remaja, tapi ikatan emosional itu masih tetap kuat, setelah Hanna menerima hukuman seumur hidup. Michael mengiriminya kaset-kaset rekaman pembacaan buku-buku sastra pada Hanna hingga jumlahnya puluhan. Hanna membalasnya dengan surat-surat dengan tulisan tangan yang sangat jelek karena ia sebenarnya buta huruf. Michael membuat Hanna belajar membaca dan menulis. Ia bahkan menulis puisi-puisi sederhana.

Orang-orang bertanya-tanya, apa sebenarnya hubungan antara Michael dan Hanna, dan pria itu memilih menyimpan semuanya sendirian. Belakangan ia mencoba terbuka pada orang lain tapi rupanya itu tidak menarik bagi orang lain. Cerita itu barangkali terdengar dibuat-buat ketimbang kisah nyata.

Bernhard Schlink mengandalkan alur The Reader flash-forward untuk mengawal cerita dalam buku yang berjudul asli Der Vorleser dengan konflik yang silih berganti mengisi halaman dengan halaman. Tidak lupa dengan begitu banyak setting tempat yang menurut saya asing, tapi Schlink membuat keterasingan itu memudar dengan detail-detail yang tepat. Saya menyukai buku ini dengan segala presentasi yang ada di dalamnya. Di balik kekejaman Nazi, banyak cerita tersembunyi yang tidak akan habisnya bermunculan ke permukaan.

Buku ini sudah pernah diangkat ke layar lebar dibintangi oleh Kate Winslet dan mengukuhkannya sebagai aktris terbaik di ajang Academy Award tahun 2009.

 

Jogja, 25 Januari 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response