The Tree of Life (2011); Film dengan Sinematografi yang Bernarasi

The Tree of Life (2011); Film dengan Sinematografi yang Bernarasi
The Tree of Life (2011). Sumber gambar: IMDB

Jangan berpikir film ini akan sangat membosankan dengan hampir 30 menit pertama yang penuh kebingungan. Sutradara Terrence Malick (The New World, The Thin Red Line) menghadirkan sajian sinematografis penciptaan dunia pertama kali dan makhluk-makhluk penghuni bumi menyelingi potongan-potongan adegan di keluarga O’Brien tahun 1950-an lalu kehidupan Jack O’Brien di masa sekarang. Apa kaitan antara keduanya dan apa kaitan dengan sebuah paket sinematografi yang sangat apik dengan detail-detail yang mengagumkan? Maka teruslah menonton The Tree of Life di menit-menit berikutnya.

O’Brien adalah sebuah keluarga Katolik dan terhormar yang tinggal di Waco, Texas. Brad Pitt (12 Years a Slave) memerankan sosok ayah yang pekerja keras, mendidik ketiga anak lelakinya dengan disiplin tinggi pula. Tapi tidak pernah sampai memukuli mereka maupun sang istri. Meski terkadang kaku, sosok ayah yang hangat dan penuh cinta ada pada dirinya. Suami yang bertanggung jawab pula.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, banyak yang kemudian berubah. Jack, si anak pertama, tidak siap dengan kehadiran seorang adik, yang membuat perhatian ayah ibunya teralihkan. Konflik yang biasa. Semenjak adiknya lahir, Jack tahu, dia bukanlah lagi pangeran yang akan selalu diperhatikan. Bukan dirinya lagi yang akan selalu digendong. Kecemburuannya hanya berlaku pada adik pertama, yang ternyata mewarisi bakat seni sang ayah. Otodidak memainkan gitar. Pada adik keduanya, Jack biasa saja.

Tapi, Jack tidak pernah kelewat batas. Satu sisi dia memiliki rasa kasih sayang pada kedua adiknya. Mereka adalah temannya bermain, selain anak-anak tetangga yang lain. Jack sebenarnya anak baik, tapi ada kalanya dia mencari perhatian agar mendapat hukuman dari orang tua. Sang ayah memang menghukumnya, tapi tidak membuat sang ayah memperhatikannya lebih. Ibunya pun begitu.

Amarah manusia adalah sesuatu yang wajar. Ada sifat iblis dalam diri manusia yang akan menguasai. Terikat dengan jiwa manusia yang lemah. Maka lagi-lagi, secara sinamatografis, digambarkankah kealamiahan makhluk hidup. Mengendalikan kemarahan, membuka pikiran, dan mencoba berlapang dada.

Bertahun-tahun Jack tidak bisa menjadi manusia yang baik. Apa yang dipendamnya dalam hati, selalu berbayang-bayang, membuat hubungannya dengan sang ayah renggang. Berdebat dan berdebat. Lalu ada masanya semua itu berhenti. Tidak mungkin sampai mati memendam kebencian.

Film ini mendapatkan apresiasi tertinggi Palme d’Or di Cannes Film Festival 2011 juga nomine Academy Awards 2012 untuk kategori Best Achievement in Directing, Best Achievement in Cinematography, dan Best Motion Picture of the Year.

Trailer:

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response