Thirteen (2016-); Serial TV Kembalinya Gadis yang Diculik Selama 13 Tahun

Thirteen (2016-); Serial TV Kembalinya Gadis yang Diculik Selama 13 Tahun
Thirteen (2016-). Sumber gambar: IMDB

Thirteen adalah serial detektif/thriller yang saya tonton setelah The Missing. Benang merah keduanya adalah penculikan anak hingga bertahun-tahun dan nyaris tanpa petunjuk.

Ketika kita pergi meninggalkan orang-orang terdekat kita dalam kurun waktu lama, lalu kembali, bukankah sangat wajar jika ada hal yang berubah? Entah alasan kepergian kita untuk sesuatu yang positif ataukah negatif. Terkadang, kita menjadi sosok yang benar-benar asing. Kita dengan tubuh yang sama, padahal.

Penculikan, ditahan di dalam sel penjara, merantau, atau apa pun. Kita tidak mungkin selalu menjadi orang yang sama. Pengalaman-pengalaman hidup mengajarkan kita untuk mengubah diri, untuk bertahan hidup. Atau kita akan dimangsa oleh yang lebih kuat.

Thirteen maupun The Missing menyampaikan pesan yang kurang lebih sama. Penyekapan anak, tindak kekerasan yang dialaminya, pemerkosaan, hilangnya kebebasan, berada di bawah kekuasaan orang lain adalah sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benak. Jangan lupakan juga film Room (2015) yang memperlihatkan sempitnya dunia seorang perempuan dan putranya yang berusia lima tahun dalam sebuah gudang yang tidak layak. Mereka para korban penculikan dalam waktu lama, tidak akan tahu perkembangan di luar sana. Tidak pernah menikmati sinar matahari. Tidak mengenal virus-virus penyakit. Kulit mereka menjadi pucat, badan menjadi kurus, kehilangan semangat hidup. Sangat mengenaskan.

Anak-anak dipaksa untuk beradaptasi dengan sesuatu yang asing. Jauh dari orang tuanya. Makan dengan seadanya. Tidak ada teman bermain. Tidak ada orang yang menyayangi mereka. Hilang dalam sekejap.

Ivy Moxam (Jodie Comer) diculik saat berencana bolos dari sekolah. Teman yang mengajaknya bolos tidak datang dan itu menjadi awal hari-hari kelamnya. Tiga belas tahun berselang, Ivy muncul dengan kondisi yang memprihatinkan. Dia menjalani perawatan di rumah sakit dan tes DNA sebagai bukti bahwa itu benar dirinya. Sepasang detektif ditugaskan untuk menyelidiki penculik Ivy. Mereka terus mengorek keterangan tentang identitas pria itu. Ivy banyak menutupi hal-hal yang bisa dijadikan petunjuk untuk mencari si penculik. Rumah tempat penyekapan Ivy telah diamankan. Ivy kembali bergabung dengan keluarga Moxam. Ayah, ibu, adik, dan tunangan adiknya.

Ada kekhawatiran si penculik akan kembali. Ivy mendapatkan pengawalan ketat. Hanya saja, bertahun-tahun dikekang, gadis itu merasa punya hak untuk menikmati hidup, salah satunya bertemu pacar masa remajanya. Dia menyimpan cinta yang dalam pada Tim. Itulah lelaki yang begitu berkesan. Tapi berlalunya waktu membuat segalanya turut berubah. Sang kekasih sudah memilih perempuan lain sebagai pelabuhan hatinya. Apa mau dikata. Bukan salah siapa-siapa juga kan?

Dugaan polisi jika si penculik masih mencari Ivy, terbukti. Terjadi penculikan lagi. Kalang-kabutlah semua orang. Mereka tidak mau apa yang dialami Ivy dialami Phoebe. Polisi bekerja keras menemukan petunjuk. Tidak serta-merta percaya pada ucapan Ivy bahwa si penculik tidak akan macam-macam dengan anak itu. Karena dianggap belum sesuai kriteria si penculik.

Lima episode Thirteen season 1, menjebak kita pada pengejaran si penculik yang rupanya bekerja di sekolah Ivy. Perselingkuhan-perselingkuhan pun terjadi juga. Rasa frustrasi mendorong seseorang untuk mencari tempat mengadu yang lain. Sebagai pembenaran untuk menodai sebuah ikatan pernikahan yang sah. Keberadaan Ivy pun juga mengusik kenyamanan tunangan sang adik. Dia merasa diduakan, sementara adik Ivy merasa kakaknya selalu harus diprioritaskan.

Pasangan detektif Elliot Carne dan Lisa Merchant yang dibumbui percintaan juga buat saya tidak kalah menarik diikuti. Mereka terkadang berseberangan jalan pikiran. Elliot bersikap melindungi Ivy, sementara Lisa memastikan dirinya selalu objektif dan profesional.

Ending dari Thirteen season 1 dibuat spektakuler dan mendebarkan. Pertemuan antara Ivy dan penculik. Kita juga diperlihatkan seberapa sakit jiwanya sosok penculik yang begitu pintar mengelabui polisi.

 

Jogja, 15 November 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response