Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017); Tuntutan di Papan Iklan

in Film by
Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017); Tuntutan di Papan Iklan
Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017). Sumber gambar: IMDB.

Masih dalam rangka marathon film maupun serial TV yang masuk dalam nominasi Golden Globes 2018, kali yang akan saya ulas adalah Three Billboards Outside Ebbing, Missouri. Salah satu film yang menurut saya tidak hanya akan berjaya di Globes, tapi juga Oscar kelak.

Mendapatkan 6 nominasi untuk kategori Best Director – Motion Picture (Martin McDonagh), Best Screenplay – Motion Picture (Martin McDonagh)  Best Performance by an Actress in a Motion Picture – Drama (Frances McDormand), Best Performance by an Actor in a Supporting Role in a Motion Picture (Sam Rockwell), Best Original Score – Motion Picture (Carter Burwell), dan yang terpenting adalah Best Motion Picture – Drama yang akan bersaing dengan Call Me by Your Name, Dunkirk, The Post, dan The Shape of Water.

Secara keseluruhan, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri mendapatkan 110 nominasi di berbagai festival film dan kritik film dan sementara ini mengantongi 36 kemenangan. Fantastis? Ya, kenapa tidak? Kisah seorang ibu yang meminta polisi untuk terus menelusuri kasus pemerkosaan gadis remajanya lewat papan iklan ini sangat pantas mendapatkan penghargaan yang setimpal.

Sutradara pemenang Oscar, Martin McDonagh, menulis sekaligus menyutradarai film bergenre, drama, komedi, crime berdurasi 115 menit ini. Lokasi syutingnya adalah sebuah tempat bernama Sylva di Carolina Utara. Sedari awal, Martin McDonagh sudah mengincar aktris pemenang Oscar, Frances McDormand, sebagai pemeran Mildred. Insting yang tidak salah, sebab untuk menghidupkan karakter seorang ibu—yang bersikukuh untuk menemukan pelaku pemerkosaan sekaligus pembunuh anak perempuannya, dengan mulut yang selalu mengeluarkan kata umpatan meski dia marah maupun tidak, tapi di sisi lain memiliki empati yang  tinggi terhadap orang lain dan bisa menjadi seorang ibu yang humoris pula—Frances McDormand sangatlah luar biasa.

Sam Rockwell berperan sebagai Dixon, petugas polisi anak mami, alkoholik, rasis, dan senang main pukul orang saya juga suka di film ini. Terlebih ketika masuk ke fase titik balik dan dia menjadi sosok yang berbeda setelah kejadian kebakaran di kantor polisi.

Woody Harrelson dipasang sebagai Chief Willoughby, yang disasar oleh Mildred untuk mengungkap kasus pemerkosaan putrinya juga semakin menguatkan film ini. Dia tidak hanya dirongrong oleh kanker pankreas, tapi juga tuntutan pekerjaan sebagai kepala polisi di sebuah kota kecil bernama Ebbing. Saya juga sangat menyukai peran dia di The Glass Castle dan The Edge of Seventeen.

Mengungkap kasus pemerkosaan yang disertai pembunuhan tidaklah mudah, terlebih tidak ada satu pun saksi mata. Sudah 7 bulan lebih, Mildred sekeluarga dirundung kesedihan akibat kasus tersebut. Ketika menyusuri jalanan sepi di luar kota Ebbing, 3 papan iklan yang sudah tidak menayangkan iklan baru, memberinya sebuah ide. Ya, dia kemudian mendatangi kantor iklan terkait yang letaknya di seberang kantor polisi di mana Willoughby dan lainnya bekerja. Dia menyewa papan iklan itu untuk setahun meski membayarnya per bulan.

RAPED WHILE DYING

 

AND STILL NO ARRESTS

 

HOW COME CHIEF WILLOUGHBY?

Sontak, ketiga papan iklan itu langsung menjadi berita besar dan menyebar di seluruh Ebbing, di mana gosip sekecil apa pun akan dengan mudah diketahui warga. Pihak berwenang tentu saja panas, namun Chief Willoughby bukanlah tipe orang yang langsung meledak, terlebih si pelaku rusuh sebenarnya menuntut keadilan, haknya sebagai warga sipil.

Mildred bersikeras mempertahankan keberadaan iklan-iklan itu. Dixon, bawahan Chief Willoughby, merasa dirinya butuh membela sang atasan. Sejumlah orang pun mulai memperlihatkan sikap antipati pada Mildred. Mereka yang pro dengan Chief Willoughby.

Kemudian, plot cerita dibuat makin menarik ketika Dixon akhirnya bisa sesuka hatinya bertindak tanpa ada lagi yang akan menghentikan. Terbakarnya papan-papan iklan itu mungkin juga adalah perbuatannya. Mildred tidak gentar. Api dibalas dengan api. Dan itulah klimaks dari konflik antara Mildred dan Dixon.

Martin McDonagh membuat drama ini menjadi tidak sepenuhnya menegangkan dengan dialog-dialog sarkas dari tiap tokoh. Kata “fuck”, “motherfucker”, “bitch”, “cunt”, “ass”, “asshole” bertebaran di sepanjang film ini, meskipun tidak selalu dalam konteks memaki, ya karena sudah kebiasaan masuk dalam ucapan. Gestur tubuh tiap tokoh mampu menggambarkan seperti apa karakter-karakternya.

Ya, film ini benar-benar layak untuk berjaya di Golden Globes dan Oscar.

Trailer:

Jogja, 1 Januari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

Latest from Film

Partners Section:

best thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appfree iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8
error: All contents protected, please contact email below to copy
Go to Top

Powered by themekiller.com sewamobilbus.com caratercepat.com bemp3r.co