Tom of Finland (2017); Biopic sang Ilustrator Homoerotis Finlandia

in Film/Film LGBT by
Tom of Finland (2017); Biopic sang Ilustrator Homoerotis Finlandia
Tom of Finland (2017). Sumber gambar: IMDB.

Tom of Finland film biopic yang apik, sayangnya tidak banyak dibawa masuk ke festival-festival film, hanya Edinburgh International Film Festival 2017, Göteborg Film Festival 2017, dan Tribeca Film Festival 2017. Film berdurasi 115 menit ini digarap dengan matang oleh sutradara Dome Karukoski, skenario ditulis oleh Aleksi Bardy, Dome Karukoski, Mark Alton Brown, Noam Andrews, Kauko Röyhkä, dan Mia Ylönen.

Jika sebelum ini saya mengulas tentang King Cobra dengan dunia video porno gay, maka Tom of Finland mengangkat kisah ilustrator homoerotis asal Finlandia, semasa dia masih bertugas di Perang Dunia II hingga menekuni kariernya sebagai penggambar lelaki-lelaki bertubuh maskulin yang beradegan erotis dengan lelaki.

Tom of Finland merupakan nama pena dari Touko Valio Laaksonen (8 May 1920–7 November 1991). Dari tangan penuh bakatnya, dia masuk dalam jajaran orang berpengaruh dalam gay culture. Meski dikerjakan dengan diam-diam, mengingat di masa itu sikap pemerintah terhadap homoseksualisme sangat keras, perlahan gambar-gambar yang tidak sembarang jorok atau sekadar memamerkan penis ini, karya-karyanya tumbuh dan terus berkembang hingga sampai ke Amerika Serikat.

Pernah ditangkap oleh polisi saat berada di Jerman setelah one night stand dengan seorang pria yang baru dikenalnya di sebuah hotel, Tuoko memang bersusah payah menyembunyikan identitas seksualnya bahkan dari adiknya sendiri. Finlandia sama sekali bukan orang bersahabat bagi komunitas minoritas sepertinya. Salah satu atasannya bahkan harus menjalani “terapi penyembuhan” saat tertangkap basah sedang menyelenggarakan pesta gay. Sementara, di Amerika Serikat, ya meski LGBT juga mendapat pertentangan, tapi hidup mereka tidak dibayang-bayangi ketakutan kena gerebek polisi.

Ciri khas ilustrasi buatan Tom of Finland adalah lelaki biker dengan jaket dan celana kulit, plus topi polisi, badan kekar dengan dada membusung, tambahan kumis tebal agar sangat, tidak ketinggalan kacamata hitamnya.

Tuoko memiliki kekasih seorang pemuda berambut tebal dan berwajah menggemaskan, bernama Veli. Pada awalnya, dia adalah salah satu penyewa kamar. Tuoko ingat pada pemuda yang pernah diajaknya bercinta di balik pepohonan lalu dipukuli polisi yang berpatroli itu, meski Veli mengaku tidak ingat mungkin karena itu rahasia yang tidak ingin diketahui siapa pun. Adik Tuoko suka padanya, tapi toh hati tidak bisa dipaksakan. Tapi ada satu poin yang saya catat dan itu tidak hanya terlihat pada satu film gay. Bahwa bercinta dengan lelaki lain seolah bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Selama mereka masih kembali dan memberikan kasih sayang. Fenomena yang sangat sulit ditemui pada film-film lesbian.

Pameran karya-karya Tom of Finland selalu ramai. Orang-orang dibuat tercengang-cengang dengan karyanya yang berani. Bahkan dibukukan dan diedarkan secara terbatas di Amerika Serikat. Saking larisnya, ada pula yang membajak dan langsung didatangi oleh pihak penerbit asli Tuoko untuk dibereskan.

Puncak konflik dari film ini mulai terasa ketika dua kejadian, sang kekasih mulai terserang penyakit yang tidak sembuh-sembuh dan juga pembredelan penerbit yang mengedarkan karya-karya beraroma homoseksual.

Film ini dominan menggunakan bahasa Finlandia, sisanya Inggris untuk setting di Amerika dan Jerman ketika setting Jerman.

Trailer:

Jogja, 3 Desember 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*