Trenggalek Punya Pilihan Pantai-Pantai Pasir Putih

Trenggalek Punya Pilihan Pantai-Pantai Pasir Putih
Trenggalek. Sumber gambar: wikipedia.com

Destinasi traveling gue kali ini adalah Trenggalek, bukan sebuah kota yang identik dengan objek wisatanya memang, tapi nggak ada salahnya juga ke sana. Gue spontan ngelakuin perjalanan ini, totally spontan. Awalnya gue rencanain hari Minggu, terus karena Senin kejepit hari libur, sekalian libur panjang kali ya.

Akhiirnya gue milih hari Sabtu, siang, karena pagi gue kudu servis motor dan ada janji ketemuan setelahnya. Oh ya buat trip kali ini, gue berhasil mecahin rekor packing tercepat, 15 menit! Gue nggak mikir terlalu panjang soal baju, secukupnya aja. Kamera yang gue bawa bukan yang Fuji, tapi pocket biasa, biar nggak makan banyak tempat di tas.

Gue berangkat jam 13.40. Untuk ke Trenggalek, gue miih jalur Wonosari-Pacitan. Dan, percaya nggak kalau gue bilang, gue nggak tahu berapa jam perjalanan yang harus gue tempuh nanti. Serius, gue nggak sempat browsing soal itu. Ya, gue kira-kira aja sekitar 2 jam lah dari Pacitan ke Trenggalek. Mungkin kalau gue sampe tau yang sebenernya, gue ga bakal ke sana dan kalau sampe gue tau duluan gimana kondisi jalanan yang harus gue lewati, yakin destinasi ini akan gue skip begitu aja.

Trenggalek ini letaknya di sebelah timur Pacitan, artinya jaraknya semakin jauh dari Jogja. Faktor ini akan jadi pertimbangan gue karena perjalanan pulang butuh waktu lebih panjang dengan adanya unsur lelah. fisik Berangkat dari Pacitan sekitar pukul 4 sore. Kalau perjalanan 2,5 jam, berarti sekitar jam 7 gue udah nyampe Jogja. Okelah, gue emang penasaran juga dengan perjalanan di malam hari.

Tapi, what a surprise! Perjalanan jauh lebih panjang dari yang gue duga dan jadi begitu ekstrem. Selain itu, jalanan setelah perbatasan Pacitan-Trenggalek kondisinya tidak memadai untuk dilewati kendaraan roda dua siang apalagi malam hari! Ya, kudu banget harus hati-hati melewati jalan ini karena lapisan di bawah aspal adalah bebatuan yang kalau kena hujan jadi licin. Awalnya gue pede lewat untuk satu kilo pertama. Entah karena kepedean jadi songong, gue mengalami sedikit accident. Ban motor gue slip dan tangan gue nggak sengaja ngengas mendadak. Alhasil, motor gue berputar ampe 180 derajat, sampe akhirnya jatoh tapi untungnya gue nggak ketimpa karena itu bakal sakit banget rasanya. Nah, sejak itu gue makin banyakin baca doa, nggak kepedean, apalagi kalau berpapasan sama truk, gue mending berhenti. Lampunya itu lho, silau, lampu motor gue kalah.

Kata seorang penjaga warung, perjalanan ke kota Trenggalek cuma 1,5 jam. Tapi lebih dan jauh banget ternyata. Fiuhh, tapi mau balik arah gue ogah banget. Sekali udah dapat tantangan, kenapa harus ditingalin coba? Sikaaattt, bro!!!

Jam 9 gue nyampe juga di kota Trenggalek. Makan malem baru deh gue cari penginepan. Seperti yang gue bilang sebelumnya, Trenggalek itu bukan kota wisata, jadi jumlah hotel pun terbatas. Cuma ada 3 hotel di kota ini, Gotong Royong, Widodari (atau yang berawaan W gitu deh), sama Hayam Wuruk. Gotong Royong tipikal hotel murah, gue sempat lihat salah satu kamar, yang paling mahal, harganya 75.000. Dalamnya ada TV, AC, ama kamar mandi dalam. Masih kalah jauh sama hotel gue dulu di Bandungan yang harga 55.000. Makanya gue nggak ambil. Gue lalu ke Hayam Wuruk.

Ini hotel termewah di kota Trenggalek, gue ambil kamar yang 225.000/malam. Fasilitas komplit (tanpa air panas) dengan jatah sarapan untuk 2 orang. Tapi gue nggak begitu terkesan dengan hotel ini. Karena pelayanannya biasa aja. Termasuk restoran yang udah tutup jam 10 malem padahal gue pingin minum yang anget-anget sebelum tidur. Oh ya, sepertinya Trenggalek bukan kota yang kenal kehidupan malam, beda dengan Jogja. Penjual makanan sudah mau tutup jam 9 menjelang jam 10, kalau mau beli makanan berat udah jarang yang jual. Dan itu akhirnya ikut ke hotel, restorannya nggak 24 jam.

Keesokan harinya setelah sarapan, gue check out dari hotel dan menuju Pantai Prigi. Ini adalah pantai yang direkomendasikan penduduk setempat. Perjalanan ke pantai ini hanya sejam lebih, mungkin kalau jalannya bener-bener mulus, bisa lebih cepat dari itu. Sekitar 18 kilo dari Prigi, jalanan yang harus gue hadapi lagi-lagi yang tipikal pegunungan, kadang menurun kadang mendaki. Gue udah mulai terbiasa untuk nggak panik dengan tikungan-tikungan berbahaya seperti itu. Jalanan dua arah memang rame, untuk menyalip itu agak susah dilakukan. Gue harus sabar mengantre dengan kendaraan lain. Tapi gue akui, jalan seperti ini emang lama-kelamaan jadi asyik juga kok (asal nggak jatoh aja sih, apalagi jatohnya nggak keren, no way!).

Pantai-Pantai
Prigi adalah pantai yang gue akui memang indah. Ombaknya nggak begitu tinggi karena memang nggak berbatasan langsung dengan laut lepas. Di sebelah barat pantai ada tempat pelelangan ikan di mana hasil lautnya bisa dinikmati di sejumlah warung yang ada di tepi pantai. Gue juga sempat mencoba cumi krispi dengan sambel terasi yang aduhay banget.

Untuk masuk ke tempat ini tidak dikenakan tarif, motor bisa bolak-balik masuk sepuasnya sampai ke tepi pantai. Tapi untuk rombongan yang datang dengan bis-bis besar sepertinya harus bayar dan masuknya pun lewat pintu yang berbeda.

Sesampainya gue di pantai ini, gue melihat ada hotel. Kebetulan nih, males banget kali ke mana-mana kudu manggul ransel yang yaaahh berat juga. Tarif di hotel ini lumayan murah, gue ambil yang 100.000/malam. Sayangnya hotel ini nggak ada restorannya, jadi kudu beli makan di luar.

Setelah istirahat bentar n pake sunblock (ceileh genit bener dah!!) gue langsung cabut ke Pantai Karanggongso yang satu area dengan Pantai Pasir Putih. Perjalanan ke kedua tempat ini tidak begitu lama meski jalanan sesekali menikung dan curam.

Pantai Karanggongso ini kalau dibandingkan dengan Prigi memang tidaklah begitu besar, tapi cukup rame. Sebuah komunitas jeep juga ada acara di sana. Soal fasilitas semacam warung makanan kecil, MCK, dan ban pelampung tersedia di sana. Kalau mau muter-muter dengan perahu juga bisa, untuk tarif perorangan 10.000/ kalau mau carter 100.000 (langsung berangkat tanpa nunggu penumpang lain) dan 250.000 dengan jarak tempuh yang lebih panjang dan bisa singgah di Pulau Mutiara nan jauh di sana, pulaunya kecil banget.

Oh ya untuk masuk ke kawasan ini, cukup bayar 8.000 (untuk motor termasuk parkir). Parkir boleh di mana aja kok dan sepertinya aman.

Di sebelah Pantai Karanggongso adalah Pantai Pasir Putih. Nah pantai ini boleh dibilang yang terlihat begitu ramai karena mobil dan bis-bis besar itu berderet-deret. Motor juga tidak kalah banyak jumlahnya. Pantai ini memang berpasir putih, lalu dibangun sebuah jembatan (ya meski kondisinya banyak yang bolong-bolong) yang menjadi hotspot brondong masa kini untuk poto-poto dan pacaran. Keramaian ini membuat gue sulit menikmati keindahan pantai. Gue pun memilih makan (ehm sebenernya emang gue udah laper sih) di salah satu warung makan yang tersedia. Yup jangan takut kelaparan di sini karena yang namanya rumah makan jumlahnya banyak, di beberapa tempat makan juga menyediakan suvenir berupa baju dengan harga yang kompetitif (maksud gue antara toko satu dengan lainnya harganya sama). Untuk harga makanan di sini nggak begitu mahal kok (menurut gue sih).

Setelah dari dua pantai itu, gue lanjut ke Damas. Ini adalah pantai dengan kategori perawan. Masih sepi dan penjual makanan di sini sedikit. Di sinilah gue baru mendapatkan aura pantai yang sesungguhnya.

Lagi-lagi sini ombaknya tidak begitu besar, airnya tampak biru dan cocok buat berenang. Gue nggak kepikiran buat berenang mengingat gue akan mobile selama beberapa hari. Di mana coba nyuci bajunya? So, gue hanya ngambil gambar dan pulang.

Setelah itu, gue mandi sebentar trus keluar lagi nyari makan. Atas rekomendasi seorang teman, gue pun mencicipi yang namanya nasi lhodo. Ternyata ini adalah nasi dengan ayam yang semacam digulai tapi agak pedes. Gue nggak tahu tepatnya bumbu-bumbunya apa aja, tapi lumayanlah. Rasanya unik.

Sore dan malam hari gue bolak-balik ke pantai. Yah secara gratis, nggak ada alasan untuk nggak ke sana kan? Biar kesannya gue romantis gitu cyinnn.

Hari berikutnya,, tujuan gue selanjutnya adalah kota Blitar. Yupz, ini adalah kota yang sangat terkenal karena Presiden Soekarno berasal dari sana dan dimakamkan di sana. Buat gue, Blitar adalah kota yang asing, serius. Gue jarang punya teman yang asalnya dari Blitar, gue juga jarang melihat ada tempat wisata di Blitar.

Tapi, lagi-lagi seorang teman ngasih beberapa alternatif destinasi yang boleh dicoba, antara lain beberapa pantai dan Gunung Kelud. Nah, gue berhubung udah maen ke 4 pantai, kayaknya kalau ke gunung bakal seru nih.

Gue nggak ada bayangan soal medannya Gunung Kelud. Ya, secara yang gue tau kan cuma Merapi ama Gunung Kidul. Yang jalannya menanjak itu pasti.

Perjalanan dari kota Blitar ke Gunung Kelud ini hanya sekitar 1,5 jam perjalanan, tapi buat gue yang nggak tau arah, emang jadinya lamaaaaa. Dan memang tidak mudah menemukan jalan ke Gunung Kelud. Petunjuk arahnya bahkan dari kota itu nggak ada. Yang ada hanyalah petunjuk ke arah makam Bung Karno. dan Candi Penataran. Dari beberapa penduduk, gue pun dapet ancer-ancer yang sedikit banyak membantu (meski ujung-ujungnya gue makin rajin bertanya karena setiap percabangan jalan bisa menyesatkan gue tanpa gue sadari).

Gue mengira perjalanan akan sangat ringan, tapi nggak. Dan gue hampir nggak jadi meneruskan perjalanan ketika sekitar 4 kilometer sebelum sampai di halaman parkir tempat wisata Gunung Kelud. Gue melihat jalanan dengan tanjakan bertingkat. OMG, nggak cuma itu, kabut juga udah mulai turun padahal masih jam 2 sore. Langit udah mulai mendung dan di bawah sudah sempat gerimis ringan. Oke ini challenge yang selanjutnya. Lanjut, enggak, lanjut, enggak. Duh! Swear, gue panik, sebelum akhirnya gue tetap melanjutkan perjalanan dan berharap kabut-kabut ini segera hilang, hujan ga turun, dan gue segera sampai di tujuan (traveler macem apa doanya kayak gini).

Finally gue sampai juga. Di tempat parkir cukup banyak kendaraan. Dan untuk antisipasi biar sepatu gue nggak basah, gue pun membeli sandal jepit baru.

Nggak lama kemudian, hujan pun turun. Yah, gue hanya bisa pasrah dan memilih tempat berteduih di salah satu pondok. Hujannya deras dan gue yang udah mulai nggak tenang karena mikirin jalanan pas pulang ntar, cuma bisa diem (yaiyalah, masak gue ngomong sendiri). Gue menunggu hujan, dan hujan nggak mau gue tunggu. Turun terus dan deras. Sejam nggak juga berhenti, akhirnya gue putuskan untuk pulang. Gue pasrah deh dengan jalanan mengerikan kayak gitu. Rem motor dan ban gue kondisinya prima kok cuma masalah mental aja rada cemen.

Thanks God, apa yang gue takutkan hilang begitu aja begitu gue melewati wilayah krusial yang gue bilang tadi dan turun sampai ke kota Blitar lagi. Nothing happened. Rasa takut emang perlu ada, tapi jangan dipiara kali yaaa, fight it! Bagi gue, ini adalah pengalaman seru yang nggak akan bisa gue lupakan meski nggak ada dokumentasinya. Yang pasti akan gue inget terus.

Gunung Kelud sepertinya menjadi my last destination. Yupz, masa liburan sampe di sini dulu. Ya, buat gue, sesingkat apa pun traveling gue, akan ada cerita yang gue dapetin, experience is a expensive thing lho yaa.

Perjalanan pulang gue juga nggak kalah asyiknya. Gue nggak muter balik dengan melewati Tulungagung, Trenggalek, dan Pacitan. Rute gue yang direkomendasikan seorang teman adalah sebagai berikut:

Blitar-Kediri-Kertosono-Nganjuk-Madiun-Magetan-Sarangan-Tawangmangu-Karanganyar-Solo-Jogja

Estimasi waktu yang dikasih ke gue adalah 8 jam. Hmm cukup bbikin gue mikir nih. Gue berarti butuh berapa jam, kondisi jalannya bagus apa nggak? Bisa-bisa gue kemaleman lagi di jalan dan gue tahu yang namanya Tawangmangu itu gunung. Deuhh!! Satu-satunya cara yang bisa gue lakukan adalah berangkat pagi. Yaaa sepagi-paginya tetep jam 9 sih, sempat nonton sinetron dulu gue (hahah!)

Gue pun check out dan memulai perjalanan lagi. Gue cukup mengingat tujuan gue di awal perjalanan adalah Kediri dan Kertosono. Jalanan menuju Kediri itu bisa gue bilang lumayan mulus and bisa ngebut bo’. Kendaraan pun tidak banyak yang lalu-lalang. Pemandangannya juga asyik, sawah-sawah gitu. Kadang juga ada yang jalanannya begitu teduh karena pohon di kiri dan kanan jalan. Bahkan, nggak cuma itu, ada jalanan yang lurus banget, di sini nih kesempatan banget bisa kebut-kebutan (asyekkk akhirnyaa!)

Begitu sampe di Kertosono, gue mulai melihat bis-bis antar kota, ada Eka, Sumber Slamet (gue paling males ya kalo papasan sama bis ini, karena kalau dalam posisi mau melambungi kendaraan lain, pasti menguasai badan jalan. Dan gue bersama kendaraan lain dari arah berlawanan kudu cepet-cepet minggir sebelum jadi korban), ada Mira juga. Pokoknya bis-bis yang dari Surabaya itulah. Di sini gue masih bisa kebut-kebutan tapi emang kudu hati-hati karena ada bagian jalan yang agak kurang mulus dan asoy banget tuh kalau pas ngebut terus kena jalan yang berlubang (hahaha!).

Di Nganjuk sampe Magetan, jalanannya biasa aja. Baru deh ketika di Sarangan gue berhenti (karena laper *eh) Sarangan ini kayak Kaliurang atau Bandungan. Di sana yang menjadi daya tariknya adalah Telaga Sarangan. Gue nggak ke sana karena gue emang nggak begitu tertarik dan lagi gue masih ada kekhawatiran kemaleman di tempat dengan jalanan ekstrem.

Di Sarangan ini ketika jalanannya udah semakin menanjak, banyak orang yang jualan makanan, mulai yang ringan-ringan kayak jagung bakar sampe yang makanan nasi dan lauk-pauknya. Ada juga yang jualan bensin, jadi lengkap di sini. Hawa di sini sangat sejuk, dan pemandangannya bikin mata seger deh. Berhubung pas tanggal merah, ya jalanan cukup rame dengan kendaraan roda dua atau empat, kebanyakan dari luar kota memang. Menuju Sarangan yang masih masuk wilayah Jawa Timur, jalanannya sebagian besar menanjak, sementara Tawangmangu sebaliknya. Gue pingin sih nyoba rute Tawangmangu-Sarangan (someday).

Ketika udah melewati Tawangmangu, Karanganyar dan Solo, gue bisa lega. Udah nggak ada lagi daerah asing yang harus gue lewati. Ketika sampai Solo, hujan turun cukup deras. It’s okelah, emang masih musim hujan ini.

Gue nyampe di rumah jam 6 sore, dan total perjalanan gue 9 jam lebih dikit. Lumayan. Ketika berhenti gue emang nggak terlalu lama dan seperlunya aja.

Oh ya, kalau ditanya soal total biaya buat bensin, gue nggak inget berapa kali ngisi bensin, tapi ada beberapa kali gue ngisi ketika tank masih setengah pas melewati daerah penuh tanjakan. Sungguh nggak lucu kehabisan bensin pas lagi pose keren-kerennya gitu, bukan? Yang pasti, untuk transportasi lebih murah dari biaya yang dikeluarkan kalau nggak bawa kendaraan sendiri lah ya dan nggak bakal wasting time buat nungguin kendaraan umum yang lewat.

Oh ya soal sinyal HP, di beberapa spot yang tadi gue sebutin sering gangguan, bahkan sampai SOS (nah lho bisa apa coba dengan sinyal kayak gitu. So, lebih baik nikmati liburan tanpa harus sibuk dengan media sosial, setuju? 🙂

DIVA Press office, Yogyakarta, 13 Maret 2013, 17.54 WIB

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response