Trouble at Timpetill (2008); Film Anak-Anak yang Ditinggalkan Orang Tua

Trouble at Timpetill (2008); Film Anak-Anak yang Ditinggalkan Orang Tua
Trouble at Timpetill (2008). Sumber gambar: IMDB

Trouble at Timpetill (berjudul asli Les enfants de Timpelbach) adalah salah satu film anak buatan sineas Prancis, dengan mengadaptasi novel karya Henry Winterfeld. Sangatlah panjang bagi sang sutradara sekaligus produser Nicholas Bary untuk mewujudkan impian masa kecilnya mengangkat buku ini ke layar lebar juga. Beberapa penyesuaian pun juga banyak dilakukan agar kisahnya mudah diikuti para penonton.

Dibintangi oleh sejumlah anak dan remaja, beberapa di antaranya kini menjadi pemain film profesional seperti pemeran Marianne (Adèle Exarchopoulos-Blue is the Warmest Color, Down by Love, The Anarchists) dan juga Mireille (Lola Créton-Something in the Air, Goodbye First Love). Ada pula tokoh aktor papan atas seperti Gérard Depardieu (The Man in the Iron Mask, Life of Pi, Mata Hari).

Anak-anak dan kenakalan. Apa yang aneh dari itu? Namun kenakalan itu seharusnya ada batasnya. Itulah yang menjadi pemicu keresahan para orang tua atas tingkah keterlaluan anak-anak mereka. Sebenarnya tidak semua anak berperilaku menyebalkan. Sebagian adalah anak-anak manis yang duduk di bangku sekolah meskipun mereka tidak melulu mendapatkan nilai bagus. Mereka punya bakat dan potensinya masing-masing. Ada yang pintar lalu kemudian menjadi congkak, ada yang belajar dengan keras meski hasilnya biasa saja, ada yang terlalu terdistraksi dengan hal lain. Sementara di luar sana, anak-anak yang tidak bersekolah senang membuat kericuhan. Dipimpin oleh Oscar. Jika membaca Harry Potter, karakternya seperti si Malfoy. Dingin dan pemberontak.

Kecemasan para orang tua akhirnya berujung pada sebuah rapat rahasia. Debat punya debat, mereka memutuskan diam-diam meninggalkan rumah menuju kota. Salah satu anak yang tahu akan rencana itu adalah Thomas, anak pendiam dan anti dengan gengnya Oscar.

Pagi hari pun datang. Keanehan itu pun langsung disadari oleh anak-anak yang mencari orang tuanya begitu bangun tidur. Tidak ada sarapan, tidak ada air, tidak ada sekolah. Sepi seperti kota mati. Terdengarlah tangis anak-anak yang kehilangan orang tuanya. Namun Marianne berusaha untuk menenangkan mereka. Dia adalah tokoh yang usianya mungkin sekitar 12-13 tahun, bisa menggandeng bocah-bocah yang cemas dengan nasib mereka. Sementara itu, di lain pihak, Oscar tertawa senang. Kebebasan sekarang ada di pihaknya. Tidak ada lagi yang akan menghalangi apa pun yang dia inginkan. Para pengikutnya tidak sedikit. Mereka merayakan kebebasan dengan hidup bak orang dewasa. Berkumpul di bar, main kartu, minum alkohol, merokok.

Oscar ingin menguasai Desa Timpetill sepenuhnya, tapi Marianne dan sekutunya tidak tinggal diam. Mereka saling berbagi tugas untuk mempertahankan diri dari serangan lawan.

Trouble at Timpetill melibatkan begitu banyak anak-anak dalam balutan busana ala penduduk desa zaman dahulu. Wajar saja jika masuk nominee Best Production Design (Meilleurs décors) versi César Awards tahun 2009. Sebagian besar bukanlah aktris yang terbiasa berakting di depan kamera namun arah sutradara membuat kecanggungan tergerus dengan sendirinya.

Setting tempat Trouble at Timpetill dibuat semirip mungkin dengan lokasi asli dalam novel, sebuah pedesaan di kaki gunung bangunan ala Abad Pertengahan, ada menara dengan lonceng gereja, ada tempat workshop rahasia untuk merancang alat-alat berteknologi tinggi, rumah dengan pipa air yang sering mati di pagi hari, bahkan di ruang belajar pun ada ruang rahasia.

Durasi film yang hanya 95 menit membuat cerita menjadi sangat dipadatkan. Ada dua fokus alur yang berjalan bersamaan, tentang si anak-anak dan tentang para orang tua. Cerita tentang para orang tua mendapatkan porsi jauh lebih sedikit. Mereka tersesat, ditangkap pasukan militer dan dibawa ke markas lalu berusaha melarikan diri dan tentunya ingin segera kembali memeluk anak-anak mereka.

Puncak peperangan antara pasukan Marianne dan Oscar terjadi dengan cara ala anak-anak yang lucu-lucu. Mereka menggunakan alat apa saja untuk menaklukkan lawan. Tim Oscar badannya besar-besar dan tidak punya rasa belas kasihan. Tim Marianne bukanlah anak-anak yang tahu caranya berkelahi. But, brain is stronger than muscle, right. Mengandalkan kecerdikan, Marianne percaya bahwa kebaikan akan selalu mengalahkan kejahatan. Dan kejahatan bukanlah sesuatu yang abadi.

Trailer Trouble at Timpetill (2008):

Jogja, 30 Desember 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response