Violette (2013); Film Tentang si Bastard yang Menggilai Simone de Beauvoir

Violette (2013); Film Tentang si Bastard yang Menggilai Simone de Beauvoir
Violette (2013). Sumber gambar: IMDB

Violette Leduc (7 April 1907-28 Mei 1972) berasal dari kalangan bastard. Saya tergelitik dengan istilah bastard, sebab pastilah tidak merujuk pada ucapan makian pada seseorang. Sebuah artikel di Wikipedia menjabarkan bahwa bastard merupakan sebutan bagi anak yang lahir di luar nikah. Violette lahir di tahun 1907 sementara penghapusan istilah anak haram dan pendiskriminasian di Prancis baru diberlakukan sejak tahun 1970 hingga sekarang.

Suami Violette (Emmanuelle Devos-Coco avant Chanel) adalah seorang penulis homoseksual berdarah Yahudi-Prancis bernama Maurice Sachs yang sebagian besar waktunya dihabiskan untuk menulis dan mendapatkan bayaran dari pekerjaan itu. Hubungan keduanya dingin, Maurice terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

Kehidupan di zaman perang membuat bahan makanan sulit didapatkan sehingga menjamurlah pasar-pasar gelap. Orang-orang janjian bertemu di suatu tempat untuk bertransaksi dan lari terbirit-birit jika ketahuan pihak berwenang. Toko-toko banyak yang tutup dan tidak tahu kapan akan dibuka kembali. Hingga pindah ke Paris, setelah ditinggalkan Maurice ke Jerman, Violette masih juga menjadi bagian pasar gelap. Dia rela tinggal di flat jelek dan menabung sebisa mungkin. Tulisan-tulisannya mulai menghasilkan uang. Selama bersama Maurice, dia menjadi pembaca pertama yang kritis. Dapat diandalkan. Maurice sangat tahu, Violette punya bakat menuangkan inspirasi-inspirasi ke dalam tulisan. Semangatnya makin menggebu setelah mendengar nama Simone de Beauvoir. Seorang penulis tenar, karya-karyanya banyak dicari dan kontroversial di masa itu.

Sumber gambar: IMDB

Rasa penasaran Leduc tidak semata-mata kekaguman. Tapi sampai jatuh cinta. Bukan pertama kalinya ini terjadi. Dia pernah memiliki hubungan dengan salah satu siswa di asrama sekolah.

Simone de Beauvoir mengakui jika murid barunya memiliki kekhasan. Setelah Violette menyerahkan manuskrip yang ditulis tangan, Simone tidak ragu menawarkannya pada kepada Albert Camus. Dan voila! Terbitlah L’Asphyxie di tahun 1946.  Sebagai penulis baru, dia harus maklum jika bukunya tidak beredar luar seperti buku-buku sang mentor. Pernah dia berpura-pura menanyakan ke sebuah toko buku. Si petugas dengan entengnya mengatakan tidak pernah mendengar tentang buku itu. Padahal, Simone mengatakan, novel itu akan dicetak dengan eksemplar besar. Violette sedikit kecewa karena sudah mempromosikan penuh semangat, termasuk pada kekasihnya. Saya lupa siapa namanya.

Tulisan-tulisan Violette tidak hanya puitis, namun juga erotis. Padahal di masa itu, sensor terhadap erotisme sangat ketat. Dia harus rela jika beberapa bagian dalam bukunya harus dihilangkan demi perkara moral. Dalam film ini kita juga bisa sedikit melihat gambaran seorang Simone de Beauvoir yang elegan, kalem, tapi ambisius. The Second Sex merupakan salah satu karya terbesarnya. Terbit pada tahun 1949, setahun setelah novel kedua Leduc yang berjudul L’affamée.

Rasa cinta Violette pada Simone tidak ingin ditutup-tutupinya. Teman-teman Simone akhirnya pun juga tahu. Tidak hanya perkara cinta yang bertepuk sebelah tangan, Leduc berani pula mengungkapkan kisah percintaannya, pernikahan yang gagal, dan aborsi sekian tahun silam dan masih terus terekam di ingatan.

Film ini bisa menjadi inspirasi bagi para penulis di luar sana. All you have to do is working, is writing.

Karya-karya Violette Leduc:

  1. L’Asphyxie, 1946.
  2. L’affamée, 1948.
  3. Ravages, 1955.
  4. La vieille fille et le mort, 1958.
  5. Trésors à prendre, suivi de Les Boutons dorés, 1960.
  6. La Bâtarde, 1964.
  7. La Femme au petit renard, 1965.
  8. Thérèse et Isabelle, 1966.
  9. La Folie en tête, 1970.
  10. Le Taxi, 1971.
  11. La Chasse à l’amour, 1973.

Trailer Violette:

Jogja, 2 Maret 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response