Wattpad; Sebuah Keramaian yang Tidak Mudah Dipahami Semua Orang

Wattpad; Sebuah Keramaian yang Tidak Mudah Dipahami Semua Orang
Wattpad. Sumber gambar: amazon.co.uk

Buka pikiranmu, dan kamu akan menemukan jawaban atas pertanyaan yang kamu cari. (Saya sendiri)

Beberapa bulan belakangan ini, sejumlah penerbit mulai melirik Wattpad sebagai salah satu sumber untuk menggali omzet. Di antara sekian banyak media online di mana para penggunanya bisa memosting karya fiksi secara berkala—atau sesempatnya merekalah untuk memasukkan lanjutan cerita—Wattpad menjadi landasan mulus untuk mendaratkan sejumlah surat kontrak penerbitan yang melayang-layang mencari tangan untuk menandatanganinya. Bahan pertimbangan penerbit untuk memilih naskah adalah angka komulatif pembacanya. Dibaca jutaan kali adalah sebuah kehebatan bukan. Siapa sih yang rela meluangkan waktu membuka ponsel dan membaca sebuah cerita yang belum tentu kapan akan tamat, memberikan vote, dan berkomentar? Apakah mereka orang-orang yang hidupnya jauh dari rutinitas sedari pagi hingga malam? Mereka yang lebih banyak bergaul dengan ponsel ketimbang berbicara dengan teman di dunia nyata?

Tapi tunggu dulu, perkara Wattpad tidak sesederhana itu.

Penerbit tempat saya bekerja, boleh dibilang agak terlambat menyelami dunia media menulis cerita online ini dengan lebih serius. Sekitar bulan April 2016, saat itu, ada sebuah naskah yang memiliki penjualan teramat gila. Gila, karena harga jualnya tidak tanggung-tanggung untuk level anak SMA hingga kuliahan. Gila, karena eksemplar yang terjual dalam satu bulan, itu hanya bisa dicapai segelintir buku berkategori fiksi.

Saya tidak akan menyebutkan angka. Tapi deretan angka yang tertulis cukuplah untuk membeli rumah, kredit mobil, beli road bike carbon, nonton konser Purpose-nya Justin Bieber, ketemuan di kafe sama Kim Kadarshian, lalu mabuk-mabukan duren di Medan.

Penjualan bulan pertama yang menyejutkan dengan program PO edisi bertanda tangan dan sebagainya di sejumlah toko buku online.

Kami merasa perlu juga merasakan euforia Wattpad. Maka dimulailah misi pencarian naskah. Tim saya, ada saya dan 4 editor membuat akun dan memposting cerita-cerita kami. Ya, nggak, lah! Kami membuat filter-filter di mana nantinya naskah yang muncul di layar dan minta dibaca adalah naskah-naskah yang konon sudah dibaca jutaan kali. Perkara jutaan itu ada yang nge-klik berulang-ulang tiap hari atau memang ada sekian manusia yang merasa terikat dengan kisah yang dihadirkan penulis yang sering kali tidak banyak memberikan biodata terlalu panjang. Mungkin mereka memang tidak punya prestasi di bidang tulis-menulis, atau sebenarnya mereka adalah samaran dari penulis-penulis besar yang ingin mencoba gaya baru. Mungkin juga mereka agen CIA yang sedang mengintai anggota ISIS.

Jutaan kali dibaca memang bukan berarti tiap bab dibaca segitu jumlahnya. Misal satu bab saja dibaca 100.000 kali, kan 10 bab sudah terhitung 1 juta. Rumus yang sangat sederhana. Apalagi kalau babnya mencapai 40. Itu sudah 4 juta. Belum ditambah, kalau si penulis minta seluruh keluarganya buat nge-klik sehari 5 kali sebelum dan sesudah shalat wajib, sebelum dan setelah shalat Dhuha, plus didoain biar yang baca makin berlipat. Bayangkan betapa dampaknya tidak main-main. Itu cuma bisa-bisanya saya aja kok. Realitasnya, tanyalah sendiri sama penulis Wattpad yang sudah bergelimang uang dari royalti.

Buat kami—sebuah tim redaksi—Wattpad adalah seperti hal tidak serius yang seharusnya tidak perlu didekati. Kami selama ini menerima kiriman-kiriman naskah yang sama sekali tidak bersinggungan dengan Wattpad. Lalu mengapa harus melirik Wattpad hanya perkara lagi tren?

Saya pribadi pada awalnya skeptis. Mana dulu nih yang mau kami ambil? Cerita seperti apa yang bisa bersaing di pasaran ketika ditulis secara instan? Kami tidak pernah tahu bagaimana proses penulisan ini, kecuali si penulis mengatakan di catatan-catatan mereka.

Pekerjaan dimulai. Beberapa naskah mulai dikumpulkan, dievaluasi seperti cara kami mengevaluasi. Perjalanan terasa buntu. Tidaklah mudah mendapatkan naskah yang kami semua sepakati untuk diterbitkan. Untuk mendapatkan satu naskah kami mengisolasi diri dalam satu ruangan dan saling melempar pendapat. Kritik-kritik mengudara. Perut kami pun cepat terasa lapar.

Ketika kami menjatuhkan sebuah pilihan, penulis tidak bisa kami hubungi. Akunnya hiatus. Komentar-komentar menganga seperti anjing kelaparan. Kami mencari lagi, di tengah lelahnya menghabiskan energi. Maklum, kami tidak ada yang menyuka minuman berenerji. Madu arab pun tidak. Harganya sangat mahal. Konon katanya, lebah arab itu tidak bisa berbahasa Inggris.

Mencari itu semelelahkan menunggu. Memang lebih mudah meninggalkan. Kami menemukan 1 naskah, menjadi naskah Wattpad pertama yang terbit di tempat saya bekerja. Sudah beredar sejak bulan Desember tahun lalu berjudul An Eternal Vow. Dibandingkan dengan naskah-naskah dari penerbit lain dengan kuantitas pembaca lebih banyak, karya Iyesari masih level 1,9 juta.

Kami memilih naskah itu tersebab memenuhi kualifikasi yang kami mau. Pertama, dari jumlah pembaca. Kedua, kualitas naskah itu sendiri. Kami akui, banyak naskah dengan kisah-kisah yang baik namun sedikit lambat dalam memikat perhatian pembaca. Saya mengakui bahwa Tuhan itu adil. Jika yang baik selalu mendapatkan perhatian lebih, dan yang di luar itu tersingkirkan, sungguh betapa banyak manusia yang perlu menenggak antidepresan. Jika semua lelaki tampan tidak ada yang melajang sampai dia menjadi kakek-kakek, maka Tuhan tidak adil. Perempuan pun begitu.

Saya tidak sedang meresensi novel, saya mengambil perspektif dari seorang editor yang dipaksa untuk menelan kenyataan bahwa kekuatan pasar sama misteriusnya dengan alien dari planet lain menunggu giliran tarung dengan Alex Danvers. Saya yang telah membentuk pikiran dan cara berpikir ala generasi 80-an, harus melakukan perombakan resepsi sebab kebaruan itu adalah sebuah bukti bahwa dunia itu berputar. Tidak pernah berhenti, maka ikuti saja atau kau perlu nenggak obat sakit kepala cap Bintang Toedjoeh

Bahwa Wattpad punya gaya, itu adalah kuncinya. Bahwa gaya Wattpad adalah makanan generasi muda yang kreatif dengan meleburkan sejumlah teknologi di dalamnya. Seandainya satu orang hanya membaca sekali untuk 1 bab, apa yang membuat massa sebesar itu membaca? Dari mana mereka tahu? Apa yang membuat mereka tertarik? Bagaimana mereka mengatur sedemikian rupa?

Untuk orang-orang seusia saya, yang selalu berusaha memahami sesuatu dengan atas nama logika, jawaban itu hanyalah akan ada di langit, menggantung entah di balik bintang yang mana. Saya menarik napas panjang, mematikan otak kiri sejenak, membiarkan imajinasi di tiap-tiap baris membawa saja ke sebuah situasi yang baru, berada di depan panggung, tokoh-tokohnya berada di atas sana dan membawakan peran. Mencoba menikmatinya. Mencoba mencintainya. Cinta akan membawamu ke satu fase paling penting dalam kehidupan, setia sampai cerita itu berakhir.

Menikmati rasa sakit, rasa senang, rasa sedih, rasa benci hingga level 100 persen. Jauhkan dulu keinginan untuk berkomentar soal logika-logika berceceran di lantai, tokoh-tokoh yang namanya berubah tiba-tiba, kejadian-kejadian yang membuat kening berkedut dan berkerut. Masuki dunia mereka.

Di sisi dan kanan saya beberapa penonton berteriak-teriak memaki, ada yang memberi tepuk tangan, ada yang bertanya-tanya mengapa tokohnya begitu tidak masuk akal. Mereka tidak mengatakan harusnya begitu atau harusnya begitu. Mereka hanya berkoar tanpa makna, bermain tanda seru dan tanda tanya, bermain emoticon ketika ada adegan yang memecahkan keasyikan mereka. Saya mengamati wajah-wajah yang gemas, tapi sabar. Audiens yang luar biasa setia. Pendengar yang baik. Mungkin sebagian kawan-kawannya sendiri dari kampus atau sekolah.

Wattpad adalah sebuah kesenangan. Di mana salahnya? Apa salahnya menulis meski tidak sempurna. Tidakkah itu lebih baik dari hanya membaca dan berkomentar tanpa pernah menulis? Jika Justin Bieber dikenal dari Youtube, apakah kemudian dia puas hanya dengan menikmati gelontoran dana dari google setelak klik iklan? Bukanlah kemampuannya sangat bisa untuk diasah sementara penyukanya sudah sangat besar jumlahnya? Wattpad hanyalah batu loncatan, sebagai portfolio yang membawa seseorang ke tantangan yang lebih besar. Menulis yang lebih fantastis, pembaca lebih berkali lipat, dan kontrak-kontrak penerbitan yang mengantre ditandatangani.

Atau kau terlalu malu untuk menulis di Wattpad. Mungkin bukan malu, itu hanya si ego yang bisa kau kubur dalam-dalam dari sekarang. Pesanlah batu nisan terbaik.

Jogja, 6 Januari 2017

Leave a Response