Watu Lawang Jogja; Wisata Alam Murah di Atas Tebing Imogiri

Watu Lawang merupakan salah satu objek wisata alam di Imogiri. Selain Kebun Buah Mangunan dan Hutan Pinus, kunjungi juga Watu Lawang yang belum begitu ramai didatangi wisatawan. Boleh jadi karena memang belum lama spot ini dibuka.

Watu Lawang Jogja; Wisata Alam Murah di Atas Tebing Imogiri
Panorama dari atas jembatan. Sumber gambar: TapakRantau

Sabtu pagi sebenarnya saya ada rencana bersepeda ke Hutan Pinus bersama seorang kawan. Tapi kemudian dia mengabari sedang berada di luar kota. Jum’at malam saya berencana ke Solo atau menyusuri rute Audax 100 kilometer. Kenyataannya, pagi harinya saya merasa begitu malas bergerak dari tempat tidur.

Pikir punya pikir, kok sayang banget ya kalau seharian cuma tidur-tiduran saja. Lalu mulailah saya mencari tempat yang bisa ditempuh dengan 1–2 jam perjalanan. Mengingat saya tidak jadi ke Hutan Pinus bareng temen, tidak ada salahnya ke sana sendirian. Sekalian saya mau mengingat-ngingat kembali seberapa banyak tanjakan yang harus dilewati. Siapa tahu suatu hari saya niat bersepeda ke sana.

Dari kosan saya di daerah Wonocatur ke Mangunan, Imogiri, tidaklah terlalu jauh. Boleh dibilang, terlalu singkat perjalanannya. Menuju Mangunan, sebenarnya ada beberapa spot yang pernah diulas sejumlah bloger Di antaranya Gardu Pandang dan Watu Goyang. Tapi, saya akhirnya urung ke sana. Urung pula ke ke Hutan Pinus.

Saya melihat adanya plang Watu Lawang dan Bukit Hijau BNI. Bukit Hijau merupakan salah satu spot favorit teman-teman pesepeda saya. Konon katanya di sana indah tapi medannya masih agak sulit. Rasa penasaran membuat saya meneruskan ke Watu Lawang saja. Masih asing di telinga, menjadi alasan lebih kuat mendahulukan ke sana.

Setelah memilih arah ke Watu Lawang, tiap percabangan selanjutnya selalu ada petunjuk ke sana. Jangan khawatir tersesat. Kondisi jalan yang bersahabat membuat perjalanan yang penuh dengan tanjakan menjadi ringan saja. Saya sih kalau diajak naik sepeda ke sini, mungkin pulangnya saja deh.

Pos retribusi terletak tepian jalan yang berlapis semen. Lebar jalan hanya untuk satu mobil. Saya tidak bisa membayangkan jika bus-bus pariwisata masuk sana. Tiket masuk hanya 3.000 (motor dan sepeda), 7.000 (mobil), ELF (10.000). Tidak ada biaya parkir lagi.

Watu Lawang Jogja; Wisata Alam Murah di Atas Tebing Imogiri
Jalanan semen yang curam. Sumber gambar: TapakRantau

Berhati-hatilah bagi pengendara motor. Jalanan berlapis semen tadi sangat curam. Ekstra hati-hati jika tiba di saat hujan turun.

Belum terlihat banyak motor yang diparkir. Warung-warung penyedia jajanan pun terlihat sepi. Tempat ini terjaga kebersihannya. Tidak berbeda jauh dengan Kebun Buah Mangunan di mana tempat pembuangan sampah tersedia di banyak titik. Tolong jangan buang sampah sembarangan ya.

Watu Lawang Jogja; Wisata Alam Murah di Atas Tebing Imogiri
Warung-warung jajanan. Sumber gambar: TapakRantau

Pengelola Watu Lawang seolah ingin menghadirkan suasana alam yang harmonis dengan bangku-bangku, pondok-pondok, dan ayunan dengan bahan bambu maupun kayu. Andalan Watu Lawang adalah jembatan kayu di atas tebing sebagai spot klimaks fotografi. Tapi jangan salah, di sini banyak spot strategis untuk mendapatkan gambar yang ciamik. Bebatuan besar yang difasilitasi tangga-tangga kayu—berhati-hatilah saat memanjatnya—mengantarkan kita pada panorama khas Mangunan. Saya bilang demikian, karena apa yang kita lihat di Watu Lawang, tidak jauh beda saat berada di Kebun Buah. Pegunungan di kejauhan, deretan sawah hijau, Sungai Oya, dan rumah-rumah penduduk di bawah sana.

Watu Lawang Jogja; Wisata Alam Murah di Atas Tebing Imogiri
Spot fotografi Watu Lawang. Sumber gambar: TapakRantau

Yang membuat berbeda adalah titian kayu di ujung tebing. Eksotisme alam akan menyatu dengan hasil kreasi manusia, lalu terabadikan melalui lensa kamera. Sebelum menaiki titian kayu yang akan menjadi licin setelah tersiram hujan, isilah kotak yang tersedia di sana. Ada seorang kakek yang menjaga kotak itu dan tidak menyebutkan berapa tarif berfoto di jembatan. Menilai rasa ikhlas itu padahal serumit membaca isi hati. Jika bingung mendefinisikannya, lihat saja berapa nominal yang dominan mengisi kotak tersebut.

Di potongan tiket masuk, saya tidak mendapatkan informasi secara detail, siapa pengelola Watu Lawang. Tapi melihat terjaganya tempat ini, si pihak pengelola sepertinya punya manajemen yang cukup diandalkan. Fasilitas toilet memang masih terbatas. Saya tidak melihat adanya mushala. Ada pos ojek dengan tarif 5.000 untuk yang parkir mobil, sebab letaknya agak jauh.

Langit makin mendung. Saya belum memutuskan pulang. Sebuah pondok tidak jauh dari titian saya tempati sejenak untuk rehat. Suhu udara yang sejuk membuat kantuk yang sudah mengganggu mata saya semenjak berangkat, makin parah. Perlahan kabut turun, semakin lama semakin tebal. Hujan kemudian. Beberapa pengunjung masih terlihat berfoto di jembatan. Saya tidak paham apa yang bisa membuat seseorang puas mengambil foto dengan objek yang sama hingga berkali-kali toh yang nantinya akan diposting hanya satu.

Hujan semakin deras ditambah angin. Mereka menyerah dan berbondong-bondong berlindung di pondok tempat saya mengaso. Atap terpal pondok menahan air yang tumpah dari langit. Hanya saja gegara angin, tempiasnya kena kami juga akhirnya.

Watu Lawang Jogja; Wisata Alam Murah di Atas Tebing Imogiri
Tangga dari parkiran menuju Watu Lawang. Sumber gambar: TapakRantau

Seperempat jam kemudian, hujan reda. Saya meninggalkan pondok paling belakangan. Mencapai tempat parkir saya harus menaiki anak-anak tangga yang tinggi-tinggi. Benar-benar membakar kalori nih. Sebelum benar-benar pulang, saya menyempatkan diri beristirahat sejenak di salah satu warung jajanan. Segelas teh panas terdengar tepat melawan serangan dehidrasi. Mendung menandakan serangan hujan boleh jadi akan datang lagi. Benar saja, tidak lama setelah meninggalkan area Watu Lawang, hujan mengiringi perjalanan saya melewati jalanan dengan turunan-turunan curam.

Beberapa pesan:

  1. Kondisi area Watu Lawang di musim penghujan agak licin, pastikan gunakan sejenis sandal gunung.
  2. Jika membawa anak-anak, awasi baik-baik. Ada banyak titik yang tidak diberi pagar pengaman dan langsung ke jurang, juga tidak ada papan-papan peringatan.
  3. Jika melihat ada antrean orang yang ingin berfoto, sebaiknya Anda tidak malah justru berlama-lama.
  4. Anda hanya bisa membuang karbondioksida dan gas-gas lainnya di sembarang tempat, sampah-sampah pribadi buang di tempat yang tepat.
  5. Jangan lupa untuk kembali ke sana.

Peta ke Watu Lawang klik di sini:

Jogja, 14 Januari 2017

Leave a Response