Wawancara dengan Peneliti dari Universitas Indonesia

Hampir lupa saya menceritakan tentang hal ini. Beberapa hari lalu, Redaksi Fiksi diberi kesempatan untuk diwawancarai oleh peneliti dari Universitas Indonesia, tepatnya Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Program Studi Jepang. Penelitian ini ada karena sebuah lomba novel Jepang tingkat remaja yang pernah diadakan DIVA sekitar dua tahun lalu. Saking lamanya, saya perlu membongkar file-file lomba hingga penjurian untuk mengingat kembali bagaimana perjalanan lomba tersebut hingga terpilih juaranya. Untung semua arsip tersimpan di blogdivapress.com. Tidak hanya itu, untuk mengumpulkan buku contoh, harus mencari-cari dulu di perpustakaan.

Sebelum ketemu dengan Mas Himawan dan Mbak Arsy, sebelumnya saya sudah dikontak oleh Mbak Dewi untuk memberikan gambaran wawancara. Saya menyanggupi karena bagaimanapun sebuah penelitian akademik tidak seharusnya dihalangi-halangi pelaksanaannya.  Selain saya juga ingin tahu apa sih yang sebenarnya ingin digali dari wawancara ini. Ada sebuah abstrak penelitian yang telah sampai ke meja saya, tapi dengan “in depth interview” pasti ada hal lain yang ingin diketahui.

Maka, saja ajak Ajjah, yang dulu juga menjadi juri lomba, ikut serta dalam wawancara. Akan lebih baik jika ada dua sudut pandang, tentu saja, selama wawancara kami akhirnya berbagi tugas. Dia menjawab pertanyaan seputar penjurian dan editing, dan saya bagian tren buku-buku Jepang. Saking lamanya tidak menyentuh naskah, saya bahkan hampir lupa jika ditanyai seputar masalah editing.

Benar saja, Mas Himawan juga melontarkan beberapa pertanyaan di luar cakupan novel Jepang itu sendiri, karena saya rasa juga mendapatkan informasi lain sebelumnya, semisal pengaruh editor di dalam sebuah naskah. Bagi saya itu di luar proses penjurian novel, bukan. Tapi tidak masalah, informasi seperti ini memang bukan sebuah rahasia perusahaan yang perlu ditutup-tutupi. Jika Mas Himawan ikutan #KampusFiksi, pasti akan mendapatkan informasi serupa.

wawancara lomba novel jepang

Saat ini, novel-novel Jepang bisa dibilang tidak seekstrem dua tahun lalu dari segi penjualan. Namanya juga selera pasar bisa berganti sesuka hati. Tapi itu tidak membuat Mas Himawan yang kata Ajjah menarik karena kumisnya, mengabaikan pertanyaan seputar alasan pengadaan lomba seiring dengan ketertarikan publik terhadap Jepang.

Wawancara berlangsung selama 1,5 jam. Cukup seru karena meski sudah melayangkan berbagai pertanyaan, Mas Himawan, yang murah kata maaf, tidak menyentuh botol air mineral yang kami sediakan. Setelah wawancara ditutup, barulah dia minum. Luar biasa. Padahal tenggorokan saya di setengah jam pertama seretnya bukan main.

Saya berharap, dalam wawancara kemarin performa saya maupun Ajjah tidak mengecewakan dan penelitian mereka berjalan lancar sesuai harapan.

 

Jogja, 6 Agustus 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response