Wedangankoe; Satu Lagi Kafe Berkonsep Tradisional-Modern

Wedangankoe; Tempat Nongkrong dengan Hidangan Khas GunungKidul
Wedangankoe. Sumber gambar: tapakrantau.com

Saya tahu Wedangankoe ini karena diajak mampir oleh teman goweser di saat kami sedang rehat sejenak di Warung Ijo Pakem. Berhubung saya ga ada acara apa-apa, ya udah deh ikut aja. Kami meluncur mulus dari Jalan Kaliurang KM 17 sampai KM 9, sebelum Indomaret ambil belokan ke kiri, ada perempatan lalu belok kanan, sekitar seratus meter kiri jalan, ada rumah khas Jogja dengan dua gazebo besar di depannya.

Tempat ini punya Pak Heri, saya baru kenal tadi juga. Berbeda dengan Warung Ijo atau Kopi Klotok yang sudah begitu ramai, Wedangankoe masih adem ayem. Hanya ada beberapa tamu yang sudah lebih dulu di sana.

Kami disambut dengan si empunya warung dan memilih satu meja di pojokan. Oh ya, saya bareng 3 teman yang tidak sengaja ketemu di jalan. Ada Bu Ninil, Bu Estu, sama Pak Purnomo. Ya gitu deh, kalau hari Minggu, para pesepeda akan bertebaran di jalan. Apalagi Jalan Kaliurang, favorit sebagian besar orang. Bu Estu yang dikontak sama Pak Sudrajat untuk mampir.

Begitu melangkahkan kaki memasuki bangunan yang sebagian besar berbahan dasar kayu, nuansa Jawa klasiknya sangat kuat. Sementara aura kekinian datang dari ornamen-ornamen yang ditempelkan di dinding-dinding, juga meja dengan deretan toples-toples kaca berisi biji-biji kopi dari beberapa daerah di nusantara, tidak ketinggalan mesin penggiling kopi. Di beberapa tiang dipasangi meja kecil setinggi kepala orang dewasa untuk mengecas ponsel. Yang selalu terhubung dengan dunia maya, ga perlu khawatir dengan sinyal, karena ada fasilitas free wi-fi. Tapi, ketimbang sibuk maenan hape, mendingan buat ngobrol ya kan? Siapa sih yang nyariin lo mulu?

Suasana hangat masih terasa betul. Para goweser kenal ga kenal ya minimal berjabat-jabat tangan. Kalau kenal malah ngobrol kayak ke saudara sendiri. Oh ya di sana juga ada galeri batik namanya Pakubuwono, di rungan sebelah dalam. Bolehlah lihat-lihat siapa tahu ada yang menarik minat.

Sekarang kita ngobrolin menu. Sebelum ada hidangan khas Gunungkidul, seperti nasi merah dan teman-temannya yang baru hari ini tersedia, katanya juga ada empal tapi udah habis hahaha, sial—ada sejumlah menu dengan harga terjangkau banget untuk mahasiswa apalagi orang kantoran yang butuh tempat meeting yang santai. Minumannya jelas bisa kopi yang dipesan ketika digiling, kebalik woy, sehingga aromanya jelas beda ama merek kemasan yang ga perlu saya sebut. Ada juga teh dengan variasi jadi green tea latte atau suka dengan teh tarik boleh dicoba. Enak teh tariknya. Cuma 7 ribu rupiah. Ada juga wedang uwuwuwuwu eh uwuh maksud saya, wedang jahe khususnya buat jomblo-jomblo yang haus kehangatan.

Camilannya ada nasi goreng (ini camilan kata lo?), pisang goreng, nugget pisang, roti bakar, dan coba deh singkong gorengnya. Seporsi (bisa buat berdua bagi yang lagi diet, bisa buat berlima kalau lagi bulan tua) harganya 5 ribu aja.

Sebagai simbolisasi dedikasi terhadap para goweser, maka jangan heran jika ada dua buat sepeda yang menjadi bagian dari interior di Wedangankoe. Kalau ingin menikmati pemandangan hijau di seberang jalan, dan kendaraan yang lalu-lalang, silakan memilih salah satu gazebonya. Tenang, kalau yang mau nongkrong di malam hari, ada lampunya kok. Kenapa? Kecewa?

Nah, jam bukanya untuk Wedangankoe ini lumayan pagi, 07.00, tutup jam 12 malam, sebab Cinderella harus pulang tepat waktu. Untuk galeri batiknya buka dari jam 09.00-22.00.

Kalau rencana kongkow di sana, ga harus goweser kok. Siapa aja boleh. Parkirannya lumayan luas dan pelayanan juga tidak terlalu lama.

 

Jogja, 6 Agustus 2017

Leave a Response