Wild Tales (2014); Kisah-Kisah Liar dan Kultur ala Argentina

Wild Tales (2014); Kisah-Kisah Liar dan Kultur ala Argentina
Wild Tales (2014). Sumber gambar: IMDB

Wild Tales (berjudul asli Relatos salvajes). Enam cerita dengan satu benang merah (omnibus) karya sineas Argentina ini termasuk nominasi Academy Awards 2015 kategori Best Foreign Language Film of the Year. Proses pengambilan gambarnya sekitar 8 minggu dengan melibatkan 52 pemain.

Cerita-cerita yang dihadirkan Wild Tales ingin memberikan sejumlah kritik sosial tajam dalam balutan kisah-kisah berselipan komedi (black comedy) sehingga terasa begitu mengena bagi penonton yang pernah mengalaminya.

Keunggulan cerita Wild Tales sangat kuat didukung oleh penyelesaian yang di luar dugaan. Cerita demi cerita memiliki konflik dipicu oleh masalah sederhana, tapi tahu sendiri, soal membuat drama, orang-orang Latin ini memang jagonya.

  • Kisah pertama “Pasternak”

Pasternak adalah tokoh yang sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Tapi dialah si tokoh penting yang menjadi sumber konflik tokoh-tokoh lainnya. Bersetting kebanyakan di dalam sebuah sebuah pesawat berisi sejumlah penumpang yang tiket pesawatnya dibelikan oleh seseorang misterius. Tanpa sengaja, terjadilah percakapan antara seorang penumpang perempuan dengan penumpang laki-laki yang kemudian merujuk pada si tokoh yang bernama Pasternak. Kisah ini seolah menyindir orang-orang yang gemar membully pihak yang lemah, suatu saat akan mendapatkan balasan yang kejam.

  • Kisah kedua “Las Ratas” (Tikus-Tikus)

 

Seorang pria mampir di sebuah kedai yang sepi. Sang pelayan keluar lalu melihat pria itu. Ekspresi sedih tampak di wajahnya. Dia mengenal pria yang ternyata perusak di keluarganya. Teman kerjanya si juru masak, mantan seorang narapidana, menghasut agar makanan pria itu ditaburi racun tikus, agar mati tikus-tikus brengsek macam pria itu. Tapi si pelayan tidak sampai hati membunuh. Meski kesal, tapi masih punya nurani. Dicegahnya niat si juru masak yang keukeuh ingin meracuni pria itu. Si pelayan makin tidak sampai hati karena putra pria itu datang. Tapi sepertinya si juru masak kembali ingin masuk dalam hotel prodeo.

  • Kisah ketiga El mas fuerte (Yang Tertangguh)

Lagi-lagi soal kritik terhadap sikap orang-orang kaya nan sombong terhadap orang-orang kelas bawah. Dalam cerita ini, diperlihatkan sebuah konflik antara tokoh pria kaya dengan mobil mewah dan baru, dengan seorang pria kelas bawah dengan mobil buruk dan muatan seabrek. Mereka tidak akan kena masalah jika si orang kaya tidak bersikap sok dan mengacungkan jari tengahnya. Pemakai jalan yang suka seenaknya memang tidak sedikit. Tiba di ujung sebuah jembatan, mobil si pria kaya terpaksa berhenti, tak lama konflik dengan si pria kelas bawah berlanjut lagi. Keduanya merasa ingin mempertahankan diri bahkan ingin saling bunuh.

  • Kisah keempat Bombita (Bom Kecil)

 

Sebagai salah satu negara yang dikelilingi budaya korupsi, cerita ini tanpa tedeng aling-aling hendak menyindir orang-orang yang seenaknya sendiri mengambil harta orang lain melalui kesalahan-kesalahan yang dibuat-buat. Dengan begitu, si korban yang tidak berdaya akhirnya tidak punya pilihan lain, bayar denda atau masalah tidak selesai saat itu juga. Seorang insinyur juga menerima perlakuan sama. Mobilnya dituding parkir di tempat yang salah dan kena derek. Dendanya ratusan peso, belum lagi mengurus surat tilang. Semuanya di Argentinya serbamahal. Itu tidak lepas dari sorotan “Las Ratas”.

  • Kisah kelima La Propuesta (The Proposal)

 

Seorang anak keluarga kaya suatu pagi mengaku pada orang tuanya, telah melakukan tabrak lari. Sang ayah langsung sigap memberi perlindungan, lalu melibatkan pengacara terbaiknya. Sang ibu pun tidak rela jika anaknya yang harus masuk penjara. Rekayasa pun dibuat. Ada tumbal yang harus dilibatkan. Tapi, segalanya tidak menjadi mudah. Bukankah kebebasan itu mahal? Si tumbal menuntut imbalan besar. Si polisi penyidik juga. Si pengacara, ah sudah, tidak perlu ditanya. Merasa dirinya dikerjai, si ayah membatalkan perjanjian. Biar saja putranya menanggung derita ketimbang dirinya miskin gara-gara membayar mulut-mulut yang rakus.

  • Kisah Keenam Hasta que la muerte nos separe (Sampai Kematian Memisahkan Kita)

 

Bersetting di sebuah gedung di mana sebuah resepsi pernikahan berlangsung. Orang-orang tampak berbahagia dengan perayaan itu. Kedua mempelai pun saling menatap dengan penuh rasa cinta. Tapi apa iya keduanya saling jujur? Seorang perempuan cantik berambut hitam lurus mengundang kecurigaan si mempelai perempuan. Suaminya tampak begitu akrab. Curigalah ia. Dan akhirnya dia tahu, perempuan itu bukan teman biasa. Dia punya alasan untuk marah dan membenci suaminya. Apa yang terpikir di kepalanya adalah membalas dendam. Sang suami tidak mungkin lagi menutupi rahasia selingkuhnya. Sudah telanjur basah. Dan pernikahan mereka tidak bisa diselesaikan dengan perceraian. Hanya kematian yang bisa memisahkan keduanya.

Trailer Wild Tales:

Jogja, 19 Oktober 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response