Winter in Tokyo (2016); Film Tentang Cinta Pertama dan Cinta Sejati

Winter in Tokyo (2016); Film Tentang Cinta Pertama dan Cinta Sejati
Winter in Tokyo (2016). Sumber gambar: IMDB

Winter in Tokyo diputar perdana 11 Agustus 2016 hari ini. Salah satunya Jogja City Mall. Beberapa bioskop yang biasanya memutar film lokal, masih sibuk mendulang keuntungan dari Suicide Squad. Promo Winter in Tokyo sudah jalan jauh-jauh hari. Postingan foto-foto di lokasi syuting bertebaran di timeline twitter. Satu hal yang saya tahu, syutingnya semuanya di Jepang.

Saya tidak akan menilai tentang film ini seberapa bagus atau tidaknya. Saya datang dan membeli tiket sepulang dari kantor di wilayah timur Jogja ke utara, karena ingin menonton di hari pertama pemutaran. Belum banyak ulasan yang muncul sehingga tidak ada sedikit pun prasangka yang terbentuk dari opini-opini orang di luar sana.

Diadaptasi dari sebuah novel laris, saya belum baca, ada sebuah beban pasti harus dipertanggungjawabkan sehingga versi film tidak jauh melenceng. Beban pertama kali ada pada skenario. Berapa persen bagian yang akan ditransfer ke layar lebar kelak, berapa persen yang dibiarkan tetap hanya ada di dalam novel. Pemilihan-pemilihan adegan tidak random. Bisa dikatakan, film adaptasi mau tidak mau menciptakan dunia baru dengan rasa berbeda tanpa meninggalkan akarnya.

Di Inggris dan Eropa, sukses tidaknya sebuah film berada di tangan penulis skenario. Di Amerika Serikat, sutradara berada di kursi panas. Di Indonesia, saya rasa penulis skenario, sutradara, dan para aktor punya tanggung jawab besar. Pengambilan adegan-adegan dalam film Winter in Tokyo seolah dilakukan dengan mengabaikan bahwa penonton tidak hanya orang-orang yang sudah membaca versi novel. Ada banyak loncatan cerita mulai dari awal. Semisal Keiko punya tetangga baru bernama Kazuto, lalu lelaki itu menemuinya di perpustakaan sudah menjadi akrab. Ada pula ketika Kazuto berkelahi dengan seorang pria mabuk kemudian dikeroyok sampai koma. Saya terbantu ketika di bagian awal Winter in Tokyo terdapat penjelas perpindahan waktu. Di beberapa film, detail seperti itu dihilangkan pun tidak masalah sebab masuk ke dalam dialog atau penanda lainnya.

Dalam sebuah film di mana ekspresi para pemainnya menjadi penentu koneksi emosional penonton dengan cerita yang tengah berjalan, saya juga bingung dengan semua tokohnya. Karakter mereka seperti apa? Percakapan-percakapan antara tokoh pendek-pendek seolah dengan begitu sikap kaku orang Jepang akan terasa. Saya pun mempertanyakan, fungsi percakapan di sini sebagai apa? Padahal dari sanalah sebenarnya penonton yang tidak paham alur jadi mengerti bahwa Keiko karakternya A, Kazuto berkarakter B, Akira karakter C, Yuri karakter D.

Kisah cintanya tidak ada yang bermasalah. Jalinan antara satu hal dengan lainnya diperlihatkan dengan gamblang, seorang perempuan yang masih memendam cinta pada seorang dari masa kecilnya dan terngiang-ngiang dengan nama orang itu. Hingga dewasa, hal itu masih saja melekat dengan kuatnya. Lalu mereka bertemu kembali setelah dewasa dan menjadi dekat. Kedekatannya dengan Kazuto juga berjalan secara alami hingga peristiwa-peristiwa lain terjadi.

Lagi-lagi, di kepala saya bermunculan banyak tanda tanya tentang Yuri, tentang pamannya Kazuto, tentang mobil yang digunakan Kazuto, tentang lokasi di mana sebenarnya Kazuto dan Keiko berbincang, tentang apa yang dibuat Kazuto di langit-langit kamar apartemen Keiko. Namun saya dihibur oleh indahnya panorama Tokyo yang bersih, gemerlap di malam hari, jalur khusus sepeda sepanjang 103 menit.

Saya ulangi, saya tidak akan menilai apakah Winter in Tokyo adalah film bagus ataukah tidak. Beli saja tiketnya dan nonton saja sendiri.

Trailer Winter in Tokyo:

Jogja, 11 Agustus 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response