Wisata Religi Masjid Kudus Jawa Tengah Selalu Memberikan Kesan Mendalam

Wisata Religi Masjid Kudus Jawa Tengah Selalu Memberikan Kesan Mendalam
Wisata Religi Masjid Kudus. Sumber gambar: TapakRantau

Wisata Religi Kudus Jawa Tengah Selalu Memberikan Kesan Mendalam. Masjid Kudus itu tidak seketat aturannya dengan Masjid Demak. Artinya, mau motret diperbolehkan.

Berangkat dari Demak menuju Kudus kurang lebih jam 10.30. Jaraknya hampir sama dengan Semarang-Demak. Perjalanan terasa lebih memelahkan karena di lampu merah sering terjadi antrean panjang. Tapi begitu lampu hijau, gue langsung tancap gas ala pembalap.

Sesampainya di Kudus, gue langsung nyari pom bensin. Sebelumnya gue ngisi di Magelang. Setelah itu, gue mulai keliling kota sambil mencari petunjuk ke Menara Kudus. Satu pelajaran yang perlu dicamkan sodara-sodara, kalau emang ragu, mending bertanya. Jadi gue dengan pedenya mengikuti papan penunjuk arah. Gue mengikuti arah ke Menara. Gue yakin banget nih nggak nyasar. Nah setelah belokan sana-sini, insting gue mengatakan gue nyasar. Menara yang dimaksud itu ternyata semaca perumahan atau apalah itu. Jalanannya pun jelek. Oh no. Gue pun berbalik arah dan mencari orang yang sekiranya bisa ditanya. Ternyata gue kelewat satu belokan.

Di gang menuju Menara, banyak mobil parkir. Gue pun mencari tempat parkir motor, dan ternyata di dalam area Menara. Abis parkir, gue pun ikut orang-orang. Ternyata mereka ke makan Sunan Kudus. Makam itu semacam rumah dan dilapisi kain, kayak Ka’bah gitu. Di sana, orang-orang berbondong-bondong membaca Yasin. Oh ya, di sekitar makam utama, juga berjejer makam-makam lain, yang kemungkinan besar kerabat sang sunan. Gue memutari makam itu sambil memperhatikan jalan biar jangan sampai menginjak makam karena makam itu dibuat rata, cuma ditandai nisan aja.

Setelah dari makam, gue menuju area Menara. Ini yang sering gue lihat fotonya. Dan gue nggak tahu fungsi menara ini apa, sebelum terdengar suara adzan. Oh, rupanya hampir sama fungsinya dengan menara masjid lainnya, ya untuk adzan dengan didahului suara tabuhan bedug. Klasik banget memang. Setelah motret-motret menara, gue masuk ke dalam masjid. Gue merasa sedikit bersalah juga sih karena masuk rumah Tuhan nggak wudhu dulu, nggak shalat Tahiyatul Masjid dulu.

Wisata Religi Masjid Kudus tidak seketat aturannya dengan Masjid Demak. Artinya, mau motret bagian mana pun silakan. Masjid ini kalau perhatiin, punya arsitektur yang cukup rumit. Rumit karena mungkin susunan balok-balok kayu penyangganya itu. Beda sama masjid biasa. Bagian langit-langitnya juga punya desain hampir mirip dengan Masjid Demak.

Nah, selesai sudah petualangan Wisata Religi Masjid Kudus. Gue pun berpikir untuk langsung pulang ke Jogja. Kalau perhitungan gue bener, atau 4 jam perjalanan, maka jam 6 gue udah sampai. Tapi banyak faktor yang membuat gue baru sampai Jogja jam 9 malam.

Pertama, gue udah sangat capek. Udara sangat menyengat. Meski jalanan sepi, gue nggak berani terlalu ngebut. Kedua, gue kesulitan mencari tempat makan di pinggir jalan. Gue ngantuk dan sangat lapar. Saat itu, gue nggak peduli tempat makan seperti apa yang bakal gue temui, yang pasti gue akan berhenti. Ketiga, gue nyasar. Karena saking ngantuknya, di sebuah perempatan yang seharusnya gue ambil lurus, gue belok kanan dan masuk ke jalan semi-offroad. Itu pertama kalinya gue bawa motor dengan kondisi jalan minta ampun seremnya. Menegangkan sekaligus menyenangkan juga karena selain akhirnya menemukan tempat makan, ngantuk gue juga seketika hilang. Perkara motor jadi berdebu, ya sudahlah.

Keempat, dampak dari rasa lelah, sistem koordinasi otak gue agak kacau. Dan terjadilah kecelakaan kecil di mana ketika itu gue mengerem dalam kecepatan tinggi karena melihat lampu merah. Fatal akibatnya, terlebih gue  hanya memakai rem belakang. Nyaris banget gue menabrak orang. Roda motor gue yang dibekali rem cakram pun akhirnya berhenti dan gue kehilangan keseimbangan. Gue dan motor jatuh hanya sekian senti dan motor yang sedang berhenti di depan. Kaca spion gue sebelah kanan hancur karena terbanting aspal dan yang kiri jadi kayak longgar nggak jelas. Kelima, tanpa spion, gue udah nggak berani terlalu sering mengebut.

Keenam, jalanan macet luar biasa sejak di Ungaran hingga Magelang hingga gue dan para pengendara motor lainnya harus bersusah payah menyelip entah ke sisi kanan atau kiri jalan agar terbebas dari antrean panjang. Mendahului dari sisi kiri itu menegangkan karena jalanan yang nggak dilengkapi lampu, medannya bebatuan. Gue beberapa kali nyaris slip ban dan memilih tetap di jalanan aspal yang lebih aman buat gue sendiri.

Dan voila! Sampailah gue di Jogja dengan perasaan lega, laper, dan ngantuk luar biasa. Ini bener-bener nggak akan bisa gue lupakan. Touring pertama gue, 2 hari, 5 kota. Whats next? Just wait n see.

Leave a Response