Witness (2017); Album Baru Katy Perry Kurang Berenergi(?)

Witness (2017) Album Baru Katy Perry Kurang Berenergi
Witness (2017). Sumber gambar: Pinterest

Album kelima Katy Perry, Witness, adalah kelanjutan dari keinginan penyanyi berambut pendek ini memperkokoh eksistensinya dalam dunia tarik suara. Dia tidak hanya mengandalkan pengikut twitter yang hampir mencapai 100 juta tanpa ada karya pembaruan. Purna konser supermegah plus super glowing in the dark album Prism di tahun 2015 yang menurut saya sangat matang—mulai dari konsep ala Mesir Kuno hingga eksekusi panggung, penari latar yang energik, Katy yang juga tidak enggan mempelajari koreografi lincah, lagu-lagu hits semacam Roar, Dark Horse, This is How We Do, By the Grace of God ditampilkan dengan konsep berbeda—harus ada sesuatu yang segar lagi. Tidak perlu dipertanyakan.

Mari move on dari Prism ke album Witness. Diluncurkan pada 9 Juni, bertepatan dengan kembalinya album-album Taylor Swift ke Spotify sehingga banyak komentar sinis mengudara bahwa Taylor sengaja melakukan itu untuk mengalihkan perhatian orang dari album Katy Perry. Benar atau tidaknya, bukan suatu hal yang begitu penting. Pada kenyataannya, orang tetap ingin tahu musik dan lirik lagu seperti apa yang ditawarkan Katy setelah istirahat cukup lama.

Beberapa bulan ke belakang, Chained to the Rhythm, Bon Appetit, dan Swish Swish diutus untuk menjadi menu pembuka sebelum para penikmat musik dihidangkan hidangan utama. Totalnya ada 15 track dengan sentuhan dance ala 90-an sehingga wajar jika terdengar ala Tegan dan Sara. Coba saja meluncur ke track Tsunami. Track yang menurut saya terbilang kalem dibandingkan Bon Appetit. Bon Appetit dibandingkan dengan Roar sebenarnya masih kalah beat.

Track pembuka, kita akan langsung disajikan dengan Witness. Katy dalam albumnya ini ingin berpesan agar kita tidak hanya terfokus pada musik, tapi dengarkan liriknya jauh lebih dalam. Lihat dari tiap kata yang diucapkannya. Pahami makna-maknanya.

Track Witness mempertanyakan kesediaan kita untuk tetap mencintai dia yang bisa berada dalam titik terpuruk dan bangkit kembali hingga sekuat sebelumnya.

If I lost it all today, would you stay?

Could my love be enough to stimulate?

If shit hit the fan, grenades got thrown

Would you still show, oh?

Could you go down with me to the mat?

Could we get back up and eventually laugh?

Roll eyes at highs, cheers in the lows, and stay in the flow, woah

Witness ditulis Katy bersama Max Martin, Savan Kotecha, dan Ali Payami. Menemukan kesamaan di dunia yang begitu luas bukan hal mudah. Menemukan orang-orang yang memiliki keinginan sama, harapan yang sama, mimpi yang sama. Orang-orang yang akan menjadi pendukungnya untuk melewati masa-masa sulit, dan melihat bagaimana perlakuan orang-orang di luar sana terhadap dirinya. Saksi yang membantunya menanggung beban yang sedemikian berat.

We’re all just looking for connection

Yeah, we all want to be seen

I’m looking for someone who speaks my language

Someone to ride this ride with me

Can I get a witness? (Witness)

Will you be my witness? (Witness)

I’m just looking for a witness in all of this

Looking for a witness to get me through this

Saksi itu akan dengan mudah melihat apa yang ingin ditunjukkan Katy. Segalanya terpapar begitu jelas, tanpa kurang suatu apa pun. Dengan petunjuk yang sudah ada di mana-mana, tak akan ada yang bisa luput. Itu bukan rahasia lagi. Sejelas kristal. Apa yang perlu disangkal lagi? Apa yang dia katakan, itulah yang dia maksudkan.

When you tell me everything, and there’s no holes

You can scroll through anything, you’ve got the codes

Nothing to hide, it’s all in their eyes

And we just know, wo-ow

Track Hey Hey Hey, Sia Furler masuk dalam jajaran penulis lagu. Coba dengarkan ada sedikit kemiripan suara dengan Dark Horse. Kalau saya perhatikan, bait-bait dari lirik lagu Katy Perry sangatlah pendek dan diulang-ulang. Bandingkan dengan lirik-lirik lagu Taylor Swift yang walaupun hanya berkisar tentang mantan pacar dan percintaan, jauh lebih kompleks. Hey Hey Hey adalah track ceria seperti halnya Roulette, Deja vu, Mincd Maze, Bigger than Me, dan Pendulum.

Namun, track favorit saya justru jatuh pada Miss You More. Lagu ini begitu manis dengan lirik yang biasa-biasa saja, tentang kangen berat pada seseorang dengan latar suara jentikan jari dan suara piano. Track-track slow di album Witness porsinya seolah hanya untuk selingan belaka, namun tidak membuat keseluruhan menjadi album seneergik album Dua Lipa yang rilis seminggu sebelumnya, dominasi track-track dance mengiringi suara berkarakter penyanyi Inggris berdarah Albania tersebut.

Keinginan Katy Perry untuk mengeksplorasi musik membuat banyak review media kurang berpihak padanya. Album ini dianggap tidaklah sebegitu hype album Prism. Namun saya optimis, konser Witness akan dibuat dengan jauh lebih spektakuler dan lebih misterius seperti kover albumnya, meskipun toh saya tidak akan sanggup membeli tiket konser kelas VIP.

 

Jogja, 11 Juni 2017

Leave a Response