Women Who Kill (2016); Menguak Sisi Gelap sang Pacar Baru

Women Who Kill (2016); Menguak Sisi Gelap sang Pacar Baru
Women Who Kill (2016). Sumber gambar: IMDB.

Women Who Kill menang dalam sejumlah festival antara lain Jury Award di Tribeca Film Festival 2016 kategori Best Screenplay for a U.S. Narrative Feature; Grand Jury Award kategori Best Screenwriting in a U.S. Feature di Outfest 2016; Honorable Mention kategori Best First Feature di ajang Frameline San Francisco International LGBTQ Film Festival 2016. Kesemuanya dibawa pulang oleh Ingrid Jungermann, yang di film ini memerankan tokoh Morgan, sebagai sutradara, juga penulis skenario.

Peran Ingrid dalam cerita juga sangat menonjol, meskipun keberadaan tokoh-tokoh lain tidak bisa diabaikan begitu saja. Berdurasi hanya 93 menit, film bergenre romance, drama, komedi, misteri, dan sedikit thriller ini menyajikan sebuah cerita yang susah ditebak ujungnya. Meski rating di IMDB hanya 5,3, cobalah menontonnya dulu. Kalau kecewa simpan dalam hati—kalau suka, beri tahu teman.

Morgan adalah seorang podcaster atau pembaca acara di sebuah program online bertajuk Women Who Kill yang mengangkat tentang para perempuan yang pernah melakukan tindakan kriminal pembunuhan. Mereka juga mewawancarai beberapa di antaranya. Mereka, ya, Morga mengasuh acara itu bersama Jean, yang dalam ranah pribadi adalah mantan kekasihnya. Mereka siaran dari apartemen mereka sendiri, mereka masih tinggal bersama bahkan.

Acara itu tidak sedikit penggemarnya, yah meskipun tidak seterkenal Ellen Show atau The Tonight Show. Kesamaan keduanya pada tema perempuan yang melakukan pembunuhan merupakan alasan untuk terus bersama. Lingkungan pertemanan Morgan sebenarnya sangat ingin keduanya kembali bersama menjadi sepasang kekasih. Keduanya sudah tahu luar dalam.

Selain mengurusi program acaranya, Morgan juga bekerja di sebuah toko bahan makanan organik. Di sanalah dia bertemu seorang gadis penuh misteri yang sejak pertama sudah melirik kepadanya. Gadis itu adalah salah satu dari beberapa orang yang akan bekerja di sana. Simone namanya. Diperankan oleh Sheila Vand (Argo). Simone tidak tanya terkesan misterius dari kesan pertama orang yang baru mengenalnya, tapi dia memang menyimpan sebuah rahasia, yang terdapat dalam sebuah kotak putih yang diletakkannya di atas meja. Siapa pun orang yang datang, akan tertuju pada kotak itu.

Simone menawarkan kunci kotak itu, tapi Morgan menolak dianggap kepo. Dia memilih bercinta dengan gadis itu. Suatu malam, Jean pun berkenalan dengan Simone. Meskipun status dirinya dengan Morgan sudah tinggal permantanan belaka, tapi percayalah, ketika kamu tahu mantanmu sudah punya pacar lagi, kecemburuan itu tetap akan menyala-nyala. Jean tidak sampai bersikap norak dengan ngambek dan sebagainya. Tapi, dia langsung kepo, siapa sebenarnya Simone. Sebagai pembawa acara yang berkaitan dengan dunia kriminalitas, instingnya langsung mengentak-entak.

Dicarinya nama itu di internet. Google tidak memberikan jawaban memuaskan. Hingga ketahuanlah bahwa Simone mengganti nama. Sebab, nama belakangnya sangat identik dengan sang ibu yang seorang pembunuh berantai. Begitu tahu mantan kekasihnya berpacaran dengan anak pembunuh berbahaya, Jean langsung memberi sinyal bahaya. Setidaknya untuk berhati-hati. Morgan awalnya tidak ambil pusing hingga sebuah kejadian janggal menyadarkannya. Ada dugaan bahwa Simone berada di balik itu semua.

Kita akan terbawa pada suasana tegang ketika Morgan berdekatan dengan Simone. Di balik sikap tenangnya, deg-degan juga. Bagaimana jika Simone yang mengaku sebagai penggemar acaranya ini ternyata memang mengincar nyawanya dan menunggu saat yang tepat untuk membunuhnya dengan caranya yang khas? Lalu apa isi kotak putih itu? Setahap demi setahap misteri itu akan terjawab tanpa mengecewakan. Saya suka dengan cara Ingrid menutup kisah ini, pantas jika menang di banyak penghargaan.

 

Jogja 7 November 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response