Wonder Woman (2017); Misi si Putri Amazon Mengejar sang Dewa Perang

Wonder Woman (2017); Misi si Putri Amazon Mengejar sang Dewa Perang
Wonder Woman (2017). Sumber gambar: IMDB

Rilis secara global 2 Juni, Wonder Woman sudah menjadi perbincangan jauh-jauh hari. Saya bukan penggemar live action buatan DC Comics sehingga tidak begitu antusias. Film superhero pada akhirnya selalu menang dan terlihat keren, kan? Namun, media begitu gencar memberitakan entah itu bocoran trailer dan yeah, info-info ringan. Teman-teman saya yang pencinta komik juga susah disuruh berhenti ngoceh soal Wonder Woman. Seingat saya, sebelum pergantian tahun, promonya sudah mulai jalan.

Saya bukan fans berat Gal Gadot. Saya bahkan tidak pernah menonton film yang dia bintangi selain franchise Fast & Furious. Di situ pun perannya tidak begitu besar. Tapi saya fans gila Robin Wright, si pemeran Antiope alias tantenya Diana. Buat pencinta serial House of Cards, pasti familiar sama Tante Robin. Saya jatuh cinta pada potongan rambutnya di season pertama yang model poni lempar itu lhoh. Lalu nonton beberapa film dia yang lain, seperti Adore dan The Girl with the Dragon Tattoo.

Dari situ saya mulai kepoin, nih peran Tante Robin sebagai siapa? Siapanya Wonder Woman? Mengapa dia katanya harus ikutan dilatih martial art? Trailer-trailer yang dirilis lebih dominan memperlihatkan aksinya Wonder Woman ketimbang prajurit Amazon dengan keahlian perang jauh di atas rata-rata. Dan Antiope adalah pelatih Wonder Woman. Orang yang paling berjasa di balik tangguhnya Diana adalah Antiope. Apa jadinya jika Diana hanya hidup dalam dunia dongeng serbaindah?

Oke, tiga paragraf cukup untuk ngelantur, saya bahas film berbujet mencapai 120 juta dolar ini sekarang. Diana—putri Hippolyta si penguasa Themyscira[1], sebuah negara seindah surga dengan panorama lautan biru sepanjang mata memandang yang terisolasi dari kaum lelaki—adalah anak sejak kecil yang selalu ingin berlatih menjadi prajurit Amazon yang memiliki kemahiran dalam berkuda, bertarung dengan pedang, memanah, berlari, dan kombinasi-kombinasi dari itu semua. Teknik-teknik yang sangat membuat saya melongo karena dilakukan dengan kecepatan tinggi. Dan mereka perempuan semua, itu yang sebenarnya membuat saya terkagum-kagum.

Antiope diam-diam mengajari Diana bertarung meski artinya melanggar peraturan sang ratu, kakak Antiope sendiri. Diana sudah kenyang dengan ilmu pengetahuan. Dia belajar banyak bahasa asing. Saatnya untuk melengkapi dirinya dengan kemampuan bertarung. Antiope akhirnya berhasil meyakinkan sang ratu bahwa Diana harus dilatih sebab Ares, musuh semakin terasa keberadaannya.

Diana tidak pernah tahu siapa ayahnya. Sejak kecil, ibunya mengatakan bahwa dirinya terbuat dari tanah liat. Mitologi Yunani Kuno yang bagi orang-orang di luar sana adalah lelucon. Mana ada Ares di zaman sekarang? Zeus apalagi. Steve Trevor (Chris Pine-Hell or High Water) adalah salah satunya. Dia tanpa sengaja menembus dinding dimensi yang mengisolasi Themyscira dari dunia luar. Sama seperti suku-suku pedalaman yang hidup dengan prinsip hidup sendiri, menutup diri dari dunia luar sehingga memunculkan beragam persepsi. Orang dari luar memandang mereka sebagai populasi yang aneh bahkan ketinggalan zaman. Sementara orang-orang di pedalaman merasa, cara hidup merekalah yang jauh lebih baik, tidak merusak lingkungan, tidak serakah, mereka pun punya pengetahuan yang tidak kalah hebat. Pertemuan antara Steve yang berkebangsaan Amerika namun menjadi mata-mata Inggris, dengan Diana seorang putri yang tak pernah melihat dunia luas di luar sana mendorong keduanya untuk saling beradaptasi satu sama lain. Diana tidak pernah melihat lelaki sebelumnya. Steve tidak pernah melihat pasukan yang begitu pemberani menghadapi musuh. Keduanya disatukan dalam sebuah misi menghentikan perang yang telah mengorbankan banyak nyawa manusia. Tidak hanya itu, senjata-senjata kimia pun terus dikembangkan untuk menghancurkan lawan. Peperangan itu tidak lain disebabkan oleh Ares, sang Dewa Perang. Untuk menghentikan perang, maka Ares harus dibunuh dengan sebuah pedang sakti.

Wonder Woman (2017); Misi si Putri Amazon Mengejar sang Dewa Perang 2
Robin Wright sebagai Antiope

Maka, keduanya pun berangkat ke Inggris. Diana harus menyesuaikan diri dengan tidak selalu membawa pedang dan perisai saktinya. Pakaiannya berganti dengan setelan yang harusnya tidak menarik perhatian orang. Tapi dasarnya dia cantik, mau ditutupi dengan bagaimanapun ya tetap saja orang melirik. Pihak Inggris sedang mengusahakan gencatan senjata dengan Jerman. Namun, Steve berhasil mencuri buku catatan Dr. Maru si pembuat senjata kimia berbahaya. Jerman sedang menyiapkan perang yang lebih dahsyat.

Pace film Wonder Woman ini menurut saya terbilang cepat tapi tidak membuat kita akan bingung karena kehilangan adegan-adegan penting. Tidak ada adegan-adegan yang menjadi percuma. Semuanya proporsional. Kapan harus melihat adegan aksi tunggal Wonder Woman, kapan melihat aksinya dengan tim Steve, kapan Wonder Woman harus menampilkan kecantikannya, kapan harus menampilkan dialog humor ringan, kapan harus melemparkan dialog-dialog filosofis, kapan harus beradegan romantis, kapan harus membuat air mata penonton menetes karena perpisahan, dan kapan harus film diakhiri.

Bagian favorit saya dan mungkin para penonton yang berjubel hingga 4 studio digunakan untuk film ini adalah perang puncak Wonder Woman dan Ares. Itu luar biasa spektakuler. Bagi Diana orang-orang yang memercayai mitologi Yunani Kuno, Ares adalah dewa yang sangat jahat. Dewa yang menyebabkan kehancuran di muka bumi. Ares adalah iblis. Tapi benarkah dia begitu? Benarkah itu dilakukannya demi kepentingan sendiri atau ada penyebabnya? Kita kembali dibuat berpikir, Ares mungkin punya maksud baik. Jangan-jangan, manusialah yang sebenarnya memiliki keburukan. Ares hanya mengajak, bukan memaksa mereka. Siapa pun yang sepakat dengan pikirannya, akan mengikuti Ares. Dunia bukan sekadar 2 warna. Itu pesan yang ingin disampaikan selama masa perang puncak dua tokoh itu. Kita juga seolah disadarkan, bahwa terkadang kita mengandalkan sesuatu untuk mencapai sebuah tujuan, tapi sebenarnya penentu itu adalah diri kita sendiri. Kita berpikir bahwa agama adalah sebuah alat untuk menghancurkan semua keburukan dunia, tapi alat tetaplah alat. Bagaimana jika ternyata kita tidak menjalankan ajaran agama? Hanya sebatas di mulut tapi perilaku kita justru menghancurkan dunia. Sia-sia saja kan?

Maka, dalam perang puncak itu, Ares terus membujuk Wonder Woman untuk sekalian menghancurkan dunia dan mereka menciptakan dunia baru yang damai seperti di surga. Tidak ada perang, tidak ada manusia, tidak ada gas-gas beracun yang dilepaskan ke udara.

Wonder Women ketika keluar dari cangkangnya, mulai melihat betapa berbedanya dunia di luar sana. Orang-orang yang kehilangan, rumah-rumah yang rusak, kelicikan-kelicikan, orang-orang yang memilih diam ketimbang bertindak. Dan juga satu pelajaran berharga: dia tidak bisa menyelamatkan semua orang dengan kekuatannya.

Film garapan Patty Jenkins (Monster) ini berdurasi 141 menit, dan Tante Robin hanya muncul selama 30 menit. Sisanya disikat habis sama Gal Gadot dan Chris Pine. Saya tidak tahu apakah film ini layak ditonton anak-anak usia di bawah 13 tahun atau tidak ya. Adegan-adegan fighting-nya kok buat saya pribadi belum layak dilihat anak-anak. Dan jangan lupa bawa tisu dan pacar karena banyak adegan sedih di dalamnya. Pesan popcorn ukuran paling tidak medium, minumnya air mineral lebih baik, lebih murah soalnya.

Tontonlah Wonder Woman meski Anda bukan pencinta live action dan bukan perempuan.

Trailer Wonder Woman:

Jogja, 31 Mei 2017

 

[1] Lokasi syutingnya di Italia. Saya yakin tempat-tempat ini akan semakin ramai dengan pengunjung yang ingin menginjakkan kaki di tempat Gal Gadot berpijak.

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response