Wonderstruck (Mizan Fantasi, 2013): Novel Fantasi Tentang Petualangan di Museum

Wonderstruck (Mizan Fantasi, 2013) Novel Fantasi Tentang Petualangan di Museum
Wonderstruck (Mizan Fantasi, 2013)

Jika ditanya mana bagian paling menarik Wonderstruck, jawaban saya ada di halaman 632-640. Ucapan Terima kasih dari Brian Selznick yang lebih tepatnya dianggap sebagai behind of the Wonderstruck. Uraian yang terbilang panjang tapi saya simak hingga akhir, ikut mengagumi betapa Brian Selznick melakukan riset sangat ekstrem untuk mendapatkan kesempurnaan dalam setting maupun karakter dalam novelnya. Seputar museum, kebudayaan Tuli, sampai kota-kota di New York. Lalu bagaimana novel setebal 640 halaman ini ditulis dalam waktu 7 bulan di sebuah pondok tengah hutan daerah Peterborough, New Hampshire.

Ketekunan Selznick dalam proses riset, membuat novel Wonderstruck bersampul biru tua dengan langit gelap, disertai kilat vertikal yang mengarah ke kota New York yang tampak siluet ini, kaya dengan deskripsi, bahkan melimpah ruah hingga membuat saya lelah sendiri pada detail-detail yang teramat berturut-turut. Detail-detail benda, gerakan tokoh, ekspresi secara bergantian ditampilkan. Memang, pembaca akan diberi kesempatan bernapas dengan adanya grafis-grafis sketsa yang pada awalnya membuat saya bertanya-tanya, apa tujuannya. Rupanya, ada beberapa grafis yang memang dibuat untuk menceritakan tokoh lain dan ada pula yang menjadi ilustrasi dari cerita yang sedang berjalan, terlebih ketika Ben sudah bertemu Rose, sang nenek.

Konflik dalam novel Wonderstruck bermula dari mimpi-mimpi tentang serigala yang sering dialami oleh bocah yang satu telinganya tuli. Karakter ini rupanya terinspirasi dari saudara Selznick sendiri. Ben, si bocah yatim piatu ini, tinggal bersama keluarga pamannya di Gunflint Lake, Minnesota. Menurut penjelasan Selznick pada Ucapan Terima Kasih, wilayah tersebut terbentuk karena tumbukan meteorit miliaran tahun lalu (hlm. 635). Dan pecahan kecil meteorit itu disimpan di museum yang menjadi setting utama cerita ini, yaitu American Museum of Natural History. Dari penggambaran Selznick yang begitu rinci, saya bisa membayangkan betapa mengagumkannya museum ini. Megah dengan diorama-diorama cantik yang digarap dengan pengawasan ketat kurator-kurator berpengalaman. Lalu miniatur New York yang dalam periode tertentu selalu diperbarui sesuai dengan perubahan kota tersebut. Museum seakan menjadi sebuah tempat hiburan yang akan membuat kepala kita akan mendapatkan asupan pengetahuan yang tidak kalah hebatnya dengan membaca buku. Museum jauh dari gambaran menjemukan yang muncul dalam benak hingga merasa itu sama sekali bukan tempat yang perlu dikunjungi. Selznick menambah keseruan di dalam museum dengan petualangan diam-diam Ben dan Jamie, si anak petugas museum. Mereka menemukan sebuah gudang di mana menjadi tempat tinggal Ben sementara.

Mengapa Ben sampai ke museum tersebut? Bocah ini benar-benar kehilangan pendengarannya setelah tersambar kilat ketika ia tengah menelepon. Ia lalu pergi ke New York untuk menemukan ayahnya. Di kota itu, bukannya bertemu dengan sosok sang ayah, ia malah bertemu dengan anak petugas museum. Cerita mengenai Jamie diceritakan dalam grafis demi grafis yang menyelingi cerita utama. Bagi saya, keberadaan grafis-grafis ini memang mengganggu konsentrasi karena mau tidak mau, saya tetap harus membuka satu per satu halamannya, agar halaman yang berisi tulisan tidak sampai terlewat.

Jamie senang mendapatkan teman baru. Mereka sama-sama anak yang kesepian. Ayah Jamie sangat sibuk sehingga tidak banyak menemani. Dan Ben, kesepian karena jauh dari keluarganya. Niatnya untuk bertemu sang ayah juga membuat Ben pantang menyerah. Tidak mungkin ia selamanya bersembunyi di dalam museum.

Titik terang mulai ditemui Ben. Satu per satu misteri mimpi yang selalu datang ke dalam tidurnya pun terungkap. Sekaligus menegaskan bahwa pembaca tidak akan menemui serigala betulan yang kemudian mengejar-ngejar Ben atau berubah menjadi werewolf. Jujur, padahal ketika saya memegang buku ini, dan membaca bagian-bagian awal, saya berharap akan ada serigala yang berulah dalam kehidupan manusia. Menangkap mangsanya lalu mencabik-cabik tubuhnya. Tidak seperti itu. Sehingga saya merasa heran, di mana letak fantasinya novel ini?

Salah satu quote dari Oscar Wilde yang diselipkan ke dalam buku ini yang saya tahu artinya tapi kurang mehamami maknanya adalah ini: “We are all in the gutter, but some of us are looking at the stars.” Rupanya, kurang lebih bermakna di saat orang-orang berada di posisi yang terpuruk, manusia punya pilihan apakah hanya akan meratapi nasib atau berusaha untuk bangkit (source).

Secara keseluruhan, novel ini kuat secara risetnya, tapi sayang, saya kurang begitu menikmatinya karena bagian di mana Rose menceritakan tentang dirinya dengan tulisan, adalah bagian paling membosankan. Saya mengharapkan kejutan yang lebih mendebarkan, heroik, bukan dongeng panjang dan satu pihak.

 

Jogja, 21 Januari 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response