Writer and Editor; sebuah Siklus Hubungan Mutualisme

Writer and editor. Ada sebuah siklus umum yang akan terbentuk ketika seorang penulis sudah mengikatkan karyanya pada sebuah penerbitan—indie atau mayor saya rasa kurang lebih sama—di mana pun. Ketika saya masih berposisi sebagai seorang penulis amatiran dan membuat sebuah kamus saku tentang istilah dalam dunia film, yang saya tahu siklus itu kurang lebih sebagai berikut.

Saya punya naskah X, saya kirim ke sebuah penerbit, saya tunggu hingga batas waktu yang dijanjikan, lalu datanglah telepon dari penerbitan itu yang menyatakan bahwa naskah saya diterima dan akan diterbitkan. Sebagai imbalannya, saya akan mendapatkan sejumlah uang muka dengan dipotong pajak dan seterusnya. Surat perjanjian itu saya setujui dengan adanya pembubuhan tanda tangan saya di atas materai, dan silakan menunggu buku terbit. Buku itu terbit di tahun 2009 dengan judul Kamus Istilah Film Populer. Selama proses editing, saya tidak pernah diminta untuk merevisi dan sebagainya. Materinya memang sangat sederhana dan mudah dibawa ke mana-mana.

Beda halnya ketika saya memasuki dunia penerbitan. Awalnya sebagai editor. Yang namanya proses penerimaan naskah, saya buta sama sekali. Proses itu ditangani oleh Pemimpin Redaksi sampai ke tahap pembayaran uang. Lama-kelamaan, saya sedikit demi sedikit tahu apa yang terjadi selama naskah itu diproses menjadi sebuah buku. Semuanya. Prosesnya ternyata sangat berliku dan terkait dengan waktu.

Seorang penulis punya naskah Y, dikirimkan ke redaksi, lalu dibaca oleh tim evaluasi dengan kira-kira sekitar sebulan, untuk dinyatakan diterima atau ditolak. Ada banyak sekali alasan sebuah naskah ditolak:

  1. Naskahnya sudah tidak update (biasanya sih naskah nonfiksi)
  2. Naskahnya sedang tidak diminati pasar (fiksi dan nonfiksi)
  3. Tidak memenuhi format standar naskah yang ditentukan (fiksi dan nonfiksi. Jangan salah ya, kurang halaman pun bisa menjadi alasan untuk jatuhnya vonis penolakan)
  4. Materinya kontroversial (fiksi dan nonfiksi. Gramedia adalah toko buku yang anti dengan buku kontroversi.)
  5. Teknik penulisan sangat acakadut (fiksi dan nonfiksi)
  6. Penulisnya bermasalah (fiksi dan nonfiksi)
  7. Penuh plagiasi (sebagian besar buku nonfiksi)
  8. Lain-lain.

Setelah naskah diterima, berikutnya adalah transaksi jual-beli dengan dikirimkannya surat perjanjian terbit alias MoU. Di tahap ini, penulis baru biasanya iya-iya aja, sementara penulis berjam terbang tinggi bisa saja mengajukan negosiasi. Kalau tidak setuju, masih bisa banget untuk membatalkan naskah tersebut. Lagi-lagi, yang namanya transaksi bisnis itu prinsipnya suka sama suka dong. Setelah menyetujui, tinggal menunggu penjadwalan terbit.

Apa terjadi begitu naskah masuk list segera terbit dua bulan ke depan? Naskah yang tersimpan rapi di dalam komputer Redaktur Pelaksana akan diberikan kepada editor untuk disunting. Tugas seorang editor apa saja? Tugasnya adalah memastikan buku itu memenuhi standar yang sudah dibuat oleh penerbit, mulai dari isi sampai tata tulis. Materi-materi yang cenderung pada hal-hal negatif akan berakhir di tangan editor. Sensitivitas seorang penulis sangat diperlukan dalam hal ini. Sebuah karya yang belum terbit adalah masih milik penulis, tapi ketika sudah beredar ke ranah publik, maka ia menjadi milik publik.

Ada banyak jenis editor, ada yang termasuk tukang sulap ada yang juga berjenis superman. Yang masuk kategori tukang sulap adalah mereka yang:
  • Bisa membuat naskah acakadut menjadi naskah masterpiece dengan kualitas luar biasa. Mereka ini bekerja dengan sangat keras. Sehari bisa saja hanya berhasil mengedit 10-15 halaman. Editor ini biasanya sangat disenangi oleh penulis yang punya naskah kualitas rata-rata karena semua perbaikan dilakukan oleh editor sendiri. Pokoknya terima jadi.
  • Bertipe serius, jarang bicara, mudah menumpahkan unek-unek jika dipancing. Semoga mereka ini masuk surga dengan segala kebaikannya.
  • Jarang berkeliaran di media sosial saking berusaha ingin menyelesaikan naskah yang dihadapi. Semakin cepat selesai maka akan semakin cepat lega walaupun mungkin naskah selanjutnya lagi-lagi acakadut tak tentu rimbanya.
  • Alumni jurusan sains. Percayalah, sains will make your life so serious dan baku. Silakan komen di artikel ini jika tidak setuju. Biasanya mereka sangat mengandalkan logika berpikir, suka hitung-hitungan, dan pemegang aturan yang baik.

Lalu apa kabar dengan editor superman? Mengapa saya sebut superman? Karena mereka tipikal yang bebas, kritis, dan sesekali bisa dibilang malas. Mereka ini:

  • Menyukai naskah-naskah bagus. Bagi mereka, penulislah yang seharusnya memperbaiki kekurangan pada naskah. Saya rasa memang seharusnya begitu, bukan? Mereka tentu saja sebenarnya mau bekerja lebih keras untuk mengubah ini itu, asalkan… nama mereka tertulis di cover depan. Ya sebagai penulis kedua. Tapi saya rasa penulis adalah orang-orang yang tidak mau melakukan hal itu. Maka silakan revisi sendiri naskahnya sesuai permintaan editor. Tidak mau revisi, naskah tidak terbit, royalti tidak dapat, naskah sia-sia. It’s your choice.
  • Mereka senang berbicara, entah di dalam hati, bicara sendiri, atau mengajak orang lain bicara. Kadang sebagai selingan, kadang memang penawar kebosanan.
  • Sering berkeliaran di media sosial, selain untuk mengecek data, juga menjaga eksistensi. Di beberapa perusahaan memang melarang karyawan membuka facebook, twitter, dan sebagainya, di kantor DIVA sah-sah saja. Mau nyambi ngeblog atau jualan MLM pun boleh, asalnya benar-benar sambilan.
  • Alumni jurusan nonsains. Karena selama kuliah dilatih untuk berpikir bebas, maka itu berlanjut ke dunia kerja. Mereka tipe yang susah diatur dan senang bervariasi. Sepanjang itu tidak menimbulkan konflik, saya rasa sih tidak masalah.

Setelah editing, maka naskah masih harus dicek ke bagian proofreader, saya salah satunya. Proofreader ini bisa dibilang pekerjaan yang ringan-ringan susah. Ringan jika memang hasil editing sudah 99% fix, susah jika ternyata ada slip di dalam naskah.

Pengecekan itu ada 2 tahap, ketika masih file Word, lalu dalam file PDF. Saya lebih menyukai pengecekan tahap 1 karena lebih enteng untuk mengubahnya ketimbang harus mencatat bagian yang slip di file PDF. Semua naskah untuk kebaikan di pasar memang perlu dicek oleh pihak selain editor. Percayalah bahwa terkadang ada hal-hal kecil yang masih terlewat dan itu berulang.

Fix dengan naskah dalam setting PDF, maka saatnya proses pencetakan. Saya tidak akan membahas hal ini karena jujur itu di luar pengetahuan saya. Yang pasti, setiap hari pasti ada plat seng yang harus dicek oleh bagian desain sebelum turun ke mesin cetak.

Proses cetak hingga jadi buku bisa dibilang hanya seminggu saja. Tidak begitu lama. Buku kemudian masuk ke bagian sortir, untuk pengecekan buku-buku cacat produksi baru kemudian dikirim ke beberapa pihak. Tinggal tunggu saja buku itu masuk ke toko buku dan sebagainya.

Proses panjang ini pasti akan dilalui penerbit mana pun. Perkara waktu memang tidak mungkin dipukul rata. Pemakaian mesin-mesin cetak berharga miliaran tentu saja kecepatannya berbeda dengan mesin-mesin rumahan. Penulis tidak pernah tahu hal itu kecuali mereka punya kerabat atau bahkan bekerja di sebuah penerbitan. Mereka yang tidak tahu sering dengan mudahnya mengacuhkan editor yang terlalu mengejar-ngejar mereka untuk kebutuhan revisi, padahal untuk menerbitkan sebuah buku saja, butuh penjadwalan paling tidak dua bulan sebelumnya. Meleset dari target, maka dampaknya tentu panjang.

Editor adalah orang yang akan terus berhubungan dengan penulis seputar naskah. Sementara pihak lain hanya sesekali dan benar-benar kuantitasnya sangat jarang, kecuali buku itu diproyeksikan dengan berbagai macam promo besar-besaran yang butuh persiapan matang. Tidak semua buku mendapatkan perlakuan khusus.

Editor tentu punya caranya masing-masing ketika berhubungan dengan penulis, tapi jujur saja, ketika tadi siang saya melihat seorang editor dari penerbit tetangga memposting screenshot email yang akan ia kirim kepada seorang penulis, kok rasanya kurang etis ya? Saya paham, editor menginginkan naskah yang lebih menggigit lalu memberikan saran-saran tertentu, tapi begitu masukan itu dipamerkan ke publik, saya jadi berpikir, apakah dia tidak memikirkan perasaan si penulis? Karena itu sangat pribadi. Apa untungnya sih untuk si editor? Biar terlihat kritis di mata orang sehingga disegani? Saya merasa itu terlalu berlebihan. Bisa saja orang malah memandang sebaliknya, dengan saran-saran yang ia berikan rasanya sudah melanggar batas kreativitas si penulis. Berbeda halnya jika sudah menjadi buku, saya rasa siapa saja berhak menghakimi sebuah karya, mau dipuji-puji atau dimaki-maki, penulis sudah lepas tangan.

Cara editor dan penulis untuk mempertahankan eksistensinya memang akan berbeda. Kalau ingin terkenal lewat karya, caranya memang menjadi penulis bukan editor. Editor anggap saja pekerjaan di balik layar yang orang akan sulit melihat hasil nyatanya dan tulisan tanpa editor apalah jadinya. Kalau tidak suka dengan karya orang, tinggal bikin karya sendiri tanpa harus menjatuhkan karya orang lain kan? Atau ingin menjadi kritikus sastra? Hey, silakan kuliah di jurusan sastra dulu deh sebelum menyebut diri sebagai kritikus. Karena tidak semua kritik sifatnya menjatuhkan sebuah karya. Ada metode dasar kritik sastra yang digunakan hingga memilih pendekatan lanjutannya. Kalau cuma perkara menghina karya seseorang hanya karena tidak satu selera, siapa pun bisa dengan mudah melakukannya.

Kalau definisi karya sastra saja belum tahu pasti, bagaimana bisa mengaplikasikan kritik sastra terhadap sebuah karya sastra?

Ah, Anda ini. Maaf, jika ada yang tersinggung dengan tulisan ini. Sama sekali tidak ada maksud demikian.

 

Jogja, 22 Desember 2014

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response