Yunani (PING, 2014); Novel Astral Projection ke Zaman Yunani Kuno

Yunani (PING, 2014); Novel Astral Projection ke Zaman Yunani Kuno
Yunani (PING, 2014)

Setelah Maya dan Mesopotamia, pembaca kembali diajak memasuki dunia astral dan melihat jauh ke masa lalu kota Athena di Yunani dengan kemegahan arsitektur dan kekayaan budayanya. Athena juga merupakan nama Sang Dewi Pelindung di sana, terasa betul dengan begitu banyaknya patung-patungnya yang berukuran besar sebagai titik pemujaan.

Blue tidak pernah punya firasat apa-apa saat diajak saudara-saudaranya menghabiskan liburan ke Yunani, bahkan keberatan untuk ikut dengan menghabiskan belasan juta hanya untuk membayar tiket pesawat. Tapi saudara-saudaranya berhasil membujuknya ikut dengan mengambil cuti kantor hingga sampailah mereka di negara tujuan. Kedatangan mereka disambut Theo, seorang kenalan yang bersedia menawarkan rumahnya untuk ditempati mereka. Semua berjalan wajar, hingga sebuah kejadian memisahkan Blue dari mereka. Badan blue masih ada, tapi kesadarannya dipertanyakan. Dan tidak ada yang tahu jika roh Blue terisap ke masa lalu, ke masa Acropolis masih utuh dengan segala bangunan yang mengagumkan. Di antara kebingungannya, kehadiran Nyonya Ione setidaknya membuat Blue merasa tenang. Percuma mencari saudara-saudaranya, mereka hilang dari Parthenon. Dengan hidup barunya, Blue berusaha menyesuaikan diri dengan keluarga Ione, termasuk mengakrabkan diri dengan anak-anak Ione, termasuk dengan si ganteng Arkhos.

Lalu apa saja yang disaksikan oleh Blue selama berada terperangkap di #AstralProjection? Tidak kalah menariknya dengan interaksi antara Blue dengan keluarga barunyaPembaca diajak untuk melihat bagaimana tangguhnya armada militer Yunani masa itu, dengan prajurit dan jenderal yang siap melindungi polisnya dengan segenap jiwa raga. Kapal-kapal perang yang membuat musuh bergidik jika berhadapan dengannya Juga dengan opini mereka terhadap orang-orang Sparta yang kebetulan berpapasan dengan mereka.

“Ketika mereka memasuki Zea, terlihat puluhan trireme berlayar di atas air laut biru Aegea yang indah. Di sepanjang dermaga, berdiri bangunan terbuka yang terbuat dari kayu. Hanya bangunan sederhana berupa dinding dan atap kayu. (hlm. 215)

“Kamu lihat para hoplite Sparta itu, Blue? Bukankah mereka memiliki tubuh yang menakjubkan? Dengan tubuh seperti itu, mereka sudah pasti mampu menghancurkan apa pun yang menghalangi mereka.” (hlm. 261)

Salah satu tokoh fisuf terkenal yang sempat muncul sekilas dalam buku ini adalah Socrates. Beruntung juga si Blue bisa bertemu langsung dengannya. Socrates bukanlah tokoh yang tampil dengan keangkuhan, tapi sangat sederhana. Para pemuda menyuai pemikirannya, dan inilah yang membuat kaum aristrokat benci padanya. Salah satu adik dari Arkhos adalah salah satu pengikut Socrates.

“Aku juga tidak tahu banyak tentangnya, kecuali dia seorang pemahat patung seperti ayahnya. Setahuku, dia laki-laki yang baik dan sopan. Dari cerita Demos, Tuan Socrates lebih pandai dan bijak dari kebanyakan orang. Hampir setiap hari Tuan Socrates berkeliling untuk mengajak orangorang
berdiskusi tentang kehidupan. Kalangan pemuda menyukainya, cara berpikirnya. Tapi, sebagian bangsawan tidak menyukai Tuan Socrates karena merasa terganggu oleh isi diskusi-diskusinya.” (hlm. 89)

Tidak ketinggalan, Pythia atau pendeta yang memiliki kemampuan meramal dan duduk di kursi berkaki tiga pun tidak terlupakan diangkat oleh sang penulis di dalam karyanya. Bagi Blue, ini memang sebuah hal yang baru, namun sepertinya ia mulai bisa memahami bahwa seperti itulah keyakinan yang dianut oleh para penduduk Athena yang berbeda dengan keyakinannya di dunia nyata.

“Maafkan aku, Arkhos. Aku berniat pergi sendiri untuk mendapatkan ramalan Pythia tentang keinginanku menjadi prajurit Athena. Karena suatu hal, Theone ikut pergi bersamaku ke Kuil Apollo di Delphi.” (hlm. 254)

Terakhir, tidak kalah menariknya adalah saat pergelaran Festival Panathenaea, di mana para pesertanya tidak mengenakan pakaian sehelai pun. Perlu diketahui, ini bukan semacam aksi bugil tanpa alasan, ini dijelaskan sebagai berikut:

“Para atlet dilatih setiap hari oleh para pelatih profesional yang juga mantan atlet. Mereka dilatih hingga tubuh mereka terpahat sempurna. Dengan tubuh seperti itu, sering kali mereka digunakan sebagai model untuk membuat patung, pahatan, atau seni lainnya.” (hlm. 282)

“Karena itu, para atlet bertanding tanpa mengenakan apa pun untuk menunjukkan keberhasilan mereka mencapai keselarasan batin, tubuh, dan pikiran.” (hlm 283)

Eksplorasi dan riset yang dilakukan penulis di dalam buku ini terasa betul totalitasnya. Rasanya ingin betul masuk ke dunia astral dan melihat Athena dengan wujud sempurnanya. Tapi cukup membuat merinding juga jika tidak bisa kembali ke dunia nyata untuk selamanya.

 

Yogyakarta, 11 Oktober 2014

Leave a Response